tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut jika pihaknya dan Pemerintah Venezuela telah mencapai kesepakatan untuk mengekspor 30 hingga 50 juta barel minyak mentah yang sebelumnya terblokir akibat embargo AS atas Venezuela.
Trump menyebut jika kesepakatan itu bernilai hingga US$2 miliar atau sekitar 31 triliun rupiah yang hasil penjualan akan dijual dengan harga pasar, dan pendapatannya akan dikendalikan olehnya untuk kepentingan rakyat Venezuela dan AS.
“Dengan senang hati saya mengumumkan bahwa Otoritas Sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 dan 50 JUTA barel minyak berkualitas tinggi yang telah disetujui kepada Amerika Serikat. Minyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan uang tersebut akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan penggunaannya bermanfaat bagi rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” tulis Trump di akun Truth Social miliknya @realDonaldTrump.
“Saya telah meminta Menteri Energi Chris Wright untuk segera melaksanakan rencana ini. Minyak tersebut akan diangkut dengan kapal penyimpanan, dan dibawa langsung ke dermaga bongkar muat di Amerika Serikat,” lanjutnya.
Kenapa Venezuela Akan Serahkan 50 Juta Barrel Minyak ke AS?
Setelah serangan pasukan AS ke Venezuela yang menyebabkan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores ditangkap dan dibawa ke New York untuk diadili, Donald Trump membuat kesepakatan politik dan ekonomi dengan Pemerintahan Venezuela.
Sebelumnya, Amerika Serikat menerapkan embargo dagang terhadap minyak mentah dari Venezuela di akhir tahun 2025 lalu.
Pemerintah AS, melalui sanksi dan langkah seperti blokade terhadap kapal minyak yang dinilai sanctioned dan larangan ekspor minyak mentah Venezuela ke AS, telah membuat banyak produksi minyak Venezuela terjebak di pelabuhan atau batal dikirim.
Hal ini lantas menyebabkan penurunan drastis ekspor negara itu. Akibatnya, aktivitas pengiriman minyak ke Asia dan negara lain juga terganggu karena risiko sanksi atau penyitaan yang berpengaruh juga pada pendapatan negara karena ekspor minyak mentah adalah pendapatan utama.
Sanksi ekonomi ini diberlakukan AS pada Venezuela sejak rezim Presiden Nicolas Maduro dinilai tidak demokratis.
Seperti diberitakan CNA, minyak Venezuela yang terblokir ini sebelumnya sebagian besar ditujukan ke China, pembeli utama dalam dekade terakhir, dan sekarang dialihkan ke AS.
Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum mengatakan jika kesepakatan ekonomi antara Pemerintah AS dan otoritas sementara Venezuela ini dipandang dapat menguntungkan kedua negara.
"Venezuela sekarang memiliki kesempatan untuk benar-benar mendapatkan modal dan membangun kembali ekonomi mereka serta mengambil keuntungan. Dengan teknologi Amerika, kemitraan Amerika, Venezuela dapat bertransformasi," paparnya.
Venezuela selama ini dikenal sebagai negara yang mempunyai cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, sayangnya negara tersebut merupakan salah satu negara miskin karena sebagian besar penduduk Venezuela hidup di bawah garis kemiskinan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





























