Menuju konten utama
Mozaik

Soeman Hs, Pelopor Kisah Detektif dari Bengkalis

Berkecimpung di dunia sastra menajamkan sikap kritis Soeman, lintas zaman, lintas bidang, dari urusan perjuangan kemerdekaan hingga pendidikan.

Soeman Hs, Pelopor Kisah Detektif dari Bengkalis
HEADER MOZAIK Soeman Hs. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jika membaca buku-buku sastra lama seperti hikayat, terutama cerita Arab klasik, sering ditemukan kata pembuka alkisah, yang dilanjutkan dengan kata maka untuk menyambungnya. Misalnya, “Alkisah, maka terjadilah....” atau “Alkisah, maka tersebutlah....”

“Itu saya tak mau. Apa gunanya? Kami dari Pujangga Baru tak memakainya lagi,” tutur Soeman Hasiboean (kerap ditulis Soeman Hs, Suman Hs, atau Suman Hasibuan).

Soeman Hasiboean merupakan sastrawan Angkatan Balai Pustaka, dikenal sebagai sosok penjembatan antara tradisi Melayu lama dan semangat modern yang mulai menyusup di awal abad ke-20.

Dia seangkatan dengan Hamka, Sutan Takdir Alisjahbana, Sari Amin, dan Abdul Muis. Ia dianggap sebagai pelopor cerita detektif di Nusantara, pendidik, dan birokrat yang jenaka.

Warisan Lebai Wahid dan Dunia Detektif

Soeman Hasiboean lahir pada 1904 di Bengkalis, kota pelabuhan di pesisir Riau. Darah Tapanuli mengalir dalam dirinya, yang lahir dari pasangan Wahid (keturunan raja Mandailing di Tapanuli Selatan) dan Tarumun Pulungan.

Ayahnya adalah orang yang disegani di daerahnya. Di dusun-dusun, Wahid dihormati sebagai guru mengaji hingga akrab disapa lebai (sebutan untuk tokoh agama).

Seturut buku Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan (1994:266), karena ada perselisihan perebutan kedudukan para bangsawan, keluarga Wahid memilih pindah dan menetap di Bantan Tua, Bengkalis.

Malam-malam Soeman kecil diisi lantunan ayat suci dan kisah para saudagar yang kerap singgah di rumahnya. Dari mereka ia mendengar cerita tentang semenanjung Singapura dan Malaya.

Cerita para pedagang itu menyalakan imajinasi Soeman. Ia menyimak dengan takzim kisah kriminal di Singapura, tentang centeng dan samseng yang menguasai jalanan, tentang nyawa manusia yang bisa ditukar dengan uang.

Intrik perampokan dan dunia bawah tanah mengendap dalam benaknya, menjadi sumbu yang kelak meledak dalam novel-novel detektifnya.

“Melalui cerita-cerita itulah, saya mendapat ilham bagaimana keadaan rakyat di sana. Banyak cerita saya kemudian mengarah ke cerita khayal,” terangnya, dikutip dari majalah Tempo, 16 Maret 1991.

Hasrat membacanya terwujud ketika pemerintah kolonial membuka sekolah Melayu, lengkap dengan perpustakaan. Sejak kelas satu pada 1912, ia menjadi pelanggan setia Taman Pustaka. Dengan biaya sewa dua sen per minggu, ia melahap berbagai bacaan.

Yang paling memikatnya bukan syair mendayu, melainkan terjemahan novel Barat, terutama kisah detektif dan petualangan dari Inggris maupun Belanda. Obsesi pada genre detektif membentuk pandangan sastra Soeman.

Jalan hidup Soeman sebagai pengarang mulai terbuka ketika ia lulus ujian calon guru dan dikirim ke Normaal Cursus (setingkat SMP) di Medan pada 1918. Di kota ini ia bertemu Muhammad Kasim, guru sekaligus pengarang kumpulan cerita lucu Teman Doedoek (1936). Beberapa tahun kemudian, gaya Kasim itu menginspirasi karya Soeman lewat kumpulan cerpen berjudul Kawan Bergelut.

Bakat bahasa Soeman makin terasah saat melanjutkan pendidikan ke Normaal School di Langsa, Aceh, pada 1920. Di sana ia dikenal sebagai murid terbaik dalam pelajaran Bahasa Melayu. Di pusat kesultanan yang megah itu, karier kepenulisannya mekar. Di situ pula ia bertemu Siti Hasnah, calon istrinya.

Debutnya, Kasih Tak Terlerai (1930), lahir dari pengamatan sosial di sekelilingnya. Lewat sosok bernama Taram, roman tersebut mengkritik ketidakadilan dalam pengasuhan anak angkat. Taram kerap diperlakukan berbeda dari dua saudaranya. Soeman membalik stigma itu dengan menarasikan bahwa justru anak angkat sering kali tulus membalas budi di masa tua orang tuanya.

Waktu naskah ini diterima Balai Pustaka dengan honorarium 37 gulden, kegembiraan Soeman membuncah.

“Buku pertama itulah yang mendorong saya mengarang buku yang lain. Jadi, saya merasa, dengan buku pertama itu, saya sudah mulai berhasil,” sambung Soeman.

Puncak kreativitasnya meledak lewat Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan (1932). Roman ini membuktikan kepiawaian Soeman meramu intrik detektif Barat dengan latar lokal. Ia menciptakan tokoh Sir Joon, detektif amatir yang cerdik, berusaha memecahkan misteri hilangnya Nona, gadis peranakan Tionghoa yang hendak dinikahi Tairoo. Alih-alih drama adat yang kaku, Soeman menyuguhkan teka-teki, apakah Nona diculik Sir Joon atau justru dilarikan ayah angkatnya demi harta?

“Bengkalis di masa novel Suman masih memperlihatkan sesuatu yang tradisional: ada peran mutlak orang tua dalam menentukan nasib anak gadisnya. Tapi di sana juga pembangkangan terhadap itu tak dianggap sebagai pelanggaran. Jika ini sebuah cerita detektif, ia tanpa kriminalitas,” tutur Goenawan Mohamad, dalam kolom "Catatan Pinggir" majalah Tempo terbitan 1 Mei 2021.

Kejeliannya memilih tokoh dan latar tak lepas dari naluri pasar untuk membidik pembaca di Singapura dan kalangan peranakan Tionghoa di pesisir Sumatra Timur. Strategi ini berbuah manis. Novel tersebut menjadi best-seller, memberinya honorarium 75 gulden—cukup untuk membeli tiga setengah ekor kerbau besar.

Merujuk Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern (2003:235), setiap karangan Soeman berusaha “mendobrak” kekolotan istiadat Melayu. Baginya, kalimat harus efisien, lugas, fungsional.

Kritikus sastra Prof. Dr. A. Teeuw, dinukil dari Suara Pembaruan cetakan 10 Mei 1999, menyebut Soeman sebagai sastrawan produktif. Gaya bahasanya mengalir bagaikan air, penuh variasi, dan sering diwarnai kata-kata humor.

Sastrawan Ajip Rosidi menganggapnya sebagai pelopor cerita-cerita pendek Indonesia bersama-sama dengan Mohammad Kasim. Begitu juga Sutan Takdir Alisyahbana yang menyebutnya sebagai pelopor cerita-cerita detektif Indonesia.

Gesekan Biola yang Berujung Pembuangan

Warsa 1930, bersama rekan-rekan guru, Soeman kerap berkumpul diam-diam di rumah kontrakan di Siak. Seorang guru menggesek biola, nada Indonesia Raya mengalun, sementara Soeman dan kawan-kawan menyanyi dengan suara tertahan. Lagu ciptaan Wage Rudolf Supratman saat itu adalah barang haram, dilarang keras oleh pemerintah kolonial.

Seorang mata-mata pribumi mengintai dari kolong rumah, lalu melaporkan aktivitas “subversif” itu kepada Controleur Belanda. Akibatnya Soeman dipanggil, diinterogasi, dan tak lama kemudian dimutasi ke Pasir Pengaraian—bagi pegawai pemerintah Hindia Belanda, itu adalah tempat pembuangan bagi yang membangkang.

Alih-alih lemah, Soeman justru diangkat menjadi kepala Schakelschool (sekolah desa). Di sana, ia melihat langsung bagaimana kolonialisme bermain licik, memakai tangan raja-raja lokal untuk menindas rakyat lewat kerja paksa.

Meski dalam pembuangan, merujuk biografinya di Media Indonesia edisi 30 Januari 2005, Soeman tetap produktif menulis dan rajin berkorespondensi dengan tokoh sastrawan ternama, seperti Sutan Takdir Alisjahbana, HB Jassin dan Balai Pustaka.

Dalam buku terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Riau (2018:35), antara 1932 dan 1938, Soeman menerbitkan dua novel: Kasih Tersesat, yang diserialkan dalam majalah Pandji Poestaka pada 1932, serta Teboesan Darah terbitan Doenia Pengalaman pada 1939.

Sebagai guru sekaligus sastrawan, nasionalismenya tak diragukan. Ia pernah menjabat Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Daerah. Pernah juga ia menjabat sebagai Komandan Pangkalan Gerilya pada masa Agresi Militer Belanda II pada 1948, padahal ia biasa memegang kapur tulis bukan senjata.

Ia pun mau tak mau harus menggalang kekuatan rakyat dan bekas murid-muridnya untuk bergerilya di hutan.

Pernah satu waktu, karena minim pengalaman militer, ia memerintahkan pembakaran gedung-gedung sekolah dengan logika bumi hangus agar tak dipakai Belanda. Ternyata, tentara Belanda lebih memilih tinggal di tenda darurat.

“Jadi, rugilah kita membakar sekolah karena kita tak tahu taktik perang,” sesalnya.

Membangun dari Reruntuhan

Setelah kedaulatan Indonesia diakui penuh pada 1950, Soeman sudah jarang menulis. Menurut budayawan Hasan Junus, itu karena ia tidak bisa lagi mengikuti alam pikiran pengarang-pengarang baru, yang disebutnya lebih berilmu.

Soeman lantas dipindahkan ke Pekanbaru dan diberi tanggung jawab besar sebagai Kepala Jawatan Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Riau. Tugas pertamanya adalah menebus “dosa” masa perang dengan membangun kembali sekolah-sekolah yang hancur. Dengan dana pemerintah nyaris nol, ia menggerakkan gotong-royong masyarakat. Kayu hutan ditebang swadaya, atap rumbia dianyam bersama, asal anak-anak Riau bisa kembali belajar.

Ketiadaan sekolah menengah atas di seluruh daratan Riau sempat memicu perdebatan panas dengan Menteri Pendidikan, Muhammad Yamin. Pada 1956, saat kunjungan sang menteri ke Pekanbaru, Soeman dengan lantang menyuarakan bahwa Riau minim fasilitas pendidikan.

“Kami di Riau satu keresidenan tidak punya sekolah menengah, mengapa kami dianaktirikan, mohon diberi subsidi sekolah kami ini,” ucap Soeman dalam pidatonya.

Mengutip Suwardi MS dalam buku Suman Hs: Hasil Karya dan Pengabdiannya (1984:51), Yamin murka, menegur keras lewat surat resmi. Protes itu berbuah manis; pemerintah pusat mendirikan SMA Negeri 1 Pekanbaru.

Ambisinya terus mendaki hingga perguruan tinggi. Bekerja sama dengan Gubernur Kaharuddin Nasution pada awal 1960-an, ia membidani lahirnya Universitas Riau (Unri) yang berstatus negeri dan Universitas Islam Riau (UIR) yang swasta.

Di usia lanjut, sikap kritisnya tak pernah tumpul. Ia pernah mengkritik keras kebijakan Gubernur Arifin Achmad, hingga hubungan keduanya tegang. Namun integritas Soeman justru membuat sang gubernur segan.

Hingga akhir hayat, Soeman tetap aktif mengurus yayasan pendidikan dan memberi nasihat perkawinan bagi masyarakat Riau. Ia wafat pada 8 Mei 1999 dalam usia 95 tahun, meninggalkan 6 anak, 21 cucu, dan 28 cicit.

Kiwari, namanya terpahat di Perpustakaan Soeman Hs di Pekanbaru, seakan masih mengajarkan tentang pena, buku, dan ketulusan hati, sebagai senjata terampuh untuk mengubah nasib bangsa.

Baca juga artikel terkait SASTRAWAN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin