tirto.id - Pabrik sepatu milik PT Nikomas Gemilang di Banten, yang memproduksi merek-merek ternama seperti Nike dan Adidas, diketahui terpapar radiasi Cesium-137 (Cs-137). Zat radioaktif ini pun dianggap berbahaya karena bisa menyebabkan masalah kesehatan pada manusia.
Terpaparnya pabrik sepatu di Banten oleh Cesium-137 telah dikonfirmasi oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Kasus ini terungkap setelah otoritas Bea Cukai Belanda mendeteksi radiasi Cs-137 pada sepatu kets asal Indonesia yang paparannya mencapai maksimal 110 nanosievert per jam.
Kasus pabrik sepatu ini bukan satu-satunya kasus paparan Cs-137. Otoritas Amerika Serikat dikabarkan juga menemukan paparan radiasi Cs-137 pada udang beku yang diproduksi oleh PT Bahari Makmur Sejati (BMS) di kawasan industri Modern Cikande Industrial Estate.
Berdasarkan investigasi yang dilakukan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sumber radiasi berasal dari tungku peleburan baja milik PT Peter Metal Technology (PMT).
Pemeriksaan kesehatan pun dilakukan terhadap 1.561 pekerja di PT BMS dan PMT, serta warga sekitar. Dari pemeriksaan ini, ditemukan sembilan orang positif terpapar Cs-137.
Masalah radiasi Cesium-137 ini tentunya langsung jadi sorotan publik, baik dalam dalam maupun luar negeri. Lalu, apa sebenarnya Cesiun-137 dan mengapa dianggap berbahaya?
Apa Itu Cesium-137?

Kasus paparan radiasi yang melibatkan beberapa industri di Indonesia akhir-akhir ini menarik perhatian publik terhadap Cesium-137. Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri sehingga informasi terkait Cs-137 perlu dipahami oleh masyarakat.
Untuk memahami zat radioaktif ini, penting terlebih dahulu mengetahui asal atau latar belakang kemunculan Cesium-137 dalam dunia industri serta bagaimana zat ini dapat berhubungan dengan proses produksi di pabrik-pabrik logam maupun manufaktur.
Asal dan Karakteristik Unsur Cesium-137
Cesium atau sesium (Cs) pertama kali ditemukan pada tahun 1860, oleh R. W. Bunsen dan G. R. Kirchhoff. Mereka menemukan unsur ini menggunakan spektroskop dan diberi nama berdasarkan dua garis biru terang yang khas pada spektrumnya.Cesium adalah logam lunak berwarna putih keperakan yang mencair mendekati suhu kamar, tapi mudah berikatan dengan klorida membentuk bubuk kristal. Bentuk radioaktif cesium yang paling umum adalah Cesium-137 (Cs-137) yang dihasilkan oleh fisi nuklir.
Jadi, Cesium-137 adalah isotop radioaktif hasil fisi nuklir yang banyak ditemukan dari aktivitas reaktor, limbah, hingga insiden kecelakaan nuklir. Zat ini terbentuk secara alami sebagai hasil sampingan proses fisi nuklir bahan radioaktif seperti uranium dan plutonium.
Zat ini kerap digunakan dalam bidang industri dan medis. Meski demikian, pemanfaatannya harus dengan pengawasan ketat. Jika tidak, zat ini dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan karena memancarkan radiasi beta dan gamma yang berpotensi merusak jaringan tubuh.
Cesium-137 bersifat tahan lama karena memiliki waktu paruh sekitar tiga dekade, artinya dibutuhkan sekitar 30 tahun bagi setengah dari zat ini untuk meluruh secara alami.
Dikutip dari laman BRIN, Cs-137 juga mudah larut dalam air sehingga mampu menyebar cepat di lingkungan. Akibatnya, unsur radioaktif ini dapat mencemari udara, tanah, dan sumber air, lalu berpotensi masuk ke rantai makanan dan membahayakan makhluk hidup, termasuk manusia.
Kegunaan Cesium-137 di Dunia Industri dan Medis
Dikutip dari laman CDC, Cesium-137 digunakan dalam berbagai bidang. Dalam jumlah kecil, isotop ini berfungsi untuk kalibrasi peralatan pendeteksi radiasi, seperti penghitung Geiger-Mueller, agar alat tersebut dapat bekerja dengan akurasi tinggi dalam pengukuran radiasi.Sementara dalam skala lebih besar, Cs-137 dimanfaatkan pada alat terapi radiasi medis untuk pengobatan kanker, proses sterilisasi peralatan medis, serta berbagai perangkat industri, seperti pengukur aliran cairan dalam pipa dan alat yang mengukur ketebalan bahan seperti kertas, film fotografi, atau lembaran logam.
Berdasarkan informasi dari Hong Kong Observatory, Cs-137 juga digunakan untuk mengolah makanan, mulai dari membunuh kuman dan mikroorganisme hingga memperpanjang masa simpannya.
Proses ini memiliki efek menghambat perkecambahan sekaligus menunda pematangan. Makanan yang telah diradiasi tidak mengandung aktivitas radioaktif atau residu zat yang beracun.
Namun, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penggunaan Cs-137 harus dalam pengawasan ketat karena zat ini cukup mudah berpindah, seperti larut dalam air sehingga mudah tersebar ke lingkungan.
Mengapa Cesium-137 Bisa Berbahaya?

Di balik manfaat Cesium-137 yang cukup luas, zat ini memiliki potensi risiko yang membuatnya perlu ditangani dengan pengawasan ketat. Risiko ini penting untuk dipahami agar masyarakat mengetahui sejauh mana dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan.
Jenis Radiasi yang Dihasilkan
Cesium-137 memancarkan radiasi gamma, yaitu salah satu bentuk energi elektromagnetik berfrekuensi tinggi yang memiliki daya tembus sangat kuat. Lalu, bagaimana radiasi ini terjadi?Cs-137 bisa mengalami peluruhan beta. Produk peluruhan utama dari Cs-137 adalah Barium-137m (Ba-137m), sebuah isotop metastabil yang segera meluruh lebih lanjut dengan memancarkan radiasi gamma berenergi tinggi. Radiasi gamma inilah yang menjadi perhatian utama dalam paparan Cs-137.
Sifatnya yang merupakan gelombang elektromagnetik berenergi tinggi membuat sinar gamma memiliki daya tembus yang sangat kuat. Ia dapat menembus material padat, termasuk jaringan dan organ tubuh manusia, sehingga dapat menyebabkan kerusakan internal yang signifikan, bahkan dari paparan eksternal.
Radiasi gamma dari Cs-137 memiliki daya tembus yang jauh lebih besar dibandingkan jenis radiasi umum lainnya seperti radiasi alfa maupun beta.
Dilansir dari laman United States Environmental Protection Agency (EPA), radiasi alfa terdiri dari partikel yang sangat berat (dua proton dan dua neutron) dan meskipun memiliki energi tinggi, partikel alfa hanya mampu menembus lapisan kulit yang paling luar.
Maka dari itu paparan eksternal terhadap alfa kurang berbahaya dibanding jika partikel ini masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi atau konsumsi.
Sedangkan radiasi beta berupa elektron cepat dengan daya tembus yang lebih besar dibanding alfa. Beta dapat menembus kulit hingga beberapa lapisan jaringan dan menyebabkan luka bakar radiasi di permukaan kulit, tapi pelindung sederhana seperti pakaian atau lembaran aluminium tipis bisa menghentikannya.
Sementara untuk radiasi gamma jauh lebih menonjol dalam hal penetrasi. Gamma adalah foton tanpa massa ataupun muatan listrik sehingga dapat menembus tubuh manusia. Sinar gamma dapat menimbulkan ionisasi yang akhirnya dapat merusak jaringan dan DNA.
Untuk menahan gamma dibutuhkan pelindung yang sangat tebal seperti beberapa inci logam timbal atau beberapa kaki beton. Dengan demikian, dari segi daya tembus dan risiko kerusakan internal, radiasi gamma dianggap lebih berbahaya.
Dampak Paparan terhadap Tubuh Manusia
Dampak paparan Cesium-137 sangat bergantung pada besarnya dosis radiasi dan lamanya seseorang terpapar zat ini. Dalam kadar rendah atau waktu singkat, efeknya sering kali tidak langsung terlihat, tapi pada paparan tinggi dan berkepanjangan, dampaknya bisa sangat berbahaya.Sebagai informasi, batas aman kandungan Cesium-137 dalam bahan pangan telah ditetapkan sebesar 1.200 becquerel per kilogram (Bq/kg). Jika kadar tersebut terlampaui dan dikonsumsi terus-menerus, risiko gangguan kesehatan akan meningkat secara signifikan karena zat ini menumpuk di dalam tubuh.
Paparan radiasi dari Cesium-137 dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari mual, muntah, kelelahan berat, gangguan pencernaan, hingga penurunan daya tahan tubuh.
Pada kasus yang lebih parah atau terkena paparan dalam jangka panjang, radiasi dapat merusak organ vital seperti hati dan ginjal, menyebabkan mutasi genetik, serta meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker.
Dampak ini menjadi lebih berisiko bagi ibu hamil karena paparan radiasi dapat mengganggu perkembangan janin yang berpotensi menyebabkan kelahiran prematur atau cacat bawaan.
Dampak Lingkungan Akibat Kebocoran Cs-137
Kebocoran Cesium-137 dapat menimbulkan pencemaran serius pada lingkungan. Karena sifatnya yang mudah larut dalam air, Cs-137 dapat menyebar dengan cepat ke sumber air tanah dan sungai.Hal ini dapat menyebabkan paparan radiasi tidak hanya di sekitar lokasi kebocoran, tapi juga di wilayah yang lebih luas. Di udara, partikel radioaktif ini bisa terbawa angin dan mengendap kembali ke permukaan tanah, menciptakan kontaminasi yang sulit dihapus.
Selain mencemari lingkungan, Cs-137 juga berpotensi masuk dalam rantai makanan dan mengalami bioakumulasi, yaitu penumpukan zat radioaktif dalam organisme hidup. Pada akhirnya, zat ini bisa mengontaminasi makanan dan membahayakan kehidupan manusia.
Proses ini membuat dampak lingkungan bersifat jangka panjang dan sulit dikendalikan. Dengan demikian, pengelolaan limbah radioaktif yang mengandung Cs-137 harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah penyebaran radiasi dan melindungi ekosistem dari kerusakan permanen.
Kasus-Kasus Kebocoran Cesium-137 di Dunia dan Indonesia

Cesium-137 telah menjadi perhatian global karena sejumlah insiden kebocoran yang pernah terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Berikut beberapa contohnya:
- 1987, Goiânia, Brasil
- 1989, Kramatorsk, Ukraina
Sepanjang beberapa tahun, dua keluarga tinggal di gedung tersebut dan enam penduduk akhirnya meninggal (empat di antaranya karena leukemia), serta 17 orang lainnya mendapat paparan radiasi.
- 1994, Tammiku, Estonia
- 1998, Acerinox, Spanyol
- 2009, Tongchuan, Shaanxi, Cina
- 2015, University of Tromso, Norwegia
- 2016, Helsinki, Finlandia
- 2023, Australia
- 2023, Thailand
- 2025, Indonesia
Demikian penjelasan terkait Cesium-137 (Cs-137), termasuk bagaimana zat ini terbentuk dan apa bahayanya bagi lingkungan dan manusia. Meski memiliki manfaat di bidang industri maupun medis, penggunaan Cs-137 tetap harus melalui pengawasan yang sangat ketat agar tidak mengontaminasi lingkungan yang bisa menimbulkan dampak bagi kehidupan.
Tertarik dengan berita seputar Cesium-137 atau zat radioaktif lain? Cek selengkapnya di tautan berikut ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id
































