tirto.id - Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah menghadapi tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama bertahun-tahun. Trump menuduh Maduro terlibat dalam berbagai kejahatan, termasuk menjalankan kartel narkoba.
Maduro lahir pada 23 November 1962 dari keluarga kelas pekerja. Ia pernah bekerja sebagai sopir bus pada masa percobaan kudeta gagal yang dipimpin Hugo Chavez pada 1992. Sejak saat itu, Maduro menjadi pendukung kuat Chavez.
Mengutip Reauters, karier politik Maduro menanjak setelah terpilih sebagai anggota legislatif pada 1998, kemudian menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional dan Menteri Luar Negeri.
Chavez menunjuk Maduro sebagai penerusnya. Setelah Chavez meninggal dunia, Maduro terpilih sebagai presiden pada 2013 dengan selisih suara yang tipis.
Di bawah kepemimpinannya, Venezuela mengalami krisis ekonomi berat yang ditandai hiperinflasi dan kelangkaan barang kebutuhan pokok.
Pemerintahannya juga diwarnai tuduhan kecurangan pemilu serta pelanggaran hak asasi manusia. Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ketat terhadap Venezuela, dan pada 2020 Maduro didakwa atas tuduhan korupsi, yang semuanya ia bantah.
Maduro memulai masa jabatan ketiganya pada Januari 2025 setelah pemilu yang dikecam banyak pihak karena diduga curang.
Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa menemukan adanya pelanggaran HAM serius yang dilakukan aparat pemerintah terhadap lawan-lawan politik.
Sementara itu, pemimpin oposisi Maria Corina Machado dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2025, yang disebut menyoroti sifat represif pemerintahan Maduro.
Kenapa AS Menangkap Maduro?
Penangkapan Maduro pada 3 Januari 2026 terjadi setelah Amerika Serikat (AS) beberapa tahun menyelidiki Pemerintahan Venezuela.

Maduro menjadi presiden Venezuela setelah wafatnya Hugo Chavez pada 2013 dan kembali mengklaim kemenangan dalam pemilihan presiden 2018.
Namun pada 2019, Majelis Nasional Venezuela merujuk konstitusi dan menyatakan bahwa Maduro telah merampas kekuasaan serta tidak sah sebagai presiden.
Sejak saat itu, lebih dari 50 negara, termasuk Amerika Serikat, menolak mengakui Maduro sebagai kepala negara Venezuela.
Dalam pemilihan presiden Venezuela pada Juli 2024, Maduro kembali menyatakan diri sebagai pemenang meski terdapat bukti yang bertentangan.
Amerika Serikat bersama sejumlah negara lain kembali menolak mengakui Maduro sebagai presiden terpilih secara sah dalam pemilu yang dipersengketakan tersebut.
Menurut dokumen US Department of State, Maduro dituduh membantu mengelola dan kemudian memimpin Cartel of the Suns, sebuah organisasi perdagangan narkoba Venezuela yang disebut terdiri dari pejabat tinggi negara.
Seiring menguatnya kekuasaannya, Maduro diduga terlibat dalam konspirasi narkoterorisme yang korup dan penuh kekerasan bersama Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), yang telah ditetapkan sebagai Organisasi Teroris Asing.
Tuduhan tersebut mencakup perundingan pengiriman kokain produksi FARC dalam jumlah berton-ton, pengarahan agar Cartel of the Suns memasok senjata kelas militer kepada FARC, koordinasi dengan jaringan pengedar narkoba di Honduras dan negara lain untuk memfasilitasi perdagangan narkoba skala besar, serta permintaan bantuan pimpinan FARC untuk melatih kelompok milisi tak resmi yang pada praktiknya berfungsi sebagai unit bersenjata Cartel of the Suns.
Pada Maret 2020, Maduro didakwa di Pengadilan Distrik Selatan New York atas tuduhan narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan perangkat penghancur, serta konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan perangkat penghancur. Maduro membantah tuduhan-tuduhan tersebut.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id

































