Orang Cenderung Belanja Online Saat Jam Kerja

Oleh: Ahmad Zaenudin - 31 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Jam-jam kerja kenyataannya adalah waktu populer bagi banyak orang untuk beraktivitas belanja online, tak hanya di Indonesia tapi juga Amerika.
tirto.id - Aktivitas belanja online makin menjadi pilihan bagi banyak konsumen. Ihwal kepraktisan dan kemudahan adalah kunci dari pesatnya perkembangan belanja online khususnya di Indonesia. Tak cuma itu saja, dukungan penetrasi pengguna internet juga punya andil.

Tahun ini diperkirakan ada 112,5 juta penduduk Indonesia yang menjadi pengguna internet. Ini menjadi pasar yang empuk bagi dunia e-commerce yang menjadi bagian penting dari sebuah aktivitas belanja online. Kenyataannya aktivitas belanja online meninggalkan jejak-jejak atau tren dari jutaan orang yang melakukan belanja secara online.

Perusahaan aggregator belanja online iPrice bersama Tech in Asia melakukan riset terhadap 1.000 e-commerce di Asia Tenggara dan merilisnya dengan laporan “E-Commerce Talk Indonesia 2018”. Survei yang menggunakan jutaan sampel data yang dikumpulkan selama triwulan III-2016 hingga triwulan II-2017 mendapati beberapa tren menarik, antara lain soal conversion rate. Istilah conversion rate untuk mengukur konversi kunjungan ke situs belanja online hingga menjadi tindakan pembelian.

Rata-rata conversion rate Indonesia lebih tinggi 10 persen dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Secara lebih spesifik, conversion rate perusahaan e-commerce Indonesia lebih tinggi 20 persen dibandingkan Malaysia.

Namun, tingginya rata-rata conversion rate Indonesia belum berbanding lurus dengan uang yang dikeluarkan para penggila belanja online. Average order value Indonesia, istilah untuk mengukur uang yang dikeluarkan pengunjung situs belanja online saat kunjungan dilakukan, hanya berada di posisi ke-2 terbawah untuk kawasan Asia Tenggara.

Average order value di Indonesia berada pada angka $36 atau sekitar Rp480 ribu. Artinya dalam tiap kunjungan pada situs belanja online, ada rata-rata Rp480 ribu yang dikeluarkan tiap mereka yang belanja online. Angka tersebut kalah dibandingkan Singapura yang memiliki average order value sebesar $91.

Andrew Prasatya, Senior Content Marketer iPrice Group, mengatakan bahwa ada cukup banyak tantangan yang mendera dunia e-commerce Indonesia. Ini membuat perkembangan e-commerce Indonesia kurang optimal.

“Di Indonesia, internet speed secara general masih cukup rendah (kecepatan 5,19 Mbps, ke-75 di dunia). Selain itu rata-rata e-commerce fokusnya masih di Jakarta,” kata Andrew dalam paparan survei.

E-commerce Indonesia yang lebih fokus bermain di Jakarta karena faktor geografis wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan. Kondisi ini akan menyulitkan pelaku e-commerce terutama soal sistem logistik seperti proses pengiriman. Persoalan serupa juga dialami Filipina, negara yang juga kepulauan.

Selain dua tadi, tantangan lainnya ialah masih rendahnya penetrasi kepemilikan rekening bank di Indonesia. Menurut penuturan Andrew, pada 2014 hanya 30 persen penduduk Indonesia dewasa yang memiliki rekening bank. Penetrasi kepemilikan rekening bank berkorelasi dengan kepemilikan kartu kredit. Sistem yang populer di luar negeri sebagai alat pembayaran pada e-commerce.

Survei ini juga menemukan tren-tren lain dalam dunia e-commerce di kawasan, khususnya Asia Tenggara. Perilaku mereka yang berbelanja online pun tercatat trennya.



Infografik Belanja online

Belanja Online Saat Jam Kerja


Berbelanja online dengan mengunjungi situsweb seperti Tokopedia, Bukalapak, Lazada, maupun Blibli berbeda dibandingkan berbelanja secara offline dengan mengunjungi toko fisik seperti di mal. Secara umum, berbelanja online bisa dilakukan kapan pun dan di manapun.

iPrice mencatat orang Indonesia lebih populer berbelanja online pada jam kerja, bukan di akhir pekan atau di waktu santai saat di rumah. Secara keseluruhan sampel, puncak paling tinggi saat orang memesan barang di Asia Tenggara pada pukul 11.00, jumlahnya 69 persen lebih tinggi dari jumlah rata-rata pesanan e-commerce di Indonesia.

Secara rinci, berdasarkan jumlah pesanan yang mereka lacak, pukul 10.00 pagi hingga 05.00 sore adalah waktu paling populer bagi penggila belanja online di Indonesia untuk bertransaksi. Catatan lainnya, conversion rate paling tinggi terjadi pada hari Rabu. Sementara itu, pada hari Minggu conversion rate justru turun hingga 30 persen.

“Itu jadi kesimpulan yang didapat (bahkan berbelanja online di Indonesia dilakukan di jam kerja). Conversion rate di desktop tinggi, conversion rate di Rabu, dari sisi jam juga order di jam 11 pagi, jadi itu kesimpulan yang menarik dilihat,” ucap Andrew.

Perilaku belanja online Indonesia berbanding terbalik dibandingkan orang Singapura. Di sana, waktu paling populer bertransaksi belanja online terjadi pada pukul 16.00 hingga 23.00.

Namun, meskipun berbanding terbalik dengan kondisi di Singapura, tingkah laku orang Indonesia berbelanja online di jam kerja juga terjadi di negara lain.

Amerika Serikat misalnya, CareerBuilder, suatu layanan pencarian kerja di AS, dalam laporan dari survei yang dilakukan pada 3.133 pekerja penuh waktu, menyatakan bahwa 53 persen di antara mereka mengaku melakukan belanja online di jam kerja. Persentase itu, meningkat 3 persen dibandingkan survei serupa yang dilakukan setahun sebelumnya.

Apa yang diungkap CareerBulder, tak berbeda dengan laporan Conlumino, sebuah firma penelitian pasar. Mengutip pemberitaan CNBC, firma itu menyatakan bahwa 31,2 persen konsumen belanja online, melakukan transaksi di jam kerja.

Hasil riset pada dunia tingkah laku belanja online di AS, kemudian diperkuat Workarea, suatu layanan platform e-commerce. Dalam penelitiannya terhadap 25 toko online fashion dan apparel yang menggunakan layanan mereka, diketahui bahwa 16 persen pendapatan diperoleh pada hari Senin.

Pada hari Jumat dan Sabtu, dalam laporan mereka, tukang belanja online umumnya beraktivitas offline. Selanjutnya, pada hari Minggu mereka mulai berselancar untuk mencari produk yang kemudian dimasukkan ke dalam wishlist atau bookmark.

Berbelanja online di jam kerja didukung oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa desktop menjadi perangkat paling populer digunakan untuk berbelanja. Di Indonesia, iPrice menyatakan bahwa penggunaan desktop lebih tinggi dibanding mobile.

Padahal, pengakses internet Indonesia, secara umum, lebih banyak melakukan aktivitas sehari-hari dengan menggunakan ponsel. Survei juga menemukan conversion rate pada desktop lebih besar hingga 200 persen dibandingkan mobile.

Russ Warner, Chief Executive Officer (CEO) ContentWatch, dalam tulisannya di Forbes, menyatakan bahwa secara umum 64 persen pekerja mengakses situsweb yang tak terkait dengan pekerjaannya setiap hari pada saat bekerja. Ada cukup banyak alasan mengapa pekerja mengakses situsweb yang tak terkait pekerjaan.

Beberapa faktor antara lain tak ada tantangan. Kebanyakan kerja dan tak adanya insentif dari perusahaan adalah alasan lainnya. Rasa tak puas terhadap pekerjaan dan bosan adalah alasan mengapa pekerja mengakses situsweb di luar pekerjaan.

Tren aktivitas lain saat jam kerja seperti berbelanja online bisa dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan e-commerce untuk memaksimalkan transaksinya. Upaya promosi tentu akan efektif bila dilakukan saat para pekerja berselancar di dunia belanja yang bagi orang-orang tertentu jadi aktivitas yang menyenangkan.

Baca juga artikel terkait E-COMMERCE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
Dari Sejawat
Infografik Instagram