Menuju konten utama

Lapangan Kerja Susah, JK: Sarjana Terpaksa Jadi Ojol-Tukang Sapu

JK sebut minimnya pembukaan lapangan kerja di dalam negeri jadi penyebab sarjana jadi ojol atau tenaga kebersihan.

Lapangan Kerja Susah, JK: Sarjana Terpaksa Jadi Ojol-Tukang Sapu
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-11, Muhammad Jusuf Kalla (JK) di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (10/11/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kondisi pasar kerja yang sulit memaksa banyak lulusan sarjana beralih ke pekerjaan di luar bidang keahliannya, seperti menjadi pengemudi ojek online (ojol) hingga tukang sapu. Fenomena ini diungkapkan oleh mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK).

Dia menjelaskan, minimnya pembukaan lapangan kerja yang ada di dalam negeri menjadi penyebab dari lonjakan sarjana yang bekerja sebagai ojol atau tenaga kebersihan.

“Terpaksa, dan kebanyakan juga yang jadi ojek. 25 persen daripada pengemudi di gojek dan grab itu sarjana. 25 persen," katanya dalam Sarasehan Ekonomi Unhas yang disiarkan daring, dikutip Rabu (17/12/2025).

Namun, berdasarkan pengamatannya, sektor transportasi online juga mengalami penurunan pendapatan yang signifikan. Dari obrolannya dengan pengemudi ojol, pendapatan mereka turun hingga dibandingkan tiga tahun lalu.

“Saya bicara dengan dia (ojol), bagaimana keadaan di sini? Wah, turun 40-50 persen pendapatan dibanding 2-3 tahun yang lalu. Artinya, online juga menurun," ujarnya.

Ia juga menceritakan temuan lain di lapangan. Saat berkunjung ke Jakarta, ia sempat berbincang dengan Gubernur DKI Jakarta. Dalam obrolan itu, dia mendapatkan informasi bahwa banyak sarjana yang menjadi tukang sapu jalan.

"Di Jakarta saya bicara dengan gubernur. Banyak penyapu jalan. Penyapu jalan itu dilaporkan sarjana. Dia hanya kasih ijazah SMP-nya, kemudian baru tahu oh dia sarjana. Begitu. Lapangan kerja masih kurang," ucapnya.

Lebih jauh, JK menyoroti ketimpangan antara jumlah lulusan sarjana yang dihasilkan universitas dengan ketersediaan lapangan kerja. Menurutnya, fokus pendidikan harus dialihkan dari gelar akademik ke pelatihan vokasi.

"Jangan menghasilkan terlalu banyak di sarjana. Lebih baik lebih banyak pelatihan atau apa namanya, vokasi. Lebih banyak pelatihan dibanding dengan sarjana," jelasnya.

Sebagai perbandingan, JK mencontohkan sistem pendidikan di China yang lebih menekankan pada vokasi. Dari jumlah penduduk 1,4 miliar orang, universitas yang ada di Cina hanya sebanyak 2.500.

Sedangkan, di Indonesia dengan jumlah penduduk 280 juta orang, universitas di Tanah Air mencapai 4.500 perguruan tinggi.

“Di Cina penduduknya 1,4 miliar. Universitasnya perguruan tinggi hanya 2.500. Tapi pelatihannya luar biasa di mana-mana... Itu sebenarnya lebih penting daripada sarjana yang begitu banyak," paparnya.

Baca juga artikel terkait JUSUF KALLA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana