tirto.id - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tapi juga memengaruhi energi global. Teknologi ini mendorong pertumbuhan industri yang pada akhirnya berdampak pada konsumsi energi lebih besar.
Dilansir dari Bloomberg, perusahaan minyak dan gas asal Inggris, Shell plc, melaporkan dampak perkembangan AI terhadap sistem energi global, termasuk peningkatan permintaan energi dan potensi kenaikan konsumsi minyak dalam beberapa dekade mendatang.
Shell memperkirakan bahwa konsumsi minyak akan meningkat sekitar 3-5 juta barel per hari hingga tahun 2030-an sebelum mencapai puncaknya dan kemudian akan turun secara bertahap.
Sementara itu, permintaan gas alam diprediksi terus naik hingga tahun 2040-an, dan penggunaan petrokimia bahkan diperkirakan bertahan hingga abad ke-22.
Di sisi lain, Shell menyebutkan bahwa penggunaan batu bara sebagai sumber listrik akan berhenti berkembang sebelum 2030, diikuti oleh gas alam di sekitar tahun 2035.
Menariknya, Shell tetap menyoroti dua sisi dari dampak AI. Di satu sisi, AI meningkatkan kebutuhan energi secara signifikan. Di sisi lain, teknologi ini juga berpotensi membantu menekan emisi.
Dengan kata lain, AI tak hanya memicu lonjakan konsumsi energi dunia, tapi juga dapat berperan dalam transformasi menuju sistem energi yang lebih bersih di masa depan.
Bagaimana AI Dorong Lonjakan Permintaan Energi Global

Berdasarkan laporan resmi dari Shell plc dalam The 2026 Energy Security Scenarios, AI dianggap sebagai salah satu pemicu utama lonjakan permintaan energi global di masa depan. Secara garis besar, AI meningkatkan permintaan energi melalui beberapa mekanisme berikut:
1. Pertumbuhan Pusat Data
Seiring dengan kemajuan zaman, AI tidak hanya digunakan di sektor teknologi, tapi juga diadopsi secara luas di berbagai industri seperti manufaktur, transportasi, hingga layanan digital.Implementasi AI dalam skala besar membutuhkan infrastruktur komputasi yang memerlukan energi dalam jumlah besar pula, terutama pada pusat data (data centers) yang memang butuh pasokan listrik tanpa terputus karena harus beroperasi terus-menerus.
2. Peningkatan Produktivitas Ekonomi
Selain kebutuhan langsung dari pusat data, AI juga mendorong peningkatan konsumsi energi secara tidak langsung melalui pertumbuhan ekonomi. Shell menjelaskan bahwa AI mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.Dampaknya, aktivitas ekonomi semakin berkembang sehingga permintaan terhadap energi, baik listrik maupun bahan bakar, ikut meningkat untuk mendukung produksi, distribusi, dan konsumsi yang lebih tinggi.
Dalam skenario "Surge" yang diungkap oleh Shell, pertumbuhan ekonomi yang kuat, bersama dengan infrastruktur AI, mendorong kenaikan permintaan energi hingga 25% pada tahun 2050 dibanding level tahun 2025.
3. Perubahan Gaya Hidup dan Konsumsi
Ekonomi yang tumbuh pesat memicu perubahan sosial dan masyarakat cenderung meningkatkan konsumsi. Perubahan gaya hidup inilah yang berkontribusi pada permintaan energi yang lebih besar.Menurut Shell, sekitar 3 miliar orang (sepertiga populasi dunia) diperkirakan akan mengadopsi gaya hidup berpendapatan lebih tinggi, termasuk dalam hal transportasi hingga penggunaan perangkat elektronik, yang secara otomatis meningkatkan kebutuhan layanan energi.
Kenapa AI Bisa Meningkatkan Konsumsi Minyak?

Menurut laporan dari Shell, peningkatan konsumsi minyak akibat AI tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui beberapa mekanisme ekonomi dan sistem energi yang saling terkait.
1. Peningkatan Produktivitas
AI mendorong pertumbuhan ekonomi global melalui peningkatan produktivitas. Adopsi AI berpotensi meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan mempercepat aktivitas industri serta bisnis.Ketika produktivitas meningkat, output ekonomi ikut naik yang berarti akan ada lebih banyak barang yang diproduksi, lebih banyak transportasi digunakan, dan lebih banyak energi yang dibutuhkan.
Kenaikan aktivitas ekonomi ini secara otomatis meningkatkan permintaan energi, termasuk minyak.
2. Gaya Hidup Modern
Pertumbuhan ekonomi yang dipicu AI juga meningkatkan permintaan layanan energi dan gaya hidup modern. Miliaran orang di dunia akan memasuki kelas menengah ke atas dan mulai mengonsumsi lebih banyak energi, misalnya membeli kendaraan atau melakukan perjalanan udara.Aktivitas seperti transportasi darat, penerbangan, dan pengiriman barang masih sangat bergantung pada bahan bakar minyak. Inilah sebabnya konsumsi minyak tetap naik meskipun teknologi energi terbarukan berkembang.
3. Ekspansi Sektor Industri dan Manufaktur
AI juga akan mempercepat ekspansi di sektor industri dan manufaktur yang pastinya akan membutuhkan energi dalam jumlah besar. AI memungkinkan produksi lebih efisien dan berskala besar melalui otomatisasi dan sistem manufaktur yang jauh lebih canggih.Namun, peningkatan produksi ini justru mendorong konsumsi energi yang lebih banyak. Sampai saat ini, industri masih sangat bergantung pada bahan bakar berbasis minyak sehingga permintaan minyak otomatis melonjak.
4. Energi untuk Pusat Data
AI dan sistem pendukungnya membutuhkan pasokan listrik besar. Meskipun AI tidak menggunakan minyak secara langsung, sumber energi listrik tidak selalu berasal dari energi bersih, bahkan masih banyak pembangkit listrik yang bergantung pada bahan bakar fosil.Maka, AI secara tidak langsung akan memicu peningkatan total kebutuhan energi dan dapat memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, termasuk minyak, terutama di negara yang masih bergantung pada energi konvensional.
Sisi Positif AI: Bisa Bantu Kurangi Emisi

AI tidak hanya mendorong kenaikan permintaan energi, tapi juga memiliki potensi besar untuk mengurangi emisi karbon. Menurut Shell, laju dekarbonisasi global diperkirakan akan semakin cepat dalam beberapa dekade ke depan, dengan AI sebagai salah satu pendorong utamanya.
Teknologi ini akan tertanam di berbagai sektor untuk meningkatkan efisiensi dan menekan emisi. Hal ini akan membantu dunia menghindari kenaikan suhu ekstrem sekitar 3-4 °C.
Ada beberapa peran AI dalam hal ini, misalnya dengan mendorong penggunaan energi bersih dan elektrifikasi. AI akan membantu meningkatkan produksi komponen energi seperti panel surya atau baterai melalui proses manufaktur yang lebih canggih.
AI juga akan berperan dalam pengembangan kendaraan listrik dan sistem transportasi yang lebih efisien. Semua ini pada akhirnya akan mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil ke energi listrik yang lebih bersih sehingga dapat mengurangi emisi karbon.
Selain itu, AI akan berperan dalam inovasi teknologi pengelolaan dan penghilangan karbon. AI dapat mempercepat pengembangan teknologi seperti penyimpanan energi, bahan bakar baru, hingga reaktor nuklir modular kecil yang menjadi kunci dalam menurunkan emisi di masa depan.
Secara keseluruhan, Shell menekankan bahwa kombinasi AI, elektrifikasi, energi terbarukan, serta inovasi dekarbonisasi diyakini mampu menurunkan emisi karbon secara signifikan dengan target emisi nol bersih pada 2050 mendatang.
Bagaimana Masa Depan Energi?

Masa depan energi global diperkirakan akan mengalami transformasi besar yang dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari AI, pertumbuhan populasi, peningkatan standar hidup, perkembangan teknologi, hingga dinamika geopolitik.
Kebutuhan energi secara keseluruhan masih akan meningkat seiring bertambahnya jumlah masyarakat dunia yang mengakses energi untuk transportasi, industri, dan kebutuhan sehari-hari.
Dalam beberapa skenario yang dijelaskan Shell (seperti Horizon, Surge, dan Archipelagos), terlihat bahwa sistem energi akan bergerak menuju kombinasi yang lebih beragam dengan peran energi terbarukan yang semakin dominan.
Solar hingga angin masih diproyeksikan menjadi pilar utama dalam penyediaan listrik. Elektrifikasi juga akan menjadi tren. Berbagai sektor seperti transportasi dan industri yang semakin bergantung pada listrik dibandingkan bahan bakar fosil.
Di sisi lain, energi fosil seperti minyak dan gas masih akan digunakan dalam beberapa dekade ke depan, tapi perannya akan menurun bertahap. Penggunaan minyak nantinya lebih berfokus pada sektor-sektor tertentu seperti petrokimia, penerbangan, dan transportasi jarak jauh.
Peran teknologi juga menjadi faktor kunci dalam membentuk masa depan energi. Teknologi AI, inovasi seperti carbon capture and storage (CCS), serta direct air capture (DAC) akan mempercepat perubahan sistem energi sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon.
Perlu dipahami bahwa seluruh transisi sistem energi ini tidak terjadi secara seragam di semua negara, melainkan berbeda-beda tergantung pada kondisi ekonomi, kebijakan, dan akses teknologi.
Namun, arah umumnya menunjukkan bahwa kombinasi antara energi terbarukan, elektrifikasi, dan teknologi pengelolaan karbon akan menjadi fondasi utama dalam membangun sistem energi global yang lebih berkelanjutan di masa depan.
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































