tirto.id - Harga minyak dunia masih stabil pada level tertingginya dalam setahun terakhir, di tengah terhentinya aktivitas di Selat Hormuz imbas kian memanasnya ketegangan di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent tercatat naik 1,67 dolar atau 2,05 persen ke posisi 83,07 dolar Amerika Serikat (AS) per barel pada perdagangan Kamis (6/3/2026) pukul 01.41 GMT. Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menanjak 1,94 dolar AS ke level 76,60 dolar AS per barel.
Sementara berdasarkan data Investing.com, kontrak berjangka minyak Brent untuk Mei 2026 naik 0,4 persen menjadi 81,68 dolar AS per barel. Sedangkan kontrak berjangka minyak mentah WTI meningkat 0,7 persen menjadi 75,07 dolar AS per barel.
Terus tingginya harga minyak dunia ini disebabkan oleh perang antara AS-Israel dan Iran yang meluas pada Rabu (4/3/2026), setelah serangan AS menghantam kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka dan anggota Partai Republik di Senat Amerika Serikat mendukung kampanye militer Presiden Donald Trump terhadap Iran.
Mereka memilih menentang resolusi bipartisan yang bertujuan untuk menghentikan perang udara dan mengharuskan Kongres untuk mengizinkan permusuhan terhadap Iran.
Di sisi lain, Irak sebagai produsen minyak mentah terbesar kedua di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari karena kurangnya penyimpanan dan rute ekspor.
Pun, Qatar yang merupakan produsen gas alam cair terbesar di Teluk Arab, menyatakan force majeure pada ekspor gas pada hari Rabu. Keputusan tersebut lantas membuat Qatar mengembalikan volume produksi mereka ke situasi normal, setidaknya untuk sebulan ke depan.
Selain itu, pengiriman melalui Selat Hormuz, saluran utama untuk hampir seperlima konsumsi energi global, telah hampir berhenti untuk hari kelima selama perang terhadap Iran dan pembalasan Teheran.
Badan operasi perdagangan maritim Inggris melaporkan, ledakan besar yang terdengar dan terlihat oleh kapten sebuah kapal tanker yang berlabuh 30 mil laut tenggara Mubarak Al Kabeer, Kuwait, dengan sebuah kapal kecil yang kemudian terlihat meninggalkan daerah tersebut.
J.P. Morgan dalam laporannya menilai, Iran telah menahan diri untuk tidak menargetkan infrastruktur energi yang paling penting sambil menjaga risiko pengiriman sangat tinggi. Namun, karena penutupan Selat Hormuz, setidaknya sebanyak 329 kapal minyak terjebak di Teluk.
"Kapasitas penyimpanan di negara-negara Dewan Kerjasama Teluk dan harga energi yang berlaku membatasi faktor-faktor pada lamanya kampanye AS," tulis J.P. Morgan.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































