Menuju konten utama

Ekonom: Dampak Serangan AS ke Venezuela bagi RI Relatif Minim

Perdagangan Indonesia-Venezuela tergolong kecil, hanya 0,02 persen dari total ekspor Indonesia.

Ekonom: Dampak Serangan AS ke Venezuela bagi RI Relatif Minim
Foto udara proses bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Kendari New Port, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (4/11/2025). ANTARA FOTO/Andry Denisah/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela yang disertai penangkapan Presiden Nicolas Maduro, secara langsung tidak akan berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

Huda menjelaskan, perdagangan Indonesia-Venezuela tergolong kecil, hanya sekitar 0,02 persen dari total ekspor Indonesia, meskipun pertumbuhan ekspornya hampir dua kali lipat.

“Dengan porsi yang kecil, sebenarnya dampak secara langsung tidak akan signifikan terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, Venezuela bukan mitra dagang dan investasi Indonesia,” ujar Huda saat dihubungi Tirto, Senin (5/1/2025).

Lebih lanjut, Huda menambahkan, dampak terhadap harga minyak global juga relatif minim. Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak yang besar, produksinya relatif kecil sehingga tidak mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Hal ini juga berarti tidak berdampak pada ICP, subsidi migas, maupun APBN Indonesia.

Meski demikian, Huda menilai ada potensi dampak tidak langsung terhadap ekonomi Indonesia, terutama dari sisi geopolitik global yang dapat memanas. Salah satu risiko yang disebutnya adalah meningkatnya ketegangan China-Taiwan, yang berpotensi memperburuk kondisi perdagangan global.

“Ketika kondisi global memburuk, maka akan merembet ke berbagai sektor. Perdagangan, harga minyak global, dan sebagainya aman bergejolak. Saat itu, pemerintah perlu waspada,” ujarnya.

Dalam kondisi ini, Huda menilai Indonesia Indonesia harus menghindari dari konflik secara langsung dengan mengedepankan politik non-blok. Dengan menghindar dari konflik secara langsung, bisa membuat ekonomi domestik masih bisa aman.

Pemerintah juga dinilai perlu membangun kekuatan poros global negara berkembang untuk mempengaruhi kebijakan luar negeri negara maju.

“Selama ini, negara maju seperti US menunjukkan kedigdayaannya namun mengesampingkan kepentingan negara berkembang,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa AS akan mengambil alih kendali sementara atas Venezuela. Tindakan ini dilakukan menyusul pasukan AS yang menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam konferensi pers yang digelar di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida pada hari yang sama. Trump mengatakan AS akan menjalankan pemerintahan Venezuela hingga memungkinkan terwujudnya proses transisi yang dinilai aman dan terukur.

“Kami akan menjalankan negara ini sampai tiba saatnya dilakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Kami tidak bisa mengambil risiko jika Venezuela diambil alih oleh pihak lain yang tidak memikirkan kepentingan rakyat Venezuela,” ujar Trump, dikutip dari Reuters, Minggu (4/1/2026).

Sebagai bagian dari pengambilalihan tersebut, Trump menyebut sejumlah perusahaan minyak besar AS akan masuk ke Venezuela untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang telah mengalami kerusakan parah.

Sebagai informasi, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai sekitar 17 persen dari total cadangan global atau 303 miliar barel.

Baca juga artikel terkait PERDAGANGAN INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Insider
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Siti Fatimah