tirto.id - Amerika Serikat melakukan operasi militer berskala besar di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Operasi yang diberi sandi Operation Absolute Resolve itu dimulai sebelum pukul 02.00 malam waktu setempat.
Lebih dari 150 pesawat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dikerahkan untuk melancarkan serangan udara di wilayah utara Venezuela serta memberikan dukungan bagi helikopter pasukan penangkap yang mendarat di ibu kota Caracas.
Pejabat AS menyatakan Maduro dan istrinya diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan federal terkait kasus perdagangan narkoba dan pelanggaran senjata api.
Letak Venezuela dan di Mana Serangan Terjadi?
Negara Venezuela terletak di bagian utara benua Amerika Selatan, berbatasan dengan Guyana, Brasil, dan Kolombia.
Ibu kota Venezuela sekaligus kota terbesarnya adalah Caracas, yang berada di kawasan pegunungan dekat pesisir utara Laut Karibia.

Serangan AS menyasar sejumlah lokasi di Venezuela. Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengatakan operasi berlangsung selama sekitar 2,5 jam dan melibatkan lebih dari 150 pesawat serta personel dari pasukan khusus dan badan intelijen AS.

Ia menuturkan, intelijen AS bekerja berbulan-bulan untuk melacak pergerakan, rutinitas, dan lokasi Maduro sebelum operasi dilaksanakan.
Menurut pejabat AS dan laporan media, sebagian besar serangan terjadi di Caracas, ibu kota Venezuela, tempat Maduro dan istrinya ditangkap di sebuah kediaman dengan pengamanan ketat.
Sejumlah laporan di media sosial menyebutkan adanya ledakan dan aktivitas militer intens di bagian lain kota tersebut, namun informasi itu belum dapat diverifikasi.
Tim menggunakan helikopter untuk membawa Maduro dan istrinya ke kapal militer USS Iwo Jima yang berada di lepas pantai, sebelum diterbangkan ke New York, seperti dilaporkan USA Today.
Sebelum operasi penangkapan presiden ini dilakukan, AS telah menyerang kapal-kapal di kawasan Karibia dan Pasifik yang diduga membawa narkoba.
USA Today melaporkan sedikitnya 32 serangan telah terjadi sejak September, dengan lebih dari 100 orang dilaporkan tewas.
Pemerintahan Presiden Donald Trump menyatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membongkar jaringan narkoba yang diklaim dijalankan dengan bantuan Maduro, termasuk kelompok yang disebut “Cartel de los Soles.”
Maduro membantah tuduhan tersebut dan menyebut tindakan AS sebagai dalih untuk merebut kendali atas sumber daya minyak Venezuela.
Kondisi Terkini Venezuela
Presiden Trump mengatakan AS akan “mengelola” Venezuela untuk sementara waktu hingga terjadi “transisi yang aman dan tepat,” serta menyarankan perusahaan minyak Amerika akan memperluas operasinya di negara tersebut.
Sementara itu, pemerintah Venezuela telah menetapkan status darurat nasional. Wakil Presiden Delcy Rodriguez tampil di televisi pemerintah untuk menegaskan bahwa Maduro merupakan satu-satunya presiden Venezuela.
Rodriguez, yang saat ini menjabat sebagai pemimpin sementara setelah penangkapan Maduro, menyatakan bahwa Venezuela menginginkan “perdamaian dan hidup berdampingan secara damai.”
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Minggu malam, Rodriguez mengatakan negaranya ingin hidup tanpa ancaman eksternal, dalam suasana saling menghormati dan kerja sama internasional.
“Kami meyakini bahwa perdamaian global dibangun dengan terlebih dahulu menjamin perdamaian di setiap negara,” ujarnya, dikutip CBS News.
Rodríguez juga menyampaikan harapannya untuk menjalin hubungan yang “seimbang dan saling menghormati” dengan Amerika Serikat, yang didasarkan pada prinsip kesetaraan kedaulatan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan langsung kepada Presiden AS Donald Trump, dengan mengatakan, “Rakyat kami dan kawasan ini berhak atas perdamaian dan dialog, bukan perang.”
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id


































