Menuju konten utama

Di Bawah Lindungan Sinetron

Mengabaikan kualitas dan logika cerita, bisnis sinetron dengan mekanisme kejar tayang telah menguntungkan pelbagai rumah produksi dan stasiun televisi. Kritik bertubi-tubi nyaris angin lalu.

Di Bawah Lindungan Sinetron
Proses syuting sinetron kejar tayang berjudul "Nadin" di Studio Persari, CIganjur, Jakarta. tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - Bagi Raam Punjabi, film adalah dunianya. Ia memang pernah bekerja di dunia tekstil. Tapi film terus memanggilnya. Pada 1967, ia dan dua kakaknya membuat perusahaan importir film bernama Indako. Ia juga mendirikan Panorama Film yang hanya bertahan 5 tahun. Raam turut mendirikan Parkit Film.

Namun, bukan itu yang membuat Raam diingat oleh pemirsa televisi. Hingga 1989, stasiun televisi di Indonesia hanyalah TVRI. Pada 1988, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) mengudara pada 1988, dan diresmikan setahun kemudian. Ia diikuti SCTV (1990), TPI (1991), ANTV (1993), dan Indosiar (1993).

Pelbagai televisi swasta itu kemudian menayangkan film serial mingguan. Di Indonesia, ia disebut sebagai sinetron. Ada setidaknya dua versi tentang asal-usul istilah sinetron. Menurut P. Kitley dalam Television, Nation And Culture In Indonesia (2000), pencetus istilah itu adalah Ishadi SK, Direktur TVRI (1967-1992). Namun, ada pula yang menyebut bahwa Soemardjono, salah satu pendiri dan pengajar di Institut Kesenian Jakarta, adalah orang yang kali pertama mencetuskan frasa ini.

Beberapa judul sinetron kemudian menjadi legendaris, seperti Si Doel Anak Sekolahan. Tayang di RCTI pada 1994, sinetron ini dibintangi oleh Rano Karno sebagai Doel dan Benyamin S. sebagai Sabeni, ayah Doel yang rela banting tulang dan jual tanah supaya Doel bisa sekolah tinggi. Film ini menjadi standar tinggi bagi sinetron Indonesia. Pada 2000, serial ini tamat. Namun, sejak 2007, Si Doel rutin ditayangkan ulang, bahkan hingga hari ini.

Raam datang dan mengubah banyak hal dalam industri sinetron di Indonesia.

Dalam "Regime and Representation: Islam and Indonesian Television" (2013) dan "Mainstream Islam: Television Industry Practice and Trends in Indonesian Sinetron" (2014), Raam disebut sebagai orang pertama yang memulai sistem stripping. Dengan sistem ini, sinetron jadi tayang setiap hari, kali pertama dihadirkan pada bulan Ramadan 1998.

"Alih-alih menayangkan sinetron bertema Islam seminggu sekali seperti sinetron lain, Punjabi mencoba menyiarkan sinetron setiap hari selama bulan Ramadan," tulis Inaya Rakhmani, penulis Mainstream Islam.

Larisnya sinetron harian membuat rumah produksi (PH) bertumbuhan seperti cendawan di musim hujan. Menurut Klarijn Loven dalam Watching Si Doel: Television, Language and Identity in Contemporary Indonesia (2014), hingga pertengahan dekade 1990-an, sinetron Indonesia hanya diproduksi oleh satu perusahaan, yakni PT Tripar Multivision Plus, didirikan Raam Punjabi pada 1988. Perusahaan ini sekarang dikenal MVP Indonesia.

Jumlah PH mulai meningkat sejak 1996. Ada beberapa ratus PH yang didaftarkan di Kementerian Penerangan, meski yang aktif memproduksi sinetron hanya selusin. Saat ini, menurut data yang dikumpulkan situs Casting Indo, ada setidaknya 50 PH skala menengah dan besar di Jakarta. Ada pula yang menyebut angka sekitar 60. Nama-nama besar di jagat PH adalah Sinemart, MD Entertainment, MVP Indonesia, Starvision, MNC Entertainment, Rapi Films, hingga Genta Buana.

Sejak Raam mengenalkan sistem stripping, industri sinetron memang tak pernah sama lagi.

Bisnis Bernilai Fantastis

Christine Natasya dari perusahaan sekuritas Mirae Asset menulis ulasan pendek pada 29 Desember 2016. Ia menulis bahwa SCTV seharusnya membeli Sinemart, rumah produksi yang selama ini menjadi pemasok sinetron bagi RCTI. Menurut Christine, Sinemart adalah produsen pelbagai judul sinetron yang mendapatkan jumlah penonton terbanyak.

Mengutip Media Nusantara Citra (MNC) sebagai pemilik RCTI, Christine menulis bahwa langkah Surya Citra Media (SCM) selaku induk SCTV membeli Sinemart adalah tindakan "putus asa." Valuasi Sinemart diperkirakan mencapai 100 juta dolar AS. Saat itu, dikabarkan SCM akan membeli 80 persen saham Sinemart senilai Rp1 triliun.

Menurut penilaian Christine, langkah pembelian ini justru amat penting bagi SCTV. "Meski harga akuisisi Sinemart akan cukup mahal, kami percaya itu akan menjadi investasi jangka panjang karena Sinemart akan meningkatkan jumlah penonton dan meningkatkan rate card-nya."

Pada Januari 2017, pembelian itu diumumkan: Surya Citra membeli 80 persen saham di Sinemart. Menurut laporan Nikkei, pembelian ini membuat saham MNC drop 9 persen, dan di saat bersamaan saham SCM meningkat jadi 13 persen.

Analis Nikkei mengatakan nilai pembelian Sinemart mencapai Rp500 miliar. Dana Rp500 miliar akan menyusul kalau Sinemart bisa meningkatkan popularitas sinetron di SCTV. Syarat itu bukan hal yang sulit untuk Sinemart. Perusahaan yang berdiri sejak 2003 ini sudah berpengalaman membuat sinetron yang meraup jumlah penonton besar. Sebelum pergi dari RCTI, Sinemart membuat Anak Jalanan, sinetron oplosan Torque dan Fast Furious versi lebih murah.

Pada Januari 2017, rating penonton SCTV berkisar di angka 11,4 persen. Bulan berikutnya, SCTV langsung meluncurkan empat sinetron baru garapan Sinemart: Anak Sekolahan, Anak Langit, Orang-Orang Kampung Duku, dan Berkah Cinta. Peluncuran kombo sinetron ini dibarengi langkah promosi di media sosial. Para aktor dan aktris populer yang bernaung di Sinemart membuat tagar #SayaDiSCTV. Tagar ini semacam pemberitahuan bahwa sinetron produksi Sinemart dan para bintang filmnya sudah pindah kapal.

Peluncuran keempat sinetron ini menuai hasil manis. Menurut Nielsen, jumlah penonton SCTV per 20 Februari melonjak jadi 31,5 persen. Mirae Asset menulis itu adalah kali pertama SCTV berhasil mengungguli RCTI dalam hal audience share sejak 2014. Sinetron Anak Langit, sekuel Anak Jalanan, mendapat audience share paling tinggi, 31,9 persen dan mencapai 32,3 persen sehari setelah tayang.

Dalam kurun 8-14 Mei 2017, SCTV menjadi stasiun televisi dengan pemasukan paling besar, yakni Rp336,3 miliar. Pemasukan ini termasuk dari dua sinetron baru mereka, Anak Langit (Rp47,2 miliar) dan Boy (Rp43,5 miliar). RCTI berada di bawah SCTV dengan pendapatan Rp295 miliar.

Sinetron Menjajah Prime Time

Dalam industri televisi, salah satu istilah yang paling sering muncul adalah prime time, istilah untuk menyebut masa utama tayangan televisi. Kamus Merriam-Webster mengartikan prime time sebagai periode waktu di televisi atau radio yang memiliki jumlah pemirsa terbesar.

Setiap negara punya prime time berbeda. Di Amerika Serikat, jam tayang utama berlangsung pukul 19.00-22.00 dan pukul 20.00-23.00, tergantung zona waktu. Pada 2013, rata-rata 107 juta orang AS menonton di saat prime time. Di Indonesia, jam tayang utama berlangsung sejak pukul 18.00-23.00.

Karena ukuran titimangsa itu paling ramai pemirsa, wajar kalau pengiklan berebutan memasang iklan. Di AS, belanja iklan terbesar kala prime time ada pada segmen sinetron/drama (jumlahnya sekitar 35 persen) dan diikuti tayangan olahraga (29 persen).

Di Indonesia, sebagian besar stasiun televisi memacak sinetron untuk hadir di prime time.

SCTV, misalkan. Stasiun televisi di bawah Emtek Group yang dimiliki pengusaha Eddy Kusnadi Sariaatmadja ini tidak menyia-nyiakan kesempatan usai membeli Sinemart. Tiga sinetron andalan tayang di kala prime time. Dimulai pukul 18.20 dengan sinetron Anak Langit, diikuti oleh Boy, tayangan sempalan (spin-off) dari sinetron Anak Jalanan yang dulu tayang di RCTI, lantas Berkah Cinta yang berakhir pukul 23.45.

Hal serupa di RCTI. Stasiun televisi di bawah grup milik Hary Tanoesoedibjo ini menayangkan Awas Banyak Copet pada pukul 17.15. Diikuti oleh Tukang Ojek Pengkolan dan Dunia Terbalik. Biasanya ada beberapa perubahan jadwal pada akhir pekan. Begitu pula stasiun televisi MNC yang juga dimiliki Hary. Ada 2 sinetron lokal dan 1 opera sabun dari Filipina yang tayang dari pukul 19.30 hingga 22.30.

Menurut Yovantra Arief, peneliti dari pusat studi media dan komunikasi Remotivi, prime time di Indonesia memang lebih banyak diisi oleh sinetron. "Fenomena ini sudah ada sejak 1990-an. Zaman itu Kompas sering meliput hasil rating tiap minggu, dan yang memuncaki tangga rating ya sinetron."

(Baca wawancara kami: "Kita Enggak Punya Banyak Pilihan Sinetron Bagus")

Kenapa sinetron? Jawabannya karena acara ini memang masih digemari oleh sebagian besar orang Indonesia. Rating sinetron selalu tinggi. Ada 8 sinetron dalam daftar 10 besar acara televisi dengan rating tertinggi per 12 Mei 2017; 6 di antaranya tayang di prime time. Yang tertinggi adalah Dunia Terbalik (tayang di RCTI) yang mendapat audience share sebesar 24 persen. Diikuti Tukang Ojek Pengkolan (juga ditayangkan di RCTI) yang mendapat audience share 15,7 persen.

Kombinasi tayangan paling populer dan jam tayang utama ini mendatangkan penghasilan besar. Dari data Adstensity, SCTV menjadi stasiun televisi yang pendapatannya paling besar, Rp336,3 miliar, dalam kurun 8 Mei hingga 14 Mei 2017. Dari tiga sinetron unggulannya saja, SCTV sudah mendapatkan Rp103 miliar dalam satu minggu. Posisi kedua adalah RCTI yang mendapatkan Rp295 miliar dalam kurun yang sama.

Pelbagai produk berlomba untuk bisa memasang iklan di stasiun TV besar di jam tayang utama. Belanja iklan paling besar datang Walls yang merogoh kocek iklan sebesar Rp43,1 miliar. Diikuti XL yang menggelontorkan Rp42,9 miliar. Diikuti Di luar nama-nama itu, kita bisa melihat merek rokok, sandal, pasta gigi, permen, koyo, ponsel, produk perawatan rambut, obat batuk, kosmetik, selai, dan kopi.

Popularitas sinetron yang tayang pada prime time ini berdampak buruk pada stasiun TV yang tidak menayangkan sinetron. "TV One sampai ganti platform. Mereka sekarang menayangkan sinetron karena mereka melihat bahwa berita itu tidak laku," kata Muhamad Heychael, Direktur Remotivi. Kini TV One punya setidaknya 5 sinetron impor dari Turki.

(Baca: Usai Telenovela, Terbitlah Drama India)

Meski TV One sudah berubah haluan, ada beberapa stasiun televisi yang masih teguh tidak menayangkan sinetron, di antaranya TVRI, Kompas TV, dan Metro TV. Konsekuensinya: pendapatan mereka terbilang amat kecil. TVRI, stasiun televisi publik di Indonesia, hanya mendapat Rp2,4 miliar dalam kurun 8 - 14 Mei 2017. Sedangkan Kompas TV mendapatkan Rp21 miliar, dan Metro TV mendapatkan Rp48,3 miliar.

Baca juga ulasan Tirto pada Maret 2017 bahwa bisnis tayangan sinetron menghidupi televisi

Infografik HL Sinetron tiada Mati

Terengah Mengejar Kualitas

Meski sinetron menjadi sumber pendapatan terbesar bagi stasiun televisi, ada banyak kritik yang nyaris tak pernah surut perihal kualitas. Sinetron di Indonesia bersinonim dengan jalan cerita yang tidak logis, akting buruk, plus kondisi yang minim kedekatan intim dengan penonton.

Seringkali muncul pertanyaan: jeleknya sinetron Indonesia ini karena memang penonton menghendaki atau karena selera penonton yang kurang bagus?

Menurut Yovantra Arief, koordinator Divisi Riset dan Media Remotivi, sinetron jelek ada karena terus diproduksi.

"Persoalan sebenarnya adalah standarisasi baik atau buruknya sinetron itu dari mana? Karena KPI punya standar. Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) juga punya standar sendiri, dan stasiun televisi berpatokan pada rating," kata Yovantra.

Hal ini menghasilkan banyak benturan juga keacuhan. Misalkan secara konten. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) beberapa kali mengeluarkan surat peringatan untuk pelbagai judul sinetron.

Ganteng-Ganteng Serigala pernah dihentikan sementara karena 3 kali melanggar berturut-turut. Begitu pula Anak Jalanan yang kena peringatan karena unsur kekerasan. Judul-judul sinetron ini mendapat rating tinggi. Dan logika bisnis ini bikin stasiun televisi cuek saja. Hingga sekarang belum pernah ada sinetron yang dihentikan karena aduan masyarakat atau peringatan dari KPI.

Menurut Yovantra, kunci untuk memperbaiki mutu sinetron adalah meningkatkan nilai produksi (production value). "Konsekuensinya adalah menyudahi praktik stripping," katanya.

Konsep tayangan setiap hari ini memang melelahkan. Penulis naskah harus berjibaku menyetor naskah dalam waktu singkat. Kalau sinetron itu dapat rating bagus, penulis naskah dipaksa membuat cerita meski harus mengorbankan logika cerita.

Menurut catatan Remotivi, dalam seminggu, seorang penulis naskah harus menulis 1 jam tayangan terus-terusan. Beban melelahkan diletakkan juga di bahu sutradara. Yovantra menaksir, satu sutradara memproduksi 1 menit sinetron dalam waktu 8-12 menit.

Melvi Yendra adalah penulis naskah sinetron populer Tukang Ojek Pengkolan (TOP). Awalnya sinetron ini hanya direncanakan tayang selama 30 episode. Tapi ratingnya tinggi, dan membuat RCTI terus memproduksinya. Saat ini TOP sudah sampai pada episode ke 714.

Menurut penuturannya, ada 4 orang dalam tim penulis naskah. Sistem penulisannya gantian. Satu episode digarap satu penulis. Namun, bila tabungan naskah sudah banyak, satu penulis bisa menggarap 3 episode.

"Untuk TOP, kami mengerjakan satu episode naskah dalam 2 hari. Itu mulai dari sinopsis, story line, scene plot, sampai skrip. Dalam seminggu penulis naskah hanya libur satu hari," ujarnya.

Melvi setuju kalau sistem stripping dihilangkan. Ia bahkan berpikiran bahwa sinetron tak perlu berpanjang ria. Menurut perhitungan Melvi, episode ala drama Korea sudah ideal. Maksimal 100 episode. Itu baik untuk semua. Tim kreatif bisa mencari ide cerita yang baru.

Namun, ini perkara susah. Saat ini stasiun televisi terlalu memikirkan rating. Ketika rating program tersebut bagus, stasiun TV akan menayangkan terus. Sepanjang mungkin. Karena itu kita bisa lihat ada sinetron seperti Tukang Bubur Naik Haji yang mencapai 2.185 episode. Dalam kasus seperti itu bahkan tokoh-tokoh awalnya pun sudah tak ada. Cerita berkembang tak keruan.

"Tapi memang dilematis, sih," ujar Melvi, tersenyum. "Karena semakin panjang program, asap dapur lebih lama juga bertahannya."

________

Catatan: Ada yang keliru dalam penulisan pendapatan stasiun televisi dan judul sinetron saat naskah dilansir. Kekeliruan tersebut sudah diperbaiki.

Baca juga artikel terkait SINETRON atau tulisan lainnya dari Nuran Wibisono

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Fahri Salam