tirto.id - Penjualan kendaraan listrik (electric vehicle) diproyeksikan bakal meningkat di tengah kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto mengatakan, tren ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan kendaraan yang lebih efisien dari sisi bahan bakar, baik itu BEV (Battery Electric Vehicle), PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) dan HEV (Hybrid Electric Vehicle).
"Secara umum, biaya operasi mobil-mobil BEV/HEV/PHEV memang sangat rendah," ujarnya melalui pesan singkat, Selasa (31/3/2026).
Meski demikian, ia belum melihat adanya lonjakan harga di pasar kendaaran listrik, baik baru maupun bekas. Jika pun ada, menurutnya, hal tersebut bukan dipicu kekhawatiran mahalnya harga BBM.
"Belum ada informasi mengenai lonjakan," sebutnya. "Saya rasa peningkatan penjualan bukan karena alasan akan ada kenaikan harga-harga BBM," imbuhnya.
Sementara itu, Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, preferensi masyarakat untuk menggunakan kendaraan listrik tak lagi berkaitan dengan gaya hidup, melainkan pilihan rasional yang didasarkan dengan pertimbangan ekonomis.
Terlebih, untuk masyarakat kelas menengah ke atas yang mampu membeli kendaraan listrik. "Pergeseran minat ke EV tidak lagi bisa dilihat sebagai tren gaya hidup semata, tetapi sudah menjadi bentuk hedging ekonomi yang rasional, khususnya bagi kelas menengah atas," sebutnya.
Ini lantaran penggunaan kendaraan listrik maupu hybrid dapat menghemat biaya operasional hingga sekitar 80 persen, jika dibandingkan dengan biaya operasional kendaraan dengan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine).
"Sementara hybrid mampu memberikan efisiensi sekitar 40 persen-50 persen dibanding mobil konvensional sehingga keduanya menawarkan perlindungan nyata terhadap gejolak harga energi global," urainya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































