Menuju konten utama

Sejarah Tanggal Kembar Belanja: Harbolnas dan Double Date Sale

Ketahui sejarah tanggal kembar belanja, asal-usul Harbolnas di Indonesia, dan mengapa strategi tanggal cantik ini efektif mendorong konsumen untuk belanja.

Sejarah Tanggal Kembar Belanja: Harbolnas dan Double Date Sale
Ilustrasi belanja online. FOTO/IStockphoto

tirto.id - Tahukah kamu tentang sejarah tanggal kembar belanja? Dalam hal belanja online, tanggal kembar identik dengan promo dan Harbolnas. Di momen inilah masyarakat bisa menikmati berbagai macam diskon dan flash sale untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

Meski saat ini dilakukan oleh banyak kalangan, belanja online sendiri dahulu belum begitu populer di Indonesia. Meski sudah ada media sosial, platform belanja daring masih sangat terbatas, dan Forum Jual Beli Kaskus serta situs Bhinneka adalah beberapa pionirnya di Tanah Air.

Seiring perkembangan zaman, situs jual-beli seperti Tokobagus (sekarang OLX) ikut muncul dan membuat praktik belanja online semakin dikenal. Barulah di tahun 2009, Tokopedia sebagai e-commerce modern hadir di Indonesia, disusul dengan platform serupa lain seperti Bukalapak, Lazada, Zalora, hingga Shopee.

Di awal-awal kemunculan marketplace, minat belanja masyarakat memang mulai berkembang, tapi belum semarak sekarang. Untuk mendorong minat transaksi digital, diciptakanlah Hari Belanja Nasional (Harbolnas) di tanggal kembar 12.12 dengan tawaran diskon dan promo menggoda.

Namun, festival belanja di tanggal kembar ternyata memiliki sejarah yang cukup unik dan berkaitan dengan perayaan Singles’ Day yang dicetuskan oleh orang-orang jomlo di China.

Apa Itu Tanggal Kembar Belanja dan Mengapa Selalu Ramai?

ilustrasi tanggal kembar harbolnas

ilustrasi tanggal kembar harbolnas. FOTO/iStockphoto

Apa arti double date sale? Tanggal kembar belanja merujuk pada momen promosi besar-besaran yang biasanya berlangsung pada tanggal-tanggal kembar yang unik seperti 2.2, 3.3, hingga puncaknya di tanggal 12.12 yang di Indonesia kerap disebut sebagai Hari Belanja Nasional atau Harbolnas.

Pada tanggal ini, berbagai platform e-commerce berlomba-lomba menghadirkan diskon besar dan berbagai voucher menarik. Tujuannya agar banyak orang tergoda untuk berbelanja dan segera checkout barang.

Iming-iming diskon dan penawaran terbatas (hanya saat tanggal kembar) membuat banyak orang tak berpikir panjang untuk melakukan pembelian. Inilah alasan kenapa momen tanggal kembar selalu ramai dan pesanan di marketplace membludak.

Berawal dari Singles’ Day di China

Sejarah tanggal kembar belanja bermula dari Singles’ Day yang sangat populer di China. Singles’ Day konon pertama kali muncul di Nanjing University di tahun 1993.

Awalnya, perayaan ini hanya berlangsung di kalangan mahasiswa dan menyebar ke kampus-kampus lain. Tanggal 11 November (11/11) dipilih karena angka “1” menggambarkan seseorang yang masih single.

Salah satu kisah paling populer menyebutkan bahwa tradisi ini berawal dari empat mahasiswa laki-laki yang ingin mengusir rasa bosan hidup melajang, lalu menjadikan hari tersebut sebagai momen untuk berkumpul dan merayakan status mereka.

Seiring waktu, perayaan ini berkembang dan dikenal luas di luar kampus. Kegiatan yang dilakukan pun beragam, mulai dari pesta hingga blind date yang menjadi ajang cari jodoh bagi para jomlo.

Ilustrasi Promo

Ilustrasi Promo. foto/istockphoto

Alibaba Mengubah Singles' Day Jadi Pesta Belanja

Lalu, kenapa 11.11 banyak diskon? Semua bermula ketika Daniel Zhang dari Alibaba Group memanfaatkan momen 11.11 sebagai pesta belanja.

Pada tahun 2009, Alibaba yang merupakan salah satu perusahaan e-commerce raksasa di China mengubah momen Singles’ Day menjadi festival belanja selama 24 jam. Alibaba menawarkan diskon besar di platform online seperti Tmall sehingga menarik perhatian publik.

Strategi ini rupanya berhasil dan membuat orang-orang berbondong-bondong untuk berbelanja hingga Alibaba pun meraup keuntungan tinggi.

Di sisi lain, Singles’ Day juga menjadi panggung hiburan berskala besar. Alibaba tak hanya menawarkan diskon, tapi juga rutin menggelar acara meriah di malam sebelum tanggal kembar. Mereka pun menghadirkan selebritas dunia seperti Nicole Kidman, Taylor Swift, hingga Katy Perry.

Pada akhirnya, Singles’ Day yang awalnya adalah pesta para lajang, berubah menjadi pesta belanja penuh diskon yang dinanti banyak orang setiap tahun.

Dari 11.11 ke 12.12: Strategi Tanggal Cantik di E-Commerce Global

Ilustrasi Promo

Ilustrasi Tanggal Kembar. foto/IStockphoto. foto/IStockphoto

Di luar China, orang-orang sudah mengenal pesta belanja seperti Black Friday dan Cyber Monday yang sangat populer di Amerika Serikat. Namun, strategi tanggal kembar dianggap sangat unik sehingga mulai ditiru oleh banyak e-commerce lain.

Di China, perusahaan rival Alibaba, JD.com, ikut menggelar pesta belanja serupa di momen Singles’ Day dengan memanfaatkan keunikan tanggal kembar 11.11. Keuntungan yang didapat pun berlipat ganda di hari tersebut.

Bahkan, angka penjualan Singles’ Day di China dikabarkan mampu melampaui angka penjualan Black Friday, menandakan bahwa festival belanja ini memang sangat populer sekaligus jadi ladang bisnis yang menguntungkan.

Dengan potensi laba yang sangat besar, semakin banyak platform e-commerce di berbagai negara yang mengadopsi strategi tanggal cantik tersebut. Tak hanya e-commerce, bisnis offline pun ikut menirunya, termasuk restoran, tempat karaoke, hingga pusat perbelanjaan.

Seiring berjalannya waktu, pesta belanja di tanggal cantik tak hanya mengacu pada 11.11, terutama di negara-negara lain di luar China yang memang kurang relevan dengan Singles’ Day di tanggal tersebut.

Namun, strategi tanggal kembar tetap diadopsi dan akhirnya berkembang menjadi 12.12 yang menjadi pesta belanja akhir tahun. Tanggal 12.12 pun dianggap sangat strategis karena berdekatan dengan perayaan besar seperti Natal dan tahun baru.

Hal ini membuat semakin banyak orang rela mengeluarkan uang untuk berbelanja, baik dengan alasan untuk persiapan Natal dan tahun baru maupun sekadar memanfaatkan diskon besar akhir tahun yang hanya terjadi setahun sekali.

Lahirnya Harbolnas di Indonesia pada 12.12

ilustrasi tanggal kembar harbolnas

ilustrasi tanggal kembar harbolnas. FOTO/iStockphoto

Sejarah Harbolnas di Indonesia dipelopori oleh beberapa pelaku e-commerce yang mulai berkembang di Tanah Air. Harbolnas atau Hari Belanja Nasional pertama kali diselenggarakan di Indonesia pada 12 Desember 2012, bertepatan dengan momen unik bertanggal 12.12.12.

Acara perdana ini diramaikan oleh Lazada, Zalora, BerryBenka, Traveloka, serta sejumlah toko daring lainnya. Harbolnas sendiri digelar bukan semata-mata untuk mencari keuntungan atau meningkatkan penjualan.

Lebih dari itu, Harbolnas dijadikan sebagai sarana untuk mengedukasi masyarakat tentang kemudahan berbelanja online. Harbolnas dengan iming-iming diskonnya mengajak masyarakat agar semakin terbiasa bertransaksi secara digital.

Seiring waktu, Harbolnas tidak hanya melibatkan platform belanja online, tapi juga pelaku bisnis offline dan bank yang turut menghadirkan berbagai promo menarik untuk mendorong transaksi selama Harbolnas berlangsung.

Asal usul Harbolnas yang bertujuan mengampanyekan belanja daring ternyata berhasil. Semakin banyak orang yang melirik Harbolnas dan tergoda untuk berbelanja online di momen tersebut, bahkan efeknya pun masih terasa sampai sekarang ketika transaksi digital sudah bukan hal yang asing saat ini.

Meski Harbolnas digelar pada 12.12 setiap tahunnya, masyarakat tetap bisa menikmati diskon-diskon spesial di tanggal kembar lainnya. Hal ini karena berbagai e-commerce tetap menggunakan strategi tanggal cantik untuk menggaet konsumen.

Di sepanjang tahun, banyak platform belanja online yang tetap menawarkan berbagai diskon di tanggal kembar seperti 3.3, 7.7, 9.9, dan seterusnya. Pola ini membuat antusiasme konsumen dalam hal belanja online tetap terjaga sekaligus membuat popularitas e-commerce tetap besar.

Mengapa Tanggal Kembar Efektif secara Psikologis?

ilustrasi tanggal kembar harbolnas

ilustrasi tanggal kembar harbolnas. FOTO/iStockphoto

Pesta belanja di tanggal kembar selalu dinanti banyak orang, bahkan tak sedikit yang menahan untuk tidak belanja dan memilih untuk mengeluarkan uang tepat di momen Harbolnas atau tanggal kembar. Lalu, kenapa strategi ini bisa berhasil? Ada beberapa faktor yang berpengaruh, dan semuanya berkaitan dengan psikologis konsumen.

Tanggal Kembar Mudah Diingat

Tanggal kembar seperti 9.9, 11.11, hingga 12.12 mudah menempel di ingatan kita karena pola angkanya yang sederhana dan repetitif. Tanggal-tanggal tersebut jelas terlihat lebih catchy dibandingkan tanggal biasa.

Manusia sendiri cenderung lebih mudah mengingat informasi yang memiliki pola jelas, salah satunya pola angka yang berulang. Alasan ini pula yang membuat banyak orang menggunakan nomor repetitif untuk hal-hal spesial, mulai dari tanggal pernikahan hingga nomor HP.

Dalam konteks belanja online, konsumen akan mudah familiar dengan pola tanggal kembar. Maka, ketika tiba waktunya momen tanggal kembar tersebut, mereka tidak perlu diingatkan lagi akan adanya festival belanja, mereka akan otomatis mengasosiasikan tanggal tersebut dengan promo besar.

Tanggal Kembar Menciptakan “Desakan”

Faktor kedua adalah strategi tanggal kembar akan menciptakan sense of urgency atau rasa mendesak. Promo atau diskon hanya berlaku dalam waktu terbatas, hanya di tanggal kembar atau selama 24 jam saja.

Promo terbatas inilah yang akan mendorong konsumen untuk segera mengambil keputusan. Batas waktu ini membuat orang merasa tidak punya banyak kesempatan untuk mempertimbangkan pilihan dengan panjang lebar sehingga keputusan belanja menjadi lebih cepat dan impulsif.

“Desakan” ini semakin menguat ketika e-commerce menambahkan elemen lain seperti countdown timer, info bahwa stok terbatas, hingga metode flash sale yang membuat orang rela untuk rebutan.

Ilustrasi promo akhir tahun

Ilustrasi Diskon. FOTO/IStockphoto

Faktor Fear of Missing Out (FOMO)

Faktor ketiga yang tak kalah kuat adalah FOMO, yaitu rasa takut ketinggalan sesuatu. Dalam hal belanja online, orang-orang takut kehilangan kesempatan mendapatkan barang dengan diskon tertentu.

Tak hanya itu, tanggal kembar juga bukan sekadar hari diskon, tapi telah menjadi semacam budaya digital yang sering dibicarakan banyak orang. Apalagi tak sedikit dari mereka yang memamerkan hasil belanja di media sosial dan bangga bisa mendapatkan harga spesial.

Melihat orang lain memamerkan hasil buruan belanja mereka ternyata bisa menciptakan tekanan sosial tersendiri. Sebagian akan merasa bahwa jika mereka tidak berpartisipasi, mereka kehilangan keuntungan yang didapatkan oleh orang lain.

Pada akhirnya, mereka yang FOMO ikut-ikutan berburu diskon di tanggal kembar dan mendapat kepuasan ketika berhasil mendapatkan barang yang diincar. Di titik ini, keputusan pembelian tidak lagi murni berdasarkan kebutuhan, tapi dipengaruhi oleh dorongan sosial dan emosional.

Demikian penjelasan tentang sejarah tanggal kembar belanja yang sering digelar di Indonesia. Berawal dari pesta para jomlo untuk mengusir kebosanan, fenomena tanggal kembar ini akhirnya berkembang menjadi pesta belanja yang meriah dan dinanti banyak orang.

Meski tanggal kembar dihujani banyak diskon, jangan lupa untuk selalu bijak dalam berbelanja. Tetap pertimbangkan kebutuhan dan kondisi finansial agar perayaan tanggal kembar tidak menguras keuangan.

Ingin tahu informasi menarik lain seputar Harbolnas? Cek selengkapnya di tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel Harbolnas

Baca juga artikel terkait HARBOLNAS atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani