Kisah yang Tak Tertangkap Kamera: Impian Penonton Alay Jadi Artis

Oleh: Joan Aurelia - 16 April 2018
Dibaca Normal 7 menit
Bak kisah lazim yang dijual televisi hiburan kita: para penonton punya pengalaman dramatisnya sendiri.
tirto.id - “Kalau tidak joget, keluar!”

Kalimat ini diucapkan seorang pria berkaus hijau neon berjaket jeans. Ia berdiri di depan kursi penonton di dalam studio salah satu stasiun televisi. Raut wajahnya minim senyum. Saya terdiam setelah mendengar teriakannya.

Musik mulai dimainkan. Putri Kaltara, penonton yang berdiri di sebelah saya, segera mengingatkan untuk berjoget. “Harus heboh,” katanya. Hari itu Putri mengenakan blus putih tanpa lengan dengan aksen renda di bagian pundak. Bawahannya celana ketat bermotif kulit macan tutul.

Putri bergoyang sambil tersenyum lebar. Bola matanya bergerak ke arah kamera jimmy Jib dan kamera lain yang menyorot ke arah penonton. Musik semakin keras, gerakan Putri makin menyerupai goyangan memutar pinggul ala Ayu Ting Ting dan Inul Daratista. Saya berusaha untuk bisa berjoget selincah Putri. Sayangnya deretan kursi penonton bukan tempat nyaman untuk menari. Heboh sedikit, sudah senggol kanan-kiri.

Ketika musik berhenti, pembawa acara mulai bicara. Penonton dilarang duduk bila para pembawa acara masih berdiri. Koordinator lapangan, orang yang bertugas mengarahkan tindakan penonton, terus mengingatkan untuk tertawa, tepuk tangan, bersorak “Uuuuuu”, dan melakukan gerakan ikonik penonton talkshow (menjulurkan dua tangan ke depan dan menggerakkan seluruh jari) setelah pembawa acara bercanda atau melawak. Ciri tipikal penonton bayaran macam ini sering disebut penonton "alay"—akronim untuk "anak layangan"; stereotip yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan.

Acara berlangsung selama satu setengah jam dan terbagi menjadi tiga segmen. Penonton punya waktu istirahat saat iklan ditayangkan. Putri memanfaatkan jeda untuk memperbaiki riasan wajah. Buat Putri, makeup itu penting, meski ia tak tahu apakah wajahnya muncul di televisi. Ia juga masih menempati kursi paling belakang dan menerima bayaran Rp25 ribu per acara.


Orang lain yang berdandan dan dianggap cantik oleh koordinator lapangan biasanya duduk di bangku dekat panggung. Bayaran mereka antara Rp50 ribu - Rp75 ribu. Penonton jenis ini tak diteriaki koordinator lapangan. Para koordinator lapangan justru berdiri membelakangi mereka.

Putri tak kecil hati. Sambil menunggu waktu "naik kelas", ia punya cara menambah penghasilan. Pada jeda berikutnya, wanita ini menyapa orang-orang yang baru ia lihat di dalam studio. Ini bukan hal sulit karena selama dua bulan terakhir Putri menjadi penonton tetap acara ini.

Usai kenalan, ia segera mengeluarkan ponsel dan mencatat nomor telepon si kenalan baru agar bisa mengundang ke acara berikutnya. Bila mereka bersedia hadir, Putri akan memasukkan nama mereka dalam daftar absen yang dipegang koordinator lapangan. Dari sana Putri mendapat penghasilan tambahan Rp5 ribu per kepala.


“Saya pernah datengin satu komunitas ke sini. Bisa ratusan. Sebenarnya kayak gini berisiko juga. Kalau tiba-tiba cancel, saya dimaki-maki dan harus cepet cari ganti. Stres, deh,” keluhnya.

Perbincangan saat jeda iklan antara saya dan Putri dilakukan dengan nada suara pelan dan terburu-buru. Satu menit sebelum iklan selesai, kru televisi menyuruh penonton berdiri dan siap-siap joget. Tidak ada yang boleh mengobrol. Ketika musik dimainkan, kamera siap menangkap gerak penonton yang dianggap paling lincah.

“Enak. Joget nih ngilangin stres,” celetuk Putri.

Ia lantas mengajak saya menonton program talkshow yang tayang di malam hari. Masih ada jeda waktu sekitar dua jam. Putri menawarkan untuk menunggu di rumahnya. Kami pun jalan kaki ke perkampungan di belakang gedung stasiun televisi.

Putri tinggal di sebuah kamar bersama dua anak. Anak sulung berusia tujuh tahun, yang bungsu umur lima tahun. Ia harus memberi makan si anak sebelum kembali kerja. Putri menanak nasi dan memasak dua porsi mi instan di sebuah kompor yang ada di samping lemari pakaian.

Ia mempersilakan saya duduk di lantai. Lalu ia menyalakan kipas angin agar kami tak merasa pengap. Apa daya, listrik tak kuat. Lampu berkali-kali mati, tapi Putri enggan mematikan kipas. Ia memilih duduk di dekat meteran listrik dan bolak-balik menaikkan tuas meteran sambil melanjutkan obrolan.


“Juni 2017, saya datang ke Pesbukers pakai kostum kuntilanak. Waktu itu ikut kontes tapi kalah. Terus ditawarin untuk absen ke koordinator lapangan dan dibayar 15 ribu rupiah setiap datang ke acara. Uangnya habis buat ongkos, tapi saya seneng bisa ketemu Ruben Onsu, idola saya. Bisa foto bareng,” katanya. Pesbukers adalah acara hiburan yang tayang setiap sore sejak tahun 2011 di ANTV.

Sejak itu Putri rutin jadi penonton bayaran di beberapa stasiun televisi. Sekarang, dalam sehari, ia mendapatkan Rp50 ribu. Penghasilan ini berbeda jauh bila dibandingkan pendapatan Putri saat berperan sebagai joki 3 in 1. Kini, untuk mencukupi biaya hidup, ia membuka jasa mencuci dan menyeterika baju tetangga.

Sejauh ini Putri menikmati jadi penonton bayaran. Terkadang para artis pembawa acara membagi uang secara cuma-cuma. Ada pula peluang untuk menjadi asisten artis dan gimik acara. Putri berpikir, siapa tahu peluang itu bisa datang padanya.

'Ingin jadi Entertainer' seperti Zaskia Gotik

Putri mengajak saya untuk berangkat ke stasiun televisi lebih awal. Dua anak ditinggal di kamar dengan kondisi pintu terbuka. “Jangan main jauh-jauh. Jaga adik,” katanya pada si sulung.

Kami berjalan cepat. Ada satu penonton bawaan yang harus ditemui. Namanya Ina, usia 19 tahun, bekerja sebagai pengasuh anak. Hari itu Ina libur dan ingin bertemu artis. Ia menghampiri beberapa artis yang dilihat dan meminta foto bersama. Kadang ditolak.


Studio talkshow malam itu memuat 200-an orang. Acara disiarkan secara langsung. Kru mengingatkan penonton untuk tetap heboh.

“Kalau enggak joget, lebih baik nonton di rumah aja,” kata seorang kru.

Malam itu satu penonton yang berdiri di kursi tengah tidak berjoget. Koordinator lapangan membentaknya dan menyuruhnya untuk menyingkir dari tempat duduk. Wanita berkerudung itu dipindahkan ke bangku yang tidak tersorot kamera. Koordinator lapangan segera menegur orang yang membawanya ke dalam acara dan berpesan untuk tidak membawa penonton semacam itu ke dalam studio.

“Sabar, ya. Yang begitu sudah biasa,” kata Sariewie, yang duduk di sebelah saya.

Sariewie adalah ibu rumah tangga yang tinggal di Karawaci, Tangerang. Ia sering datang ke Jakarta Selatan untuk jadi penonton demi "mengisi waktu luang." Honor penonton melebihi ongkos pergi-pulang, tapi ia mengaku senang-senang saja.

Setelah acara, Putri mengajak saya segera keluar studio. Ia ingin lekas mengantre untuk mengambil honor. Lantas ia pulang.

Beberapa penonton masih berdiri di lobi gedung yang sepi agar bisa foto bersama artis yang keluar dari studio. Tyas, salah satunya. Ia jadi penonton bayaran agar punya aktivitas rutin selagi belum mendapat panggilan kerja. “Saya di sini sambil jualan makanan kecil. Untungnya laku. Itung-itung nambah penghasilan,” katanya.


Esok harinya saya berjumpa dengan Putri di acara talkshow di televisi lain. Ia datang bersama dua anaknya. Kami menunggu panggilan masuk di taman dengan pepohonan rindang. Seni, penonton yang menunggu bersama kami, mengungkap harapan untuk jadi artis. Idolanya adalah penyanyi Zaskia Gotik. Ia datang untuk melihat Saskia dan bertegur sapa dengannya.

“Dulu hidupnya susah, sekarang bisa jadi artis. Beberapa teman saya sesama penonton sekarang sudah ada yang dapat panggilan syuting. Saya ingin jadi entertainer. Melihat mereka bikin saya berpikir, ‘There’s nothing impossible in the world’,” kata wanita asal Sukabumi ini.

Dalam satu hari, Seni bisa mendapatkan uang Rp100 ribu. Ia keliling beberapa stasiun televisi dari jam 7 pagi sampai pukul 1 dini hari. “Capeknya terobati saat bertemu artis,” tuturnya.

Pada acara yang kami datangi, honor penonton Rp17 ribu, plus sekotak kudapan. “Di sini itungannya masih layak. Tempat menunggu enak. Di stasiun televisi lain, saya merasa penonton diperlakukan kasar. Dipanggil seperti budak, dibentak pakai nama-nama binatang. Saya sih berharap semua stasiun televisi bisa memperlakukan penonton lebih manusiawi,” kata Seni.


Suara dari Koordinator Penonton

Seorang koordinator, yang saya temui di sebuah acara hiburan televisi, mengaku enggan memaki penonton. “Sebenarnya hati kecil saya menangis. Tapi kalau nggak dibentak, mereka nggak akan gerak,” katanya.

Ia tak ingin namanya disebutkan dalam artikel ini. Ia bilang ia sudah bekerja selama lima tahun sebagai koordinator lapangan. Setiap hari, ia datang ke tiga acara talkshow atau acara musik. Penghasilannya per hari sekitar Rp500 ribu. Dalam seminggu, ia keliling ke beberapa stasiun televisi seperti Trans TV, Net TV, Trans 7, Global TV, MNCTV, SCTV, dan Indosiar.

Di tiap acara, ia merekrut jenis penonton yang berbeda berdasarkan permintaan kru televisi. Kategori ini misalnya mahasiswa, ibu muda, dan anak muda, yang berpenampilan rapi. Ia mengutus beberapa pengerah massa untuk mendapatkan penonton-penonton ini. Dalam satu acara ia butuh 100-250 orang.

Penonton-penonton berwajah cantik, atau biasa disebut grade A, ia tempatkan di kursi depan. Ia memberi mereka honor dua kali lipat dari penonton biasa. Sebelum bekerja sebagai koordinator lapangan, ia sempat mencicipi kursi penonton.

Sepanjang acara, saya melihatnya lebih banyak berdiri dan memerhatikan gerak penonton. Buat dia, pekerjaan ini menyita tenaga dan pikiran.

“Sehari hanya tidur maksimal lima jam. Saya harus buru-buru pindah dari satu stasiun televisi ke stasiun televisi lain. Hujan dan badai diterjang," katanya, dengan pembawaan yang dibuat dramatis, persis seperti acara televisi.

"Kalau saya izin, siapa yang akan mengurus penonton? Saya juga sering berantem dengan penonton dan sering diprotes produser kalau penonton enggak rame,” tambahnya.

Bagaimanapun juga, ia senang menjalani pekerjaan ini. “Uangnya banyak... Saya disuruh ketawa-ketawa dan dibayar.”

Berbeda dari profil penonton bayaran yang saya temui seperti Putri Kaltara maupun Seni, ia tidak ingin menjadi artis, dan hanya ingin agar kru televisi selalu meminta jasanya.

Infografik HL Indepth Penonton Alay

Kisah Maharani

Maharani merasa bangga. Lewat sambungan telepon, ia bercerita bahwa saat ini sudah punya fans bernama Mahawendi. Klub fans ini juga punya akun Instagram, bernama "Mahawendy Loverz". Maharani kerap tampil di acara Kilau DMD, sebuah program pencarian idola penyanyi dangdut yang tayang di MNCTV. Bila kita mengetik namanya di mesin pecari, muncul sejumlah tayangan yang memperlihatkan kebersamaannya dengan Wendi Cagur, salah satu pembawa acara.

Ada pula video joget Maharani yang bikin para pembawa acara heran karena tak kunjung setop. Para artis acara sempat mencurigai Maharani berada di bawah pengaruh minuman keras atau obat-obatan terlarang. “Padahal Maharani joget cuma untuk ilangin stres. Masalah hidup Maharani banyak banget. Enggak nyangka sih bisa diperhatiin orang,” katanya.


Tempat Maharani sekarang di atas panggung, dengan rias wajah dan rambut serta busana pesta. Honor per acara lebih dari Rp100 ribu. Ia pun punya nama panggung: Princess Maharani.

Beberapa bulan terakhir, hidup Maharani berubah cepat. Pada Februari 2018 ia mengikuti audisi Kilau DMD untuk mewujudkan harapan jadi penyanyi tapi gagal. “Sedih banget, ya Allah. Maharani sendiri enggak didampingin keluarga,” katanya, menyebut kata ganti orang pertama tunggal dengan nama dia sendiri.


Kegagalan audisi membuat Maharani tetap jadi penonton bayaran. Ia datang ke Jakarta pada 2016. Tempat pertama yang dituju adalah stasiun televisi. Di sana seorang wanita mengajak Maharani jadi penonton bayaran. Waktu itu penghasilan dalam sehari Rp20 ribu. Ia belum punya tempat tinggal tetap. Busana yang dikenakan untuk menonton adalah pemberian orang-orang.

“Maharani dulu dekil banget,” tambahnya.

Selain jadi penonton, ia rajin ikut audisi kontes menyanyi di stasiun televisi, meski selalu gagal. Pelampiasan kesedihan dengan joget justru jadi sumber rezeki. Awalnya Maharani diminta untuk joget di dekat panggung. Honornya meningkat dari Rp30 ribu menjadi Rp150 ribu. Setelah rutin diminta tampil di panggung, honornya naik lagi.

“Maharani enggak tahu akan jadi apa kalau acara ini selesai nanti. Tapi Maharani mau ikut audisi lagi sampai menang kontes. Jadi penyanyi dan dapat Rp5 juta,” katanya.


Kisah Anabel

Kesempatan tampil di televisi juga dialami Anis, yang memperkenalkan diri sebagai Anabel. Kami berjumpa ketika ia baru selesai syuting. Anabel masih mengenakan busana semi formal, lengkap dengan rias wajah dan rambut yang masih rapi.

Anabel sudah dikontrak untuk jadi pengisi acara talkshow selama enam tahun. Ia diminta berperan sebagai rekan salah satu pembawa acara. Honornya setiap datang ke acara sekitar Rp500 ribu. Ia hadir di tiap acara talkshow. Di akhir pekan, Anabel syuting di luar studio dan mendapat honor antara Rp1 juta - Rp2 juta.

Anabel mengaku bahwa ia dipilih karena semangat berjoget dan sabar melakoni tantangan yang diberikan kru stasiun televisi. Khususnya tantangan yang ditolak oleh pembawa acara talkshow. “Saya mau saja. Enggak pernah marah,” ujarnya.


Anabel pernah mendapat perlakuan yang lebih keras ketimbang tantangan yang diberikan kru televisi. Sebelum jadi penonton bayaran, ia adalah asisten rumah tangga yang tergabung dalam sebuah yayasan di Medan. Di tempat itu Anabel kerap disiksa pemilik yayasan.

“Pernah kepala saya dipukul sampai berdarah-darah. Teman saya disiksa sampai meninggal. Saya lolos karena tetangga lapor polisi setelah saya kirim surat diem-diem,” katanya. Anabel kemudian mencari kerja ke Jakarta. Seorang teman menawarinya untuk jadi penonton bayaran.

Dulu ia sempat dilarang duduk di kursi bagian depan. Kini Anabel punya tempat duduk khusus saat acara. “Saya disayang artis-artis. Mereka baik dan suka memberi saya barang-barang.”

Popularitas Anabel membuat beberapa orang menawarkan diri sebagai manajer. Anabel sempat menerima tawaran tersebut. Tapi relasi mereka tak berjalan mulus. Si manajer mencuri uang Anabel. Akhirnya, ia memilih untuk mengatur sendiri kegiatannya. Agenda rutinnya menghadiri dua talkshow dalam sehari.


Seusai acara, ia tidak perlu mengantre honor. Bila sudah menerima jatah konsumsi, ia bisa pulang. Tempat tinggalnya dekat dengan stasiun televisi, tinggal berjalan kaki kurang dari 10 menit. Bila Anabel lewat, orang-orang di kompleks gedung stasiun televisi kerap menyapanya. Anabel membalas sapaan itu dengan tawa, kedipan mata, dan gaya kiss bye.

Anabel tinggal seorang diri di sebuah kamar ukuran 2x3 meter persegi. Tanpa mesin pendingin ruangan dan televisi. Hanya ada sebuah kasur tanpa seprai dan lemari plastik yang tak bisa terbuka sempurna. Lemari memuat kostum syuting yang ia beli di pasar malam. Bulan depan ia pindah ke kamar yang agak lebih besar.

Ibu satu anak perempuan ini punya PR lain: membuka rekening bank untuk menyimpan uang.

Baca juga artikel terkait TAYANGAN TELEVISI atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight