Menuju konten utama

Purbaya Jamin Ekonomi RI Kuat Hadapi Ketegangan di Timur Tengah

Purbaya jamin ekonomi RI akan aman dan masih menghitung berapa anggaran yang dibutuhkan untuk menghadapi lonjakan harga minyak dunia.

Purbaya Jamin Ekonomi RI Kuat Hadapi Ketegangan di Timur Tengah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) bersama Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (kanan) dan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) berbincang sebelum menyampaikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Februari 2026 di Jakarta, Senin (23/2/2026). Kementerian Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 mengalami defisit sebesar Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per Januari 2026 namun masih dalam koridor desain APBN 2026. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menilai ekonomi Indonesia cukup tangguh untuk menghadapi tekanan global yang diakibatkan oleh ketegangan di Timur Tengah.

Menurutnya, peningkatan setoran pajak hingga 30 persen lah yang bakal menjadi bantalan bagi ekonomi nasional yang terancam oleh kenaikan harga minyak dunia.

"Kalau analisa kita yang ada sekarang sih, (ekonomi domestik) masih cukup baik. Jadi nggak ada masalah. Karena tax collection (setoran pajak) kita juga membaik, Januari-Februari kan tumbuhnya 30 persen. Itu angka yang signifikan sekali," ujarnya kepada awak media di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026) malam.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, setoran pajak per 31 Januari 2026 mencapai Rp116,2 triliun, atau 4,9 persen dari pagu yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun.

Penerimaan pajak yang dikantongi negara itu tercatat melonjak 30,7 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp88,9 triliun.

Menurut Purbaya, peningkatan setoran pajak ini menunjukkan adanya perbaikan signifikan pada performa penerimaan negara usai sejumlah perbaikan pada Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

"Ada perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku orang-orang, Pajak dan Bea Cukai," tuturnya.

Meski begitu, Purbaya enggan mengungkapkan sampai berapa lama APBN akan bertahan dari tekanan geopolitik di tengah memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Dengan ketegangan yang terus berlanjut, kini Purbaya masih menghitung berapa anggaran yang dibutuhkan untuk menghadapi lonjakan harga minyak dunia. Dengan penghitungan menggunakan simulasi harga minyak di level tertentu dalam setahun, ia berharap APBN masih bisa berfungsi dengan baik sebagai bantalan ekonomi nasional.

"Pokoknya kita hitung simulasi harga minyak level tertentu ya setahun, untuk anggaran setahun ini. Jadi masih bisa di-absorb kalo harga minyak naik," panjut dia.

Namun, jika kondisi semakin tidak terkendali dan harga minyak dunia melonjak terlalu tinggi, Purbaya bakal menghitung ulang berapa anggaran yang dibutuhkan untuk mengatasi lonjakan belanja subsidi energi sebagai imbas ketegangan sejumlah negara di Timur Tengah.

"Kalau terlalu tinggi, tapi kalau ekstrem sekali akan kita hitung ulang," tutup Purbaya.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana