tirto.id - Pesawat buatan Indonesia, CN235, dilaporkan jadi salah satu pesawat yang digunakan dalam serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) lalu. Cek info dan spesifikasinya berikut.
Menukil ABC News, Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menuturkan bahwa operasi penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, melibatkan pengerahan lebih dari 150 pesawat.
Dalam keterangan pers pasca serangan, Caine menjelaskan bahwa operasi militer bernama "Absolute Resolve" itu dilakukan oleh gabungan semua matra militer.
Di balik serangan yang turut menewaskan 80 orang termasuk warga sipil itu, pesawat CN235 bikinan Indonesia disebut turun digunakan oleh AS.
Militer AS diperkirakan mengoperasikan sekitar 32 pesawat CN235 dalam berbagai varian untuk menjalankan misi pengintaian.
Lantas, bagaimana spesifikasi pesawat multiguna yang pertama dikembangkan pada 1980-an itu?
Spesifikasi Pesawat CN235 Asal Indonesia
Pesawat CN235 merupakan produk yang dikembangkan oleh perushaan patungan Indonesia dengan Spanyol, Aircraft Technology (Airtech).
Perusahaan tersebut merupakan hasil kerja sama IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia) dengan CASA (kini Airbus Defense & Space).
Menukil laman resmi PT Dirgantara Indonesia, cetak biru pesawat CN235 jadi proyek pertama Airtech ketika didirikan pada 17 Oktober 1979.
Cetak biru model CN235 sendiri dikerjakan bersama, yakni oleh insinyur Indonesia dan Spanyol. Hal tersebut membuat CN235 memiliki jejak Indonesia, meskipun AS menggunakan CN235 yang diproduksi pabrik Spanyol.
Pesawat ini sejatinya dikenal sebagai pengangkut logistik. Ia punya badan pesawat yang besar dan ramp door yang khusus dibuat untuk keperluan pengangkutan logistik.
Total muatan yang bisa diangkut pesawat ini disebut mencapai 4.700 kilogram atau 36 penumpang.
Selain kapasitas yang longgar, CN235 juga dilengkapi dengan kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL). Spesifikasi ini membuat CN235 bisa beroperasi di landasan pendek maupun tak beraspal yang berguna dalam pengiriman logistik.
Spesifikasi utama tersebut membuat pesawat ini dianggap cocok digunakan baik oleh operator sipil maupun militer. Dalam serangan AS ke Venezuela pada Sabtu lalu, hal ini justru jadi alasan utama mengapa ia dipakai.
Dilaporkan, pesawat ini dioperasikan oleh Komando Operasi Khusus Angkatan Udara AS (US AFSOC) bukan sebagai pengangkut logistik, melainkan sebagai unit pengintai rahasia.
Karakter tampak luar pesawat yang mirip pesawat kargo sipil biasa dimanfaatkan militer AS untuk bergerak di bawah radar militer Venezuela.
Desain pesawat ini juga kemudian dimanfaatkan militer AS untuk memasang sensor optik inframerah dan antena ventral yang menjulur di bawah perut pesawat. Fungsi perangkat tersebut adalah untuk mengetahui lokasi target.
Tak hanya itu, CN235 yang digunakan AS juga disebut dilengkapi dengan perangkat pengacak elektronik yang mampu bekerja dalam kegelapan.
CN235 sendiri dilengkapi dengan dua mesin turboprop General Electric CT7-9C. Setiap mesin tersebut memiliki kekuatan 1.750 shaft horsepower (SHP).
Dengan keunggulan hot and high performance, kedua mesin itu dapat bekerja dengan efisiensi bahan bakar yang lebih baik, sehingga durasi terbang CN235 dapat mencapai 11 jam di udara.
PT Dirgantara Indonesia menyebut CN235 kini telah diproduksi lebih dari 300 unit dengan banyak versi. Selain itu, pesawat ini juga mengalami penyempurnaan.
Kini, versi 110 dan 220 dari CN235 merupakan model yang dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia secara langsung. Sementara versi 200 dan 300 merupakan model CN235 yang diproduksi Airbus Defense & Space di Spanyol.
Pesawat CN235 versi 220 kini diproduksi PT Dirgantara dalam tiga tipe utama, yakni CN235-220 Civil, CN235-220 Military Transport, dan CN235-220 Special Mission.
Berikut daftar spesifikasi CN235, pesawat yang cetak birunya dibuat di Indonesia:
- Menggunakan dua mesin general electric CT7-9C dengan masing-masing 1.750 SHP (1.870 SHP dengan APR).
- Menggunakan dua baling-baling Hamilton standar HS 14 RF-21.
- Maksimal berat saat lepas landas: 16.500 kilogram.
- Maksimal berat Pendaratan: 16.500 kilogram.
- Maksimal berat Bahan Bakar Nol: 15.400 kilogram.
- Maksimal berat muatan: 5.200 kilogram.
- Kecepatan jelajah maksimum: 237 knot.
- Kecepatan jelajah ekonomis: 169 knot.
- Maksimal batas tertinggi: 25.000 kaki.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id
































