Menuju konten utama

Daftar Pemimpin Dunia yang Ditangkap AS

Amerika Serikat pernah menangkap sejumlah pemimpin dunia. Simak daftar tokoh, alasan penangkapan, hingga kronologinya di sini.

Daftar Pemimpin Dunia yang Ditangkap AS
Seorang tentara Kolombia berjaga di perbatasan dengan Venezuela di Cucuta, Kolombia, pada 3 Januari 2026, setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Foto oleh Raul ARBOLEDA / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Amerika Serikat dikenal sebagai negara adikuasa dengan jangkauan militer dan intelijen yang melampaui batas wilayahnya sendiri. Dalam berbagai dekade, Washington kerap mengambil langkah ekstrem atas nama stabilitas global, pemberantasan narkoba, hingga penegakan demokrasi. Namun, tindakan tersebut tak jarang memicu kontroversi internasional.

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya yang terjadi pada Sabtu, 3 Januari 2026 di Caracas menjadi salah satu contoh terbaru. Aksi ini langsung menuai kecaman luas karena dianggap sebagai bentuk intervensi politik yang mencederai kedaulatan negara berdaulat.

Selain Venezuela, sejarah mencatat sejumlah pemimpin dunia lain yang pernah ditangkap atau diekstradisi ke Amerika Serikat dengan beragam dalih, mulai dari tuduhan narkotika, kejahatan kemanusiaan, hingga ancaman terhadap kepentingan AS.

Lantas, siapa saja daftar pemimpin negara yang pernah ditangkap oleh Amerika? Berikut ulasannya.

Nicolas Maduro

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyapa saat upacara militer di Fuerte Tiuna, Caracas pada 25 November 2025. (Foto oleh Federico PARRA / AFP)

1. Nicolas Maduro

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menjadi salah satu operasi paling kontroversial dalam sejarah hubungan Amerika Serikat dan Amerika Latin pasca-Perang Dingin. Operasi ini bukan hanya menyasar kepala negara aktif, tetapi juga dilakukan langsung di ibu kota negaranya sendiri, Caracas.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh pasukan elit Amerika Serikat dalam sebuah operasi militer rahasia yang diberi nama Operasi Absolute Resolve.

Operasi ini melibatkan pasukan khusus AS, badan intelijen Amerika, serta sejumlah informan internal yang disebut berada di lingkaran pemerintahan Venezuela. Maduro yang berusia 63 tahun ditangkap bersama istrinya.

Penangkapan berlangsung pada Sabtu, 3 Januari 2026, setelah berbulan-bulan pengawasan intensif. Maduro ditangkap di sebuah rumah persembunyian di Caracas, Venezuela.

Presiden AS Donald Trump menuduh Maduro terlibat dalam perdagangan narkoba internasional, terorisme narkoba (narco-terrorism), serta perlindungan terhadap kartel yang beroperasi di kawasan Karibia dan Amerika Selatan. Tuduhan ini telah lama disuarakan AS, meski berulang kali dibantah oleh pemerintah Venezuela.

Dilansir dari laporan media internasional seperti The New York Times dan Reuters, intelijen AS telah memantau aktivitas Maduro selama berbulan-bulan, mulai dari lokasi tidurnya, pola makan, pakaian yang dikenakan, hingga detail kecil lain yang dianggap krusial.

Pasukan elit AS bahkan membangun replika persis rumah persembunyian Maduro untuk latihan penyergapan. Operasi ini dirahasiakan secara ketat tanpa pemberitahuan kepada Kongres AS.

Lebih dari 150 pesawat militer, termasuk pesawat pembom, jet tempur, dan pesawat pengintai dikerahkan pada malam operasi. Ribuan pasukan AS juga telah ditempatkan di sekitar wilayah Venezuela, didukung kapal induk dan puluhan kapal perang—menjadikannya pengerahan militer terbesar AS di kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

Saddam Hussein

Mantan presiden Irak, Saddam Hussein. AP Photo/Scott Nelson.

2. Saddam Hussein

Penangkapan Saddam Hussein menjadi simbol runtuhnya rezim Irak pasca-invasi Amerika Serikat pada tahun 2003. Meski invasi AS ke Irak sejak awal dibenarkan dengan klaim keberadaan senjata pemusnah massal, yang kemudian tidak pernah ditemukan, penangkapan Saddam tetap dianggap sebagai momen krusial dalam sejarah politik Timur Tengah.

Dilansir dari laman BBC, mantan Presiden Irak Saddam Hussein ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat pada 13 Desember 2003 melalui sebuah operasi militer yang diberi nama Operasi Red Dawn, sekitar sembilan bulan setelah pasukan koalisi pimpinan AS menginvasi Irak dan menggulingkan pemerintahannya.

Dalam operasi tersebut, pasukan khusus AS menemukan Saddam bersembunyi di sebuah lubang bawah tanah sempit di dekat kampung halamannya di wilayah Tikrit. Lokasi persembunyian itu dikenal sebagai spider hole, dilengkapi dengan kipas angin dan persediaan makanan seadanya. Penangkapan berlangsung tanpa perlawanan berarti dan segera dikonfirmasi oleh otoritas militer Amerika.

Amerika Serikat menuduh Saddam Hussein memiliki dan mengembangkan senjata pemusnah massal, melakukan pelanggaran hak asasi manusia berat, serta mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah. Meski kemudian terbukti bahwa senjata pemusnah massal tersebut tidak pernah ditemukan, AS tetap menempatkan Saddam sebagai simbol rezim otoriter yang harus diadili.

Setelah ditangkap, Saddam Hussein diserahkan kepada otoritas Irak dan dihadapkan ke Pengadilan Khusus Irak. Ia diadili atas berbagai dakwaan, termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan. Proses peradilan tersebut berlangsung di bawah pengawasan ketat dan menarik perhatian dunia internasional.

Pada akhirnya, Saddam Hussein dinyatakan bersalah dan dieksekusi mati pada tahun 2006, menandai secara resmi berakhirnya era kekuasaannya sekaligus membuka babak baru yang penuh gejolak bagi Irak pasca-invasi Amerika Serikat.

Manuel Noriega

Manuel Noriega. wikimedia/domain publik/The Smoking Gun

3. Manuel Noriega

Penangkapan Manuel Noriega menjadi salah satu contoh paling gamblang bagaimana Amerika Serikat dapat berbalik arah terhadap sekutu lamanya. Noriega, yang pernah menjadi aset intelijen AS di Amerika Tengah, justru berakhir sebagai target utama operasi militer Amerika di Panama.

Pada Desember 1989, Amerika Serikat melancarkan invasi militer ke Panama melalui Operasi Just Cause. Operasi ini bertujuan menangkap Manuel Noriega, penguasa militer Panama, yang dituduh terlibat dalam perdagangan narkoba internasional dan pencucian uang.

Dilansir dari The Guardian dan Washington Post, Noriega sempat berhasil melarikan diri dari serangan awal pasukan AS dan mencari perlindungan di Kedutaan Besar Vatikan (Apostolic Nunciature) di Panama City. Untuk memaksanya keluar, militer AS menggunakan taktik perang psikologis dengan memutar musik rock bervolume sangat keras tanpa henti selama beberapa hari di sekitar gedung kedutaan.

Tekanan militer, diplomatik, serta demonstrasi warga Panama akhirnya membuat Noriega menyerah pada 3 Januari 1990 kepada agen Drug Enforcement Administration (DEA). Ia kemudian diterbangkan ke Miami untuk diadili di pengadilan federal AS.

Manuel Noriega divonis bersalah atas berbagai dakwaan narkotika dan menjalani hukuman penjara selama bertahun-tahun. Setelah sempat dipindahkan ke Prancis dan kembali ke Panama, Noriega meninggal dunia di penjara Panama pada tahun 2017.

 Juan Orlando Hernandez

Presiden Honduras Juan Orlando Hernández menyampaikan pernyataan nasionalnya sebagai bagian dari KTT Pemimpin Dunia Konferensi Perubahan Iklim PBB COP26 di Glasgow, Skotlandia pada 1 November 2021. AFP/ ANDY BUCHANAN / POOL

4. Juan Orlando Hernandez

Kasus Juan Orlando Hernández menunjukkan bahwa mantan kepala negara pun tidak kebal dari jerat hukum internasional, terutama ketika berhadapan dengan sistem peradilan Amerika Serikat.

Mantan Presiden Honduras tersebut ditangkap pada tahun 2022 setelah pemerintah Amerika Serikat mengajukan permintaan ekstradisi resmi melalui Departemen Kehakiman AS. Hernández dituduh terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba berskala besar serta menerima suap dari kartel untuk melindungi jalur distribusi narkotika menuju Amerika Serikat.

Dilansir dari Reuters, penangkapan Hernández dilakukan di kediamannya di Tegucigalpa, ibu kota Honduras. Ratusan aparat kepolisian Honduras, yang bekerja sama dengan agen DEA Amerika Serikat, mengepung rumahnya untuk mencegah kemungkinan perlawanan atau pelarian.

Meski sempat memicu ketegangan di sekitar lokasi, Juan Orlando Hernández akhirnya menyerah secara sukarela tanpa perlawanan. Ia kemudian diekstradisi ke Amerika Serikat untuk menjalani proses hukum.

Kasus ini menjadi sorotan internasional karena Hernández sebelumnya dikenal sebagai sekutu dekat Washington di Amerika Tengah. Kontroversi semakin mencuat ketika pada akhir 2025 muncul kabar bahwa ia mendapat pengampunan politik dari Presiden AS Donald Trump, meski implikasi hukumnya masih menuai perdebatan luas.

Daftar pemimpin dunia yang ditangkap Amerika Serikat menunjukkan betapa besar pengaruh dan kekuatan global yang dimiliki Washington. Namun, di balik dalih penegakan hukum dan stabilitas, tindakan ini kerap memicu perdebatan tajam soal kedaulatan negara, hukum internasional, dan etika politik global.

Jika kamu tertarik membahas isu serupa, mulai dari intervensi militer, konflik geopolitik, hingga skandal internasional lainnya, silahkan baca selengkapnya melalui tautan ini:

Update Berita Internasional Lainnya

Baca juga artikel terkait US VS VENEZUELA atau tulisan lainnya dari Robiatul Kamelia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Robiatul Kamelia
Penulis: Robiatul Kamelia
Editor: Robiatul Kamelia & Yantina Debora