Menuju konten utama

Profil Henry Saragih Mantan Jurkam Maduro di Pilpres Venezuela

Ketika Nicolas Maduro menjalani masa kampanye pemilu Venezuela tahun 2013, ada nama Henry Saragih yang turut menyampaikan orasi dukungan. Simak profilnya.

Profil Henry Saragih Mantan Jurkam Maduro di Pilpres Venezuela
Henry Saragih. foto/Dok. spi

tirto.id - Ada nama Henry Saragih yang ikut membantu kesuksesan Nicolas Maduro meraih kursi presiden Venezuela pada 2013. Pria asal Deli Serdang ini turut menjadi juru kampanye Maduro. Siapa sebenarnya sosok Henry Saragih ini?

Perkenalan Henry dengan Maduro bermula pada era Presiden Hugo Chavez. Saat itu, Venezuela aktif membangun kerja sama dan memberikan dukungan bagi petani di Amerika Latin. Maduro yang masih menjabat Menteri Luar Negeri menjadi penghubung utama agenda tersebut dan Henry saat itu memimpin jaringan Gerakan Petani Dunia (La Via Campesina).

Dalam sebuah kegiatan kampanye, Henry diperkenalkan sebagai "my brother' oleh Maduro yang mengikuti kontestasi pemilu khusus Venezuela tahun 2013 setelah kematian Presiden Hugo Chavez. Henry lantas menyampaikan pidato dukungannya untuk Maduro dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan ke bahasa Spanyol oleh rekannya. Di akhir pemilu, Maduro terpilih sebagai presiden Venezuela yang baru.

Profil Henry Saragih

Henry Saragih lahir di Petumbukan, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada 11 April 1964. Saat ini ia dikenal sebagai Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) yang menjabat dari 2014 hingga kini. Perannya menempatkan Henry sebagai salah satu tokoh penting dalam gerakan petani nasional.

Selain di tingkat nasional, Henry memiliki rekam jejak panjang di forum internasional. Ia pernah menjabat Koordinator Umum La Via Campesina yang merupakan gerakan petani dan buruh internasional.

Ia menjabat selama dua periode yakni 2004-2008 dan 2008-2013. La Via Campesina memiliki anggota sebanyak 180 organisasi petani yang berasal dari 81 negara di Afrika, Asia, Eropa sampai Amerika.

Latar pendidikan dasar formal Henry ditempuh seluruhnya di Sumatera Utara. Ia menamatkan pendidikan tinggi di Jurusan Administrasi Negara, FISIP, Universitas Sumatera Utara (USU), dan lulus pada 1988.

Henry banyak terlibat dengan berbagai kegiatan organisasi edukasi hingga gerakan sosial. Misalnya, ia bergabung dengan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FISIP USU dan HMI Komisariat USU saat masih berkuliah.

Setelah menjadi sarjana, Henry sempat menjadi tenaga lapangan pengorganisasian petani di daerah Asahan dan Labuhan Batu di Yayasan Sintesis Medan pada 1988-1991 sampai akhirnya menjadi direktur yayasan tersebut periode 1991-1997.

Kepeduliannya pada pertanian mengantarkan Henry sebagai Country Representative on Agriculture Development of ACFOD (Asian Cultural Forum on Development) pada 1990-1996. Selanjutnya, ia bergabung sebagai anggota Majelis Perwakilan Petani (MPP) Serikat Petani Sumatra Utara pada 1994-1998.

Henry Saragih ditunjuk menjadi Ketua Umum Federasi Serikat Petani Indonesia untuk periode 1998-2003, lalu menjadi koordinator umum La Via Campesina dua periode dari 2004-2013. Pada 2014 sampai sekarang, Henry mengemban amanah sebagai Ketua Umum Serikat Indonesia.

Di tingkat nasional, Henry aktif mendorong agenda pembaruan agraria dan kedaulatan pangan. Ia terlibat dalam pengusulan dan pengujian berbagai kebijakan serta undang-undang terkait pertanahan dan pertanian. Keterlibatan tersebut berlangsung melalui jalur advokasi, dialog kebijakan, dan forum resmi negara.

Henry juga tercatat aktif sebagai narasumber di berbagai lembaga negara dan perguruan tinggi. Ia kerap diundang dalam seminar dan diskusi terkait pangan, agraria, dan pembangunan pedesaan. Aktivitas ini memperluas pengaruh gagasannya di ranah kebijakan publik.

Atas kiprahnya, Henry menerima sejumlah penghargaan internasional dan liputan media asing. Ia pernah menerima Global Justice Award dari Institute for Global Justice (IGJ) dan dinobatkan sebagai "50 People Who Could Save The Planet" versi The Guardian pada tahun 2007 dan 2008.

Interaksinya di dunia internasional juga mengantarkannya berkenalan dengan Nicolas Maduro. Henry bahkan menjadi juru kampanye dan menyampaikan dukungannya saat Maduro menjadi calon Presiden Venezuela di pemilu 2013. Maduro akhirnya lolos mendapatkan kursi nomor satu di negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia tersebut.

Henry cukup geram saat Presiden Nicolas Maduro diculik Amerika Serikat (AS) dalam operasi militer di Caracas pada Sabtu (3/1/2025) dini hari. Henry menilai insiden ini sebagai preseden berbahaya "imperialisme tanpa topeng".

"Ketika sebuah negara berusaha mempertahankan kedaulatan politik, sumber daya, dan pangan rakyatnya, maka pemimpinnya dikriminalisasi dan dinegasikan [disangkal] legitimasinya," kata Henry dikutip laman resmi SPI.

Pembaca yang ingin mengetahui informasi seputar Profil Tokoh dapat klik tautan di bawah ini.

Kumpulan artikel tentang profil tokoh

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Satrio Dwi Haryono

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Satrio Dwi Haryono
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Ilham Choirul Anwar