Menuju konten utama

Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih Dari US$1 Imbas Selat Hormuz

Minyak Brent naik 1,4 persen menjadi 82,53 persen dolar AS per barel, sementara WTI naik 1,1 persen ke posisi 75,37 dolar AS.

Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih Dari US$1 Imbas Selat Hormuz
Aktivitas Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak dunia mengalami kenaikan lebih dari 1 dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (4/3/2026) imbas terganggunya pasokan di Timur Tengah karena eskalasi oleh AS dan Israel terhadap Iran yang semakin panas.

Minyak Brent naik 1,4 persen atau 1,11 dolar AS menjadi 82,53 persen dolar AS per barel setelah mencapai level tertingginya sejak Januari 2025 pada Selasa kemarin.

Di sisi lain, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 79 sen atau 1,1 persen ke posisi 75,37 dolar AS setelah mencapai posisi puncak pada Juni lalu.

Mengutip Reuters, lonjakan harga minyak untuk reli empat hari ini terjadi setelah pasukan Israel dan AS menjatuhkan serangan di seluruh Iran kemarin, yang kemudian mendorong serangan balik Iran terhadap infrastruktur energi di wilayah yang menyumbang hanya di bawah sepertiga dari produksi minyak global.

Selain itu, Iran juga mengancam bakal menembaki kapal-kapal tanker yang melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran dari seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia mengalir.

Namun, setelah Iran menyerang lima kapal, Presiden AS Donald Trump lantas mengeluarkan pernyataan bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz untuk membantu menjaga harga minyak mentah tetap rendah.

Pun, ia juga telah memerintahkan Perusahaan Keuangan Pembangunan Internasional AS untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan untuk perdagangan maritim di Teluk.

Meski begitu, pemilik kapal dan analis mempertanyakan apakah pengawalan militer dan dukungan asuransi sudah cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar.

Sebagai dampak atas penutupan Selat Hormuz, sejumlah negara dan perusahaan minyak dan gas (miga telah mulai mencari rute dan pasokan alternatif.

India dan Indonesia mengatakan mereka sedang mencari pasokan energi lainnya, sementara beberapa kilang Cina menutup atau memindahkan rencana pemeliharaan.

"Raksasa minyak Saudi Aramco sedang berusaha mengalihkan beberapa ekspor melalui Laut Merah untuk menghindari Selat Hormuz," kata sumber dikutip Reuters.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana