Hary Tanoesoedibjo

LahirSurabaya, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, 26 September 1965
Profesi
Karier
  • Pemilik Bakti Investama - (1989-2002)
  • Presiden Direktur Global Mediacom (2002-2016)
  • Ketua Dewan Pakar Partai Nasional Demokrat (2011-2013)
  • Ketua Dewan Pertimbangan Partai Partai Hanura (2013-2015)
  • Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (2015-2016)
Pendidikan
  • SMA St Louis Surabaya (1981-1984)
  • Bachelor of Commerce (Honours) dari Carleton University, Ottawa (1984-1988)
  • Master of Bussines Administration dari Carleton University, Ottawa (1988-1989)

Hary Tanoesoedibjo adalah pengusaha media sekaligus politisi Indonesia.  Dia dikenal sebagai pemilik MNC grup yang menguasai beberapa televisi swasta di Indonesia. Sebagai politisi, dia adalah Ketua UMum dari Partai Pesatuan Indonesia (Perindo). Dia pernah gagal mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden bersama Wiranto dalam Pemilu 2014.

Hary terlahir dari keluarga pengusaha. Dia mewarisi bakat bisnis dari sang ayah, Ahmad Tanoesoedibjo, yang juga seorang pengusaha. Begitu lulus dari SMA St. Louis Surabaya, pada 1983, Hary melanjutkan studinya di Kanada. Tahun 1988 ia menamatkan pendidikannya dengan gelar Bachelor of Commerce (Honours) dari Carleton University, Ottawa. Setahun setelahnya ia mendapat gelar Master of Bussines Administration.
Sejak 1989, Hary mengadu dengan mendirikan PT. Bakti Investama. Perusahaan tersebut lalu mendaftarkan dirinya di bursa efek Jakarta, PT. Bakti Investama berkembang pesat.
Pergerakan bisnis perusahaan tersebut tergolong sederhana. Bakti Investama terjun ke bidang manajemen investasi dengan trik membeli kepemilikan berbagai perusahaan yang hampir kolaps, membenahinya luar dalam hingga bisa menjadi sebuah perusahaan yang tergolong sehat, lalu menjualnya kembali .
Trik tersebut menuai masa keemasannya justru saat kondisi ekonomi Indonesia sedang hampir runtuh di akhir periode 1998. Waktu itu Jakarta sedang bergejolak dengan tuntutan reformasinya, terutama di bidang ekonomi, sebab Indonesia saat itu sedang tergelincir jatuh ke jurang krisis ekonomi atau yang kemudian dikenal masyarakat sebagai krismon atau krisis moneter.
Hary Tanoe melihatnya sebagai peluang empuk, dan pasca tumbangnya Orde Baru, ia memerger dan mengakuisisi banyak perusahaan. Langkah penting dalam kariernya sebagai seorang bussninesman diambil saat ia mengambil alih sebagian saham PT Bimantara Citra Tbk. Ia lalu mengubah namanya menjadi PT. Global Mediacom Tbk. Tahun 2002 ia menjabat sebagai Presiden Direktur Global Mediacom setelah meniti karier sebagai Wakil Presiden Komisaris.
Bermula dari manuver itu, ia makin trengginas. Ia memutuskan terjun ke bidang bisnis media penyiaran dan telekomunikasi. Jabatan sbagai Presiden Direktur beberapa perusahaan media besar tingkat nasional pun segera ia raih. Antara lain PT. Media Nusantara Citra Tbk atau yang kita kenal sebagai MNC di tahun 2002 dan PT. Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sejak tahun 2003. Ia juga menyambar jabatan Komisaris PT. Mobile-8 Telecom Tbk, Indovision, dan lain sebagainya. Perusahan-perusahaan tersebut ia satuan di bawah bendera grup perusahaan Global Mediacom. 
Tak salah ia dijuluki sebagai Raja Media tanah air, sebab kanal-kanal populer yang menghiasi televisi rakyat Indonesia ada di genggaman tangannya. Antara lain adalah RCTI, MNCTV, dan Global TV. Tak hanya menguasai kanal televisi, perusahaannya juga melebarkan sayap di bidang radio dengan mendirikan stasiun radio Trijaya FM, media cetak Harian Seputar Indonesia alias Sindo, majalah ekonomi dan bisnis Trust, serta tabloid remaja Genie.
Hary Tanoe tak puas berjaya sebegai seorang pebisnis. Sadar akan popularitas sosoknya, ia kemudian meniti karier di bidang perpolitikan dalam negeri dengan mula-mula menggabungkan diri ke Partai Nasdem. Sebuah partai politik yang naik daun sejak 2011 sebab sebelumnya berhasil membangun reputasi yang cukup baik sebagai sebuah gerakan bernama Nasional Demokrat (Nasdem) dengan semboyannya Gerakan Perubahan.
Ia menduduki posisi sebagai Ketua Dewan Pakar dan Wakil Ketua Majelis Nasional di Partai Nasdem sejak resmi bergabung pada tanggal 9 Oktober 2011. Partai Nasdem menyasar generasi muda yang diajak untuk turut serta berpolitik untuk membangun negeri. Sesuai penuturannya, ia konsisten dengan visi tersebut dengan menyebutkan angka 70% sebagai porsi anak muda yang menjadi kadernya.
Kariernya ke depan lebih dinamis dan lebih mengejutkan banyak pihak. Setelah hampir tiga tahun membesarkan Partai Nasdem, ia memutuskan untuk mengundurkan diri terhitung sejak tanggal 21 Januari 2013. Motif yang berkembang adalah persoalan perbedaan pendapat dan pandangan mengenai struktur kepengurursan partai. Sebuah keputusan yang disayangkan sebab Partai Nasdem lolos verifikasi KPU dan resmi menjadi partai politik peserta Pemilu 2014 dengan nomor urut 1. Akan kah ia lebih menyesal jika tahu bahwa Partai Nasdem akan jadi salah satu pemenang dengan sosok Jokowi sebagai faktor utama penyebabnya? Mungkin.
Yang jelas ia tak menyerah. Selanjutnya ia mendekati sosok Jenderal (Purnawirawan) Wiranto yang telah mendirikan Partai Hanura atau Hati Nurani Rakyat untuk kemudian bergabung di dalamnya. Keinginan tersebut terwujud sejak tanggal 17 Februari 2013 ia resmi bergabung dengan parpol yang lekat dengan warna oranye tersebut dan langsung menduduki jabatan Ketua Dewan Pertimbangan. Hary sempat dicalonkan menjadi Calon Wakil Presiden berpasangan dengan Wiranto. Belakangan, Hary mendirikan partai baru, Partai Persatuan Indonesia (Perindo) pada 7 Februari 2015. Dimana Hary adalah ketua umumnya.