tirto.id - Fenomena yang disebut sebagai “krisis ojek online” ramai diperbincangkan warganet di media sosial beberapa hari belakangan. Sejumlah pengguna mengeluhkan semakin sulitnya mendapatkan pengemudi ojek online (ojol), terutama pada waktu-waktu tertentu selama Ramadan.
Karen Ginanjar (23), seorang pekerja di Jakarta Selatan, mengaku merasakan langsung situasi tersebut. Kepada Tirto, ia mengatakan kesulitan mendapatkan pengemudi ojol kerap dialaminya ketika hendak berangkat maupun pulang kerja.
"Saya pakai ojol itu kalau mau berangkat kerja. Kantor saya kebetulan di Sudirman, rumah di Karet Belakang. Jarak sebenernya enggak jauh, jadi gampang-gampang aja [mendapatkan ojol]," ucapnya melalui sambungan telepon, Jumat (13/3/2026).
"Tapi belakangan emang saya akuin susah [dapat ojol]," sambung dia.
Untuk menyiasatinya, ia mencoba berbagai cara, mulai dari mengganti aplikasi hingga beralih ke jenis layanan lain.
Ia menilai cara paling efektif adalah memilih layanan premium atau layanan motor listrik. Memesan di lokasi yang lebih sepi juga dianggap membantu.
Karen mengaku pada awal kemunculan fenomena ini ia sempat menunggu lebih dari 30 menit untuk mendapatkan pengemudi. Kini waktu tunggu biasanya sekitar 10 menit. "Jadi, lebih gampang sedikit mencari ojol itu kalau ganti layanan, pokoknya jangan pakai [jenis layanan] yang paling murah karena itu sudah pasti lama. Carinya [pengemudi] juga jangan barengan, cari di tempat-tempat yang sepi," urainya.
Karen mengaku tak mengetahu pasti mengapa fenomena krisis pengemudi ojol terjadi. Namun demikian, menduga krisis pengemudi ojol terjadi lantaran upah yang diterima pengemudi semakin sedikit.
"Mungkin [krisis pengemudi ojol] soalnya bayaran ojolnya dikit ya, jadi banyak potongan dari [nama aplikator]," sebutnya.
Hal senada turut disampaikan Revina Anara (28), selaku pekerja di Jakarta Selatan. Sejak menjari pekerja di Jakarta, Revina hampir setiap hari menggunakan jasa pengemudi ojol untuk bekerja.
Pasalnya, ia mendapatkan potongan harga khusus yang disediakan kantornya saat menggunakan ojol untuk bekerja. Saat tak menggunakan ojol, Revina berangkat kerja menggunakan kendaraan pribadinya.
"Kantor itu ngasi potongan, kayak voucher, kalau saya pakai ojol. Karena saya ngerasa untung ya ada itu, ya saya pakai aja," ucapnya melalui sambungan telepon, Jumat.
Namun sejak awal Maret 2026, Revina juga kesulitan mendapatkan pengemudi. Pengalaman itu ia alami ketika hendak pulang dari kantornya di Jalan TB Simatupang menuju rumahnya di kawasan Ragunan.
Meski menunggu lebih dari 10–15 menit, ia tidak juga mendapat pengemudi. Saat itu ia menduga para pengemudi sedang berbuka puasa dan memutuskan pulang lebih malam.
"Sampai beberapa hari setelahnya, saya cek di Twitter sama IG [Instagram], ternyata ada sebutan buat yang kesusahan cari pengemudi ojol, ya itu yang krisis ojol," ucap Revina.
Setelah mengetahui fenomena tersebut, Revina lebih sering menggunakan kendaraan pribadi.
"Saya abis tahu ada itu [fenomena krisis ojol], sudah enggak pernah buat berangkat atau pulang. Paling pesen [ojol] pas weekend aja," ungkap dia.
Tanggapan Aplikator
Head of Driver Operations Gojek Bambang Adi Wirawan buka suara terhadap isu krisis pengemudi ojol. Bambang berujar, pada periode akhir Ramadhan atau menjelang libur Hari Raya Idul Fitri, Gojek mendapati adanya perubahan pola pemesanan atau lonjakan tingkat permintaan pada jam-jam sibuk. Utamanya, di area bisnis di pusat Jakarta.
"Jam sibuk dimulai lebih awal dibanding hari-hari lainnya di luar bulan Ramadhan, yakni sejak pukul 15.30 hingga mencapai puncaknya pada pukul 16.00-18.00 WIB," tuturnya dalam keterangan yang diterima, Kamis (12/3/2026).
Di sisi lain, kata dia, sebagian mitra driver Gojek yang beroperasi di kota-kota besar ada yang telah pulang kampung atau memilih menghabiskan waktu bersama keluarga masing-masing saat akhir Ramadhan.
Menurut Bambang, berdasar data Gojek tahun 2025, mitra driver kembali beraktivitas secara bertahap dalam 1-2 minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Kembalinya mitra driver beraktivitas dilakukan bersamaan dengan kembali normalnya aktivitas masyarakat setelah periode libur Lebaran.
"Di luar hal-hal tersebut, faktor eksternal seperti cuaca hujan yang menyebabkan genangan di beberapa titik serta berakibat pada kepadatan lalu lintas turut mempengaruhi ketersediaan mitra driver," urainya.
"Dengan demikian, orderan pelanggan di periode ini seringkali membutuhkan waktu tambahan agar dapat diterima oleh mitra," lanjut dia.
Bambang menyatakan, untuk mengantisipasi hal ini, Gojek mengimbau pengguna agar dapat mengalokasikan waktu lebih dalam melakukan proses pemesanan maupun perencanaan perjalanan.
Sementara itu, dari sisi mitra driver, Gojek akan mengimplementasikan skema tarif khusus yang berlaku di periode libur Hari Raya Idul Fitri untuk meningkatkan peluang pendapatan mitra. Terdapat pula insentif atau bonus pendapatan tambahan untuk mitra driver yang telah menyelesaikan jumlah order tertentu.
"Langkah ini penting kami jalankan untuk mengapresiasi mitra driver yang tetap memilih melayani masyarakat di periode libur Hari Raya Idul Fitri," tutur Bambang.
Sementara itu, Director of Mobility, Food, and Logistics Grab Indonesia Tyas Widyastuti menyatakan memang ada reaksi masyarakat terkait waktu tunggu lebih lama di Jabodetabek. Hal ini dinilai karena adanya peningkatan berbagai layanan di Jabodetabek.
Sebab, saat masa Ramadhan terdapat perubahan perilaku konsumen yang terjadi saat menjelang waktu berbuka. Misalnya, permintaan untuk mengirim makanan, layanan ojol biasa, dan layanan pengiriman paket.
"Dalam beberapa waktu terakhir, permintaan terhadap berbagai layanan Grab di Jabodetabek meningkat hingga 35 persen dibandingkan dengan periode normal," tutur Tyas dalam keterangannya, Kamis.
"Kenaikan ini terjadi seiring perubahan pola mobilitas selama Ramadhan, di mana puncak permintaan dari berbagai layanan muncul pada waktu yang hampir bersamaan, terutama pada jam pulang kantor untuk GrabBike, waktu persiapan berbuka puasa untuk GrabFood, serta lonjakan permintaan pengiriman melalui GrabExpress," lanjut dia.
Kata Tyas, jumlah mitra pengemudi Grab tetap stabil saat masa Ramadhan. Namun, jumlah jam kerja mitra disebut lebih pendek selama masa Ramadhan.
Pasalnya, mitra pengemudi Grab disebut mengambil istirahat saat berbuka atau menghindari kepadatan lalu lintas saat sore hari.
"Kondisi cuaca ekstrem yang sempat menyebabkan banjir di sejumlah ruas jalan juga turut berdampak pada kelancaran perjalanan dan waktu penyelesaian order di beberapa area," tutur dia.
Tyas menambahkan, Grab Indonesia mengimbau calon pengguna jasa pengemudi ojol agar memesan layanan lebih awal.
"Kami akan terus memantau dinamika kebutuhan pengguna dan pola aktivitas mitra selama periode Ramadhan dan Idul Fitri," katanya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































