tirto.id - Gelaran Japan Mobility Show 2025 diwarnai sejumlah terobosan yang lumayan bikin geger industri otomotif dunia. Ada mesin dari Isuzu yang bisa menggunakan berbagai jenis bahan bakar, ada truk hidrogen yang dipamerkan oleh Fuso, dan ada pula mobil listrik yang sukses diciptakan oleh perusahaan teknologi hanya dalam sembilan bulan.
Terobosan terakhir disebut bisa dibilang fenomenal. Sebab, perusahaan teknologi yang sukses membuat mobil ini bukanlah perusahaan raksasa seperti Xiaomi, yang juga sudah sukses membuat mobil sendiri. Perusahaan yang dimaksud bernama SCSK Corporation. Jika nama tersebut tidak terdengar familiar, wajar saja, karena lingkup operasional mereka memang hanya di Jepang. Produknya pun tidak "seksi" karena mereka merupakan konsultan sekaligus penyedia infrastruktur digital.
Kendati belum benar-benar berpengalaman menciptakan produk yang secara nyata berwujud dan bisa dinikmati langsung oleh end user, SCSK nyatanya berhasil menciptakan produk otomotifnya sendiri. Memang, tidak semua diproduksi sendiri karena, untuk menciptakan mobil itu, mereka menggandeng sejumlah partner. Akan tetapi, hasil akhirnya tidak bisa dibohongi: satu unit SUV elektrik berhasil dipamerkan di Japan Mobility Show 2025.
Meski fenomenal, secara konseptual, hal yang dilakukan SCSK sama sekali tidak mengejutkan. Bahwasanya mereka bisa menghasilkan mobil hanya dalam sembilan bulan, itu sebenarnya menunjukkan betapa tidak mengejutkannya pencapaian SCSK. Sebab, khususnya untuk kendaraan listrik, perusahaan-perusahaan teknologi sebenarnya sudah memiliki segala modal dari sisi kemampuan untuk menciptakan produk otomotifnya sendiri.
Evolusi Polytron, dari Penguasa Elektronik Jadi Produsen EV
Di Indonesia, itu dibuktikan oleh Polytron. "Tapi, bukankah Polytron terkenal sebagai perusahaan elektronik dan bukan perusahaan teknologi?"
Well, itu betul. Secara umum, Polytron memang lebih dikenal lewat produk-produk elektronik, seperti televisi, mini compo, dan radio. Namun, jangan lupakan pula bahwa mereka sudah mulai berevolusi dari elektronik ke teknologi ketika mencoba peruntungan di dunia ponsel pintar. Walau akhirnya kurang berhasil, hal semacam ini, toh, dilakukan juga oleh perusahaan-perusahaan lain, macam LG, Samsung, dan Sony.
Kendati definisi Polytron sebagai sebuah perusahaan bisa diperdebatkan, yang tidak bisa dibantah adalah portofolionya.
Polytron mengawali segalanya dari Kudus pada 1975. Awalnya mereka menciptakan televisi hitam-putih dengan menggandeng beberapa perusahaan luar negeri. Setelah itu mereka menciptakan produk terbaiknya, yaitu tape compo. Kemudian, mereka mulai mendiversifikasi produk ke barang elektronik lain, seperti dispenser dan mesin cuci. Sampai akhirnya, memasuki era digital, Polytron turut berevolusi menjadi produsen ponsel pintar. Dan kini, pada era kendaraan listrik, mereka ikut ambil bagian.
Hasilnya bisa dibilang luar biasa. Survei pada 2024 menempatkan Polytron di posisi kedua sebagai jenama motor listrik terfavorit. Survei tersebut memang agak "aneh" karena Honda, yang motor listriknya nyaris selangka unit mobil Esemka di jalanan, ada di peringkat pertama. Namun, bagi Polytron, dengan berada di posisi kedua, artinya publik Indonesia sudah mulai mengasosiasikan mereka dengan dunia motor listrik.
Tak cuma bagus di catatan survei, penjualan Polytron pun berjaya. Pada akhir 2024, dua tipe motor listrik Polytron, yakni Fox-R dan Fox-S, menjadi motor listrik subsidi terlaris sepanjang tahun. Keduanya terjual sampai 18.943 unit dan membuat Polytron mengklaim menguasai 30 persen pasar motor listrik subsidi.

Kini, Polytron memiliki tiga tipe motor listrik yang dipasarkan di Indonesia, yakni Fox-350 dan Fox-200 (dua varian "pengganti" Fox-R dan Fox-S) serta Fox-500.
Fox-350 bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp20 juta; Fox-200 dibanderol Rp11 jutaan; sementara Fox-500, yang paling bertenaga dan berbodi bongsor, dihargai Rp38 juta. Semua masih dikover oleh subsidi pemerintah.
Bagi Polytron, subsidi masih menjadi aspek penting dalam penjualan kendaraan listriknya. Sebab, pada awal 2025, ketika keran subsidi kendaraan listrik belum dibuka, penjualan motor listriknya menurun sampai 50 persen. Akan tetapi, bukan hanya Polytron yang mengalaminya karena, secara umum, penjualan kendaraan listrik memang menurun tanpa kejelasan waktu penerapan kembali aturan subsidi.
Menariknya, di tengah seretnya penjualan motor listrik tersebut, Polytron justru meluncurkan mobil listrik dengan tipe G3 dan G3+. Kedua tipe itu dijual dengan harga bervariasi. Untuk skema sewa baterai, mobil dijual dengan harga Rp299 juta dan Rp319 juta. Sementara itu, bagi yang ingin memiliki baterai sepenuhnya, mobil ditawarkan dengan harga Rp419 juta dan Rp459 juta.
Skema sewa baterai atau battery-as-a-service juga diterapkan oleh Polytron untuk motor-motor listriknya. Inilah yang, diklaim oleh Polytron, membuat harga motor listriknya bisa lebih murah. Selain itu, sistem ini lebih menguntungkan konsumen karena mereka selalu bisa mendapat baterai berkondisi baik.
Tak Harus Mandiri Penuh untuk Mencipta Mobil Listrik
Mobil-mobil listrik Polytron tidak dikembangkan sendiri. Perusahaan milik Grup Djarum tersebut menggandeng produsen mobil listrik asal Cina, Skyworth Auto, yang memang belum hadir resmi di Indonesia. Model mobil Polytron pun untuk saat ini masih meminjam model Skyworth EV6 yang berjenis crossover SUV kompak.
Di tengah dominasi jenama Cina, seperti BYD, Geely, dan Aion, sepanjang September dan Oktober 2025, Polytron sukses merangsek ke daftar 10 besar merek mobil listrik terlaris di tanah air. Angka penjualannya memang masih kalah jauh ketimbang BYD yang mencapai ribuan unit. Akan tetapi, Polytron, dalam dua bulan tersebut, sudah mampu menjual 132 unit (29 pada September dan 103 pada Oktober).

Polytron, khususnya untuk ukuran jenama lokal, bisa dibilang sudah sangat sukses di dunia kendaraan listrik. Akan tetapi, tentu saja pekerjaan rumah mereka belum kelar. Salah satunya adalah soal lokasi produksi mobil listriknya.
Untuk motor listrik, Polytron sudah memiliki beberapa pabrik. Ada pabrik litbang di Krapyak, Kudus; pabrik baterai di Sidorekso, Kudus; dan pabrik perakitan akhir di Sayung, Demak. Namun, untuk mobil listrik, Polytron masih menumpang di pabrik milik PT Handal Indonesia Motor (HIM) di Purwakarta, Jawa Barat.
Pabrik milik PT HIM itu bisa dibilang merupakan pusat produksi mobil listrik Cina di Indonesia. Sebab, mereka menangani perakitan berbagai jenama, dari Chery, NETA, hingga JETOUR. Pabrik tersebut sebelumnya merupakan pabrik perakitan mobil-mobil Hyundai.
Polytron bukannya mau terus-terusan menumpang di pabrik milik PT HIM. Mereka sudah mengambil ancang-ancang untuk membangun pabrik mobil listriknya sendiri. Akan tetapi, ketidaksesuaian antara situasi dan target yang dicanangkan membuat rencana itu kemungkinan baru tercapai beberapa tahun mendatang.
Seperti sudah disebutkan sebelumnya, sepanjang September-Oktober 2025, mobil listrik Polytron sudah terjual 132 unit. Sekali lagi, itu angka yang bagus untuk ukuran pemain pemula. Namun, Polytron baru berani membangun pabrik bilamana permintaan yang mereka terima setidaknya sudah mencapai 5.000 unit per tahun.
Polytron paham bahwa angka tersebut merupakan target jangka panjang karena, untuk tahun ini saja, mereka baru berani mematok target penjualan 1.000 unit. Nah, untuk bisa terus meningkatkan angka penjualan, Polytron berencana berfokus pada pengembangan jaringan dealer. Rencananya, sampai akhir 2025, bakal ada delapan dealer mobil listrik Polytron yang dibuka: empat di Jakarta dan sekitarnya, satu di Bandung, satu di Semarang, dan dua di Surabaya.
Artinya, meskipun optimistis, Polytron tetap berhati-hati mengambil langkah. Apalagi, mereka sebenarnya pernah mengalami kegagalan saat berusaha bermain di segmen-segmen baru. Saat menjajal dunia ponsel pintar, misalnya, Polytron tidak bisa dibilang berhasil dan hanya bertahan selama tujuh tahun karena kalah saing dengan produk Cina.
Polytron sudah berencana mengembangkan mobil jenis baru, yaitu multi-purpose van alias MPV berkapasitas tujuh penumpang yang memang sangat populer di Indonesia. Kemungkinan besar, di sinilah nanti kita baru bisa benar-benar menilai kiprah Polytron di dunia kendaraan, khususnya mobil listrik. Jika MPV-nya sukses, Polytron punya kans bermain dalam jangka panjang di jagat mobil listrik tanah air.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































