Menuju konten utama

Prabowo: Rakyat Pakai Mobil Listrik, Kaya Beli BBM Non-Subsidi

Prabowo targetkan konversi massal ke kendaraan listrik. Pemilik mobil mewah wajib bayar BBM harga dunia tanpa subsidi.

Prabowo: Rakyat Pakai Mobil Listrik, Kaya Beli BBM Non-Subsidi
Warga mengisi daya baterai mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Voltron, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (8/5/2025). Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan sembilan juta kendaraan listrik beredar di dalam negeri pada 2030, dengan jumlah tersebut negara bisa menghemat 14,15 juta barel bahan bakar minyak (BBM) dan memangkas emisi hingga 5,175 juta ton CO2. ANTARA FOTO/Abdan Syakura/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto mencanangkan revolusi energi dengan mewajibkan konversi kendaraan listrik secara nasional mencakup motor, mobil, truk, hingga traktor. Meski mendorong penggunaan listrik secara menyeluruh, Prabowo menegaskan pemilik mobil mewah tetap boleh menggunakan BBM asal siap membayar harga pasar dunia tanpa subsidi.

"The whole plan is semua motor kita akan kita konversi menjadi motor listrik. Semua mobil, semua truk, semua traktor harus tenaga listrik," ujar Presiden dalam program “Presiden Prabowo Menjawab” di kanal YouTube resmi miliknya, dikutip Rabu (25/6/2026).

Terkait pemilik kendaraan mewah yang tetap ingin menggunakan bahan bakar minyak (BBM), Presiden memberikan pengecualian.

Namun, pemerintah akan mencabut subsidi bagi kalangan tersebut dan membebankan harga keekonomian yang setara dengan harga minyak dunia.

“Jadi nanti orang kaya yang punya Lamborghini, Ferrari silakan lu pakai bensin, lu bayar aja harga dunia. Mau USD200 kan, lu orang kaya kok,” tegas Prabowo.

Ia menyebut transisi ini sebagai game changer yang didasarkan pada dua pertimbangan utama.

Pertama, efisiensi ekonomi, di mana penggunaan motor listrik diproyeksikan mampu memangkas pengeluaran rumah tangga hingga 20 persen.

Kedua, aspek lingkungan dengan merujuk pada keberhasilan Tiongkok yang mampu mengeliminasi polusi udara melalui adopsi energi listrik berskala masif.

Presiden menambahkan, ambisi ini juga menyasar sektor ketenagalistrikan.

Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya sebesar 100 gigawatt dalam satu tahun ke depan guna menggantikan peran pembangkit listrik tenaga diesel yang dinilai mahal dan tidak efisien.

"Kita masih punya pembangkit listrik tenaga diesel sebesar 13 GW, ini yang kita tutup. Tidak boleh ada lagi listrik dari diesel, terlalu mahal jadi kita sekira dalam waktu dekat 13 GW bisa kita adakan, very soon kita tidak akan pakai diesel-solar untuk listrik," terangnya.

Baca juga artikel terkait TRANSISI KENDARAAN LISTRIK atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Siti Fatimah