tirto.id - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Indonesia, Arif Havas Oegroseno, menanggapi santai ancaman tarif perdagangan sebesar 32 persen yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Meski kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku usaha, namun pemerintah menegaskan bahwa dampaknya secara global masih dapat dikelola. Terlebi peran AS dalam perdagangan global tidak dominan secara mutlak.
“Tapi yang bisa saya sampaikan adalah bahwa secara umum kan peran AS dalam perdagangan global itu kan hanya 15 persen, yang 85 persen itu kan di luar Amerika Serikat,” kata Arif ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (8/7/2025).
Menurutnya, penting bagi Indonesia untuk melakukan diversifikasi atau melebarkan mitra perdagangan di luar wilayah AS. Lalu, Indonesia juga perlu meningkatkan relasi perdagangan ke pasar Eropa hingga Afrika.
“Jadi, bagi Indonesia tentunya penting untuk harus buat diversifikasi mitra perdagangan. Tidak hanya dengan Amerika, tapi juga dengan pasar yang lama, tradisional market, tapi bisa kita perbaiki lagi seperti Uni Eropa atau pasar-pasar yang baru di Afrika dan di Latin Amerika,” jelasnya.
Dia juga menuturkan pentingnya meningkatkan evaluasi di tingkat Asia Tenggara. Hal ini dalam konteks perdagangan. “Perdagangan di Asia Tenggara untuk dilihat lagi apakah ada barrier yang bisa kita hilangkan atau kita turunkan. Jadi bisa meningkatkan perdagangan,” ucapnya.
Tak kalah penting pemerintah juga perlu mendorong penguatan perdagangan antarprovinsi dan kerja sama lintas wilayah, termasuk dengan negara bagian di negara tetangga seperti Malaysia. Ini perlu sebagai upaya membangun ketahanan ekonomi nasional.
"Itu harus ditingkatkan. Supaya kita bisa menciptakan suatu resiliensi ekonomi, sehingga kita tidak mudah shock kalau ada faktor-faktor eksternal datang dari tempat lain,” ucapnya.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sebelumnya mengumumkan akan mengenakan tarif perdagangan sebesar 32 persen terhadap barang-barang Indonesia yang dikirimkan ke AS per Agustus 2025. Namun, tarif ini terpisah dari tarif sektoral yang sebelumnya telah ditetapkan.
"Mulai 1 Agustus 2025, kami akan mengenakan tarif kepada Indonesia hanya sebesar 32 persen pada setiap dan semua produk Indonesia yang dikirim ke Amerika Serikat, terpisah dari semua tarif sektoral. Barang yang dikirim ulang untuk menghindari tarif yang lebih tinggi akan dikenakan tarif yang lebih tinggi tersebut," tulis Trump dalam surat yang ditujukan untuk Presiden Prabowo Subianto, dikutip Truthsocial, Selasa (8/7/2025).
Gedung Putih menganggap, tarif sebesar 32 persen ini lebih rendah dari yang seharusnya ditetapkan untuk menutup defisit perdagangan antara AS dan Indonesia. Di sisi lain, ada satu cara agar Indonesia tidak dikenakan tarif: perusahaan-perusahaan Indonesia dibangun atau berproduksi di AS.
Sebaliknya, jika Indonesia melakukan tindakan balasan, Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan hingga 32 persen terhadap produk-produk Indonesia. "Harap dipahami bahwa tarif ini diperlukan untuk mengoreksi Kebijakan tarif dan Non tarif Indonesia selama bertahun-tahun, serta Hambatan Perdagangan, yang menyebabkan Defisit Perdagangan yang tidak berkelanjutan terhadap Amerika Serikat," tulisnya.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































