tirto.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa telah melakukan percakapan telepon yang ramah dengan Presiden Kolombia, Gustavo Petro, pada Rabu (7/1/2026) waktu setempat.
Ia, bahkan mengundang pemimpin negara Amerika Selatan itu ke Gedung Putih.
"Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk berbicara dengan Presiden Kolombia, Gustavo Petro, yang menelepon untuk menjelaskan situasi narkoba dan perselisihan lain yang kami miliki," tulis Trump di platform media sosialnya seperti diberitakan AP.
"Saya menghargai panggilannya dan nada bicaranya, dan menantikan untuk bertemu dengannya dalam waktu dekat," tambahnya.
Trump menerangkan bahwa pengaturan pertemuan sedang dilakukan di Washington. Namun, ia belum menyampaikan tanggal pertemuan kedua pemimpin.
Di sisi lain, Petro telah mengonfirmasi pembicaraan lewat telepon antara dirinya dan Trump kepada kerumunan di pusat kota Bogotá yang membawa slogan anti-AS pada Rabu.
"Kami telah berbicara melalui telepon untuk pertama kalinya sejak ia [Trump] menjadi presiden," tutur Petro dilansir Reuters.
"Saya membicarakan dua hal: Venezuela dan masalah perdagangan narkoba," tambahnya.
Hubungan Trump dan Gustavo Sempat Memanas
Sikap ramah Trump kepada Petro secara tiba-tiba tersebut terbilang mengejutkan. Hal ini mengingat perseteruan terbaru yang terjadi di antara kedua beberapa waktu terakhir.
Presiden Kolombia menyebut operasi Amerika Serikat di Venezuela sebagai pelanggaran yang menjijikkan terhadap kedaulatan Amerika Latin.
Ia, bahkan menyebut hal tersebut sebanding dengan pengeboman karpet Nazi Jerman di Guernica, Spanyol pada 1937 silam.
Sementara itu, Trump sebelumnya mengatakan bahwa Kolombia sangat sakit. Ia juga menuduh negara tersebut memproduksi kokaina dan menjualnya ke Amerika Serikat.
"Kedengarannya bagus bagiku," tutur Trump saat ditanya wartawan soal kemungkinan intervensi AS ke Kolombia di atas pesawat Air Force One pada Minggu (4/1).
Ketegangan AS dan Kolombia telah menengkan selama berbulan-bulan. Trump memberlakukan sanksi pada Oktober 2025 kepada Petro, keluarga, dan pemerintahannya atas tuduhan keterlibatan dalam perdagangan narkoba global.
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id

































