tirto.id - Harga minyak mentah WTI sempat bergolak pada Senin (5/1/2026) pasca serangan AS ke Venezuela pada Sabtu (3/1). Namun, akankah situasi geopolitik Venezuela berdampak pada harga saham emiten sektor minyak Indonesia?
Venezuela, yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, diserang Amerika Serikat pada Sabtu lalu.
Dalam serangan itu, militer AS menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan membawanya ke New York untuk menjalani persidangan atas dakwaan terkait konspirasi "narcoterorism", impor kokain, serta kepemilikan senapan mesin dan alat peledak.
Dengan status Venezuela sebagai negara dengan cadangan minyak besar, banyak yang berspekulasi tentang pengaruh konflik dengan harga minyak dunia.
Lantas, jika memang berpengaruh, apa saja saham emiten sektor minyak bumi yang kini ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan berpotensi terpengaruh dengan konflik tersebut?
Daftar Saham Minyak Indonesia 2026
Pada Senin (5/1), harga minyak WTI bergolak. Harga minyak ini sempat anjlok 0,73 poin ke level 56,90, sebelum melonjak jadi 58,28 pada Senin malam pukul 22.46 WIB.
Di Indonesia sendiri, terdapat emiten-emiten BEI yang bergerak di bidang minyak bumi dan fluktuasi harga sahamnya terkait erat dengan harga minyak dunia.
Oleh karenanya, investor emiten-emiten berikut ini perlu untuk setidaknya tetap ter-update dengan informasi seputar konflik AS dan Venezuela, serta implikasinya terhadap ekonomi global.
Berikut daftar saham minyak bumi Indonesia yang terdaftar di BEI pada 2026:
1. Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)
APEX merupakan emiten yang bergerak di sektor migas, panas bumi, hingga gas metana batu bara. Dalam kaitannya dengan minyak bumi, APEX merupakan salah satu kontraktor pengeboran asal Indonesia.Sejak didirikan pada 1984, APEX memiliki beberapa klien ternama, seperti Pertamina dan Chevron. APEX memiliki lokasi operasi di berbagai wilayah, dari Bojonegara, Banten hingga Ambon, Maluku.
2. Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI)
ARTI juga merupakan emiten yang bergerak di sektor minyak bumi. Perusahaan ini menawarkan berbagai jasa terkait migas, seperti jasa sewa alat berat pertambangan, jasa perawatan sumur minyak, hingga penyedia tenaga kerja untuk eksplorasi minyak.Selain itu, ARTI juga memiliki hak partisipasi (participating interest) di Blok Jabung dan Blok Cepu untuk eksplorasi dan eksploitasi migas di sana.
3. Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
PT Energi Mega Persada Tbk merupakan perusahaan hulu minyak dan gas bumi asal Indonesia. Perusahaan ini beroperasi di wilayah Indonesia dan Mozambik.Perusahaan dengan nama emiten ENRG ini memiliki kegiatan usaha berupa eksplorasi, pengembangan, dan produksi produk migas, baik minyak mentah, gas bumi, dan gas metana batu bara.
PT Energi Mega Persada Tbk merupakan bagian dari konglomerasi Bakrie Group.
4. Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
MEDC juga merupakan emiten BEI dengan kegiatan usaha di sektor migas. Perusahaan ini merupakan bagian dari konglomerasi Medco Group.Perusahaan ini memiliki tiga pilar usaha utama: eksplorasi dan produksi minyak dan gas; pengembangan energi bersih (surya, geothermal, hydro); juga partisipasi strategis sektor tambang mineral.
5. Super Energy Tbk (SURE)
PT Super Energy Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di sektor perdagangan minyak dan gas bumi.Perusahaan dengan nama emiten SURE ini memiliki kegiatan usaha utama di bidang pengolahan gas suar dan penjualan hasil olahan gas suar.
6. Elnusa Tbk (ELSA)
PT Elnusa Tbk atau ELSA adalah perusahaan nasional penyedia layanan hulu migas secara menyeluruh.Perusahaan ini berafiliasi dengan Pertamina dan jadi salah satu pemimpin pasar jasa migas di Indonesia untuk klien nasional maupun multinasional.
7. Capitalinc Investment Tbk (MTFN)
Semula jadi perusahaan investasi publik, Capitalinc Investment Tbk merambah sektor migas sejak 2010 lalu.Di sektor migas, perusahaan dengan nama emiten MTFN ini bergerak dalam perdagangan migas dan jasa kilang minyak.
8. Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS)
Emiten RUIS juga merupakan emiten sektor migas yang terdaftar di BEI. Perusahaan ini memiliki kegiatan usaha utama sebagai penyedia jasa pendukung industri migas.Cakupan jasa yang dihadirkan termasuk layanan teknik, survei, inspeksi, hingga pelatihan tenaga ahli di bidang migas.
Apakah Saham Minyak Indonesia Terdampak Venezuela?
Meskipun Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak yang sangat besar di dunia, namun serangan AS ke negara tersebut diperkirakan tak akan berdampak secara langsung. Hal tersebut dikarenakan Venezuela bukan mitra langsung Indonesia di sektor migas.
Hal tersebut senada dengan keterangan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaiman, pada Senin.
"Kita sumber crude-nya [minyak mentah] itu bukan dari sana, dari wilayah lain. Jadi [pasokan dan harga minyak mentah] masih stabil," tuturnya.
Di sisi lain, menurut Dosen Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, Edwin Martua Bangun Tambunan, Venezuela bukan eksportir utama minyak bumi dunia.
Edwin menjelaskan bahwa ekspor minyak Venezuela sudah merosot tajam sebelum serangan AS ke Caracas. Dengan demikian, diculiknya Nicolas Maduro tidak serta merta memicu kelangkaan pasokan maupun lonjakan harga bahan bakar minyak.
Akan tetapi, dalam jangka panjang, situasi panas di Benua Amerika itu dapat berpengaruh, terutama jika target AS untuk membuka keran eksploitasi minyak Venezuela bagi korporasi AS terealisasi.
"Apabila ini terjadi, pasokan minyak akan mengalir deras ke pasar global dan kemungkinan harga minyak akan mengalami penurunan," tutur Edwin kepada Tirto, Senin.
Meski begitu, hal ini justru bukan pertanda baik bagi sektor migas di Indonesia. Pasalnya, jelas Edwin, penurunan harga ini juga diperkirakan bakal diikuti dengan penguatan dolar terhadap rupiah dan kemudian berdampak pada biaya pembelian BBM yang meningkat.
Selain itu, Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai bahwa dampak yang perlu diwaspadai dari serangan AS ke Venezuela adalah risiko situasi geopolitik yang tak menentu.
Meskipun tak berdampak langsung dengan harga minyak dan saham sektor migas Indonesia, namun gejolak geopolitik pasca serangan AS bisa berdampak pada ketidaktentuan pasar global secara umum.
"Selama ini, negara maju seperti AS menunjukkan kedigdayaannya, namun mengesampingkan kepentingan negara berkembang," kata Huda kepada Tirto.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id





























