tirto.id - Data Pertumbuhan Ekonomi triwulan II 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik pada Selasa (5/8/2025) pagi mengejutkan sejumlah ekonom dan pengusaha. Sebab, kinerja perekonomian ternyata lebih moncer dari perkiraan banyak pihak: tumbuh 5,12 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, misalnya, meramalkan pertumbuhan ekonomi hanya di kisaran 4,78 persen sampai 4,82 persen. Bahkan, Bank Indonesia memberikan rentang proyeksi antara 4,7 persen hingga 5,1 persen. Artinya, angka realisasi pertumbuhan ekonomi BPS justru melampaui batas atas skenario paling optimis.
Tak hanya dari dalam negeri, lembaga multilateral seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen. IMF, dalam laporan World Economic Outlook Update edisi Juli 2025, meramalkan 4,8 persen, sedangkan Bank Dunia melalui Global Economic Prospects edisi Juni 2025 memberikan estimasi lebih konservatif di angka 4,7 persen.
"Bagi kami sangat mengejutkan. Pertumbuhan ini justru terasa kontras dengan berbagai indikator makro lain yang menunjukkan sinyal perlambatan," demikian peneliti Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Muhammad Anwar, berkomentar ihwal maklumat BPS tersebut.
"Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 penuh kejanggalan dan tanda tanya publik. Saya tidak percaya dengan data yang disampaikan mewakili kondisi ekonomi yang sebenarnya," kata Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, dalam kesempatan terpisah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyanggah dugaan beberapa pihak terkait adanya permainan data pertumbuhan ekonomi. Sebab, menurutnya, kuatnya pertumbuhan ekonomi nasional pada periode April-Juni 2025 didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 4,97 persen, dengan kontribusi di mencapai 54,25 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan realisasi investasi yang juga tumbuh di level 6,99 persen dengan kontribusi hingga 27,83 persen.
"Mana ada (permainan data)?" katanya singkat sembari mengacungkan ibu jari, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (5/8/2025) malam.
Alih-alih permainan data, Airlangga justru melihat adanya perbaikan daya beli masyarakat, yang tercermin dari kinerja tiga perusahaan publik yang bergerak di sektor retail yang menunjukkan kinerja apik di akhir Juni. Pun, dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia (BI) yang juga meningkat 0,3 poin dibandingkan posisi Mei, menjadi sebesar 117,8. "Kemudian, kenaikan dari transaksi, transaksi digitalnya kan naik," tambahnya.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut juga mengutip data transaksi penjualan eceran dengan menggunakan uang elektronik yang tercatat tumbuh 6,26 persen, serta realisasi belanja masyarakat di platform lokapasar atau e-commerce juga tumbuh 7,5 persen secara kuartalan.
Lalu, mobilitas masyarakat juga mengalami pertumbuhan, tercermin dari perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) baik yang menggunakan pesawat, kereta api, atau melewati jalan tol sebesar 22,3 persen. Angka ini, menurut Airlangga, sejalan dengan perjalanan wisatawan mancanegara (wisman) juga naik 23,32 persen. "Kemudian, year on year, jumlah Lapangan pekerjaan yang tercipta dari Februari (2024) ke Februari (2025) ada sejumlah mendekati 3,6 juta," jelas Airlangga.
Mempertanyakan Data BPS
Jika membandingkan sejumlah indikator perekonomian sepanjang April-Juni, keraguan Anwar cukup beralasan. Sebab, terdapat sejumlah indikator utama yang justru mencerminkan perlambatan ekonomi selama kuartal II, salah satunya adalah Purchasing Managers' Index (PMI) sektor manufaktur. Selama April hingga Juni 2025, angka PMI konsisten berada di zona kontraksi, yaitu 46,7 (April), 47,4 (Mei), dan 46,9 (Juni).
"PMI di bawah 50 berarti sektor industri tidak sedang ekspansif. Bahkan terjadi lonjakan PHK yang signifikan, utamanya di sektor padat karya, dengan 42.385 pekerja kehilangan pekerjaan selama Juni saja. Ini menunjukkan bahwa klaim pertumbuhan sektor industri harus dikritisi," ujar Anwar kepada Tirto.
Ia juga menilai bahwa argumen peningkatan konsumsi rumah tangga karena aktivitas pariwisata perlu diuji lebih jauh. Memang, kata Anwar, terjadi peningkatan mobilitas saat long weekend dan musim libur sekolah triwulan II lalu. Ini terlihat dari data Kementerian Pariwisata yang mencatat 333 juta perjalanan wisata domestik atau naik dari 270 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Namun, ia menegaskan bahwa efek konsumsi dari pariwisata hanya dinikmati kelompok menengah atas. Sementara kelompok masyarakat rentan masih terjebak dalam stagnasi pendapatan, mahalnya harga barang, dan ketidakpastian pekerjaan.
"Jadi klaim pertumbuhan ekonomi ini bisa dikatakan tidak inklusif karena banyak didorong oleh pariwisata atau aktivitas liburan saat long weekend dan awal libur sekolah, yang tidak semua lapisan bisa menikmatinya. Hanya kalangan menengah atas saja," ungkap Anwar.
Keraguan serupa juga disampaikan Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho. Dalam pandangannya, pertumbuhan ekonomi 5,12 persen pada kuartal ke-2 tahun ini adalah anomali. Sebab, banyak data yang dirilis tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan dan tak sejalan dengan data-data lain yang dikeluarkan pemerintah.
Ia menyoroti dua lapangan usaha yang mengalami kenaikan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi, yakni industri pengolahan serta perdagangan yang masing-masing sebesar 5,68 persen dan 5,37 persen. Pasalnya, jika digabungkan, dua sektor ini menyumbang 32,5 persen terhadap PDB nasional.
Jika dibedah berdasarkan subsektornya, jelas Andry, anomali terlihat pada industri ‘Mesin dan Perlengkapan’ serta ‘Barang Galian bukan Logam’ yang bisa tumbuh hingga double digit, masing-masing 18,75 persen dan 10,07 persen. Padahal, pada triwulan II 2023 dan triwulan II 2024, kinerja dua subsektor ini tercatat melempem. Mesin dan Perlengkapan turun masing-masing -0,02 persen dan -1,80 persen di periode tersebut; sedangkan Barang Galian bukan Logam tumbuh 1,42 persen pada triwulan II 2023 tetapi turun di periode sama tahun selanjutnya menjadi -0,12 persen.
Selain itu, jelas Andry, anomali lainnya adalah karena sebagian besar alat berat maupun peralatan listrik di Indonesia saat ini berasal dari impor. Memang, data ekspor-impor menunjukkan lonjakan impor produk HS 84 (machinery and mechanical appliances) dan HS 85 (electrical machinery) masing-masing sebesar 6,3 persen yoy dan 8,7 persen yoy pada periode Januari-Mei 2025. Namun, pertumbuhan impor tersebut tidak cukup untuk menjelaskan lonjakan pertumbuhan double digit pada kedua subsektor tersebut.
Demikian pula dengan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor yang, menurut BPS, didorong oleh peningkatan aktivitas perdagangan barang-barang domestik dan impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga.
Hal ini, tutur Andry, berbeda dengan pernyataan para asosiasi ritel yang menyebut permintaan justru melemah. Terlebih, ada fenomena yang mengindikasikan pelemahan daya beli, yakni Rojali atau rombongan jarang beli. "Dalam perdagangan besar dan eceran yang mengalami pertumbuhan positif hanya perdagangan besar dan eceran non kendaraan, nah ini menjadi juga salah satu tanda tanya," tuturnya.
Sementara itu, jika dilihat pada komponen pengeluaran, anomali pertumbuhan ekonomi triwulan II terlihat dari pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tercatat tumbuh hampir 7 persen (6,99 persen). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan komponen PMTB pada triwulan sama 2024 yang sebesar 4,42 persen.
Padahal, jika merujuk pada data realisasi dari Kementerian Investasi (BKPM), pertumbuhan investasi pada triwulan II 2025 hanya 12 persen, lebih rendah dari pertumbuhan 22 persen pada periode yang sama tahun lalu. "Makanya ada pertanyaan apakah memang betul di triwulan II itu terjadi ekspansi investasi?" tuturnya.
"Nah beberapa data yang tidak match ini tentu saja menjadi pertanyaan publik bahwa apakah pertumbuhan ekonomi 5,12 persen itu cukup menggambarkan kondisi riil ekonomi Indonesia saat ini. Karena kalau tidak bisa menggambarkan kondisi di lapangan maka bersiaplah ketidakpercayaan publik itu pasti akan tinggi terhadap data-data yang dikeluarkan oleh pemerintah," tegas Andry.
Kendati begitu, pandangan berbeda disampaikan Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko. Menurutnya, kinerja perekonomian nasional pada kuartal II-2025 sedikitnya memberikan tiga sinyal penting yang membantah beragam kekhawatiran masyarakat. Ketiga indikator tersebut, yakni belanja masyarakat yang diperlihatkan melalui konsumsi rumah tangga, industri pengolahan, dan investasi atau PMTB.
Soal kinerja konsumsi masyarakat yang tumbuh 4,97 persen yoy, jelasnya, dibuktikan melalui survei penjualan eceran yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Indeks Penjualan Riil (IPR), misalnya, yang masih ada di atas angka 200 dan menunjukkan optimisme kuat di sisi konsumen (sebagai informasi IPR di bawah 100 menunjukkan pesimisme, sebaliknya: di atas 100 menunjukkan optimisme). Bahkan untuk proyeksi Juni 2025, diperkirakan indeksnya sebesar 233,7, lebih tinggi dari realisasi bulan sebelumnya yang sebesar 232,4.
Selain itu, simpanan masyarakat di bank pada Mei 2025–seperti dicatat oleh Lembaga Penjamin Simpanan–juga mengalami pertumbuhan 4,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi Rp9.109 triliun.
Secara parsial, simpanan dengan isi rekening rata-rata di bawah Rp100 juta per rekening, tumbuh 3,75 persen. Perkembangan ini, kata dia, mengisyaratkan bahwa masyarakat masih punya uang dan daya belinya tetap terjaga. "Kemungkinan yang terjadi adalah pola belanja yang mengalami perubahan, sehingga memunculkan istilah Rojali atau rombongan jarang beli dan Rohana atau rombongan hanya nanya-nanya," paparnya.
Kedua, kinerja industri pengolahan ditunjukkan dari serapan tenaga kerja lapangan usaha ini, yakni sebanyak 19,6 juta tenaga kerja per Februari 2025—tiga terbesar setelah sektor pertanian dan perdagangan. "Membaiknya kinerja sektor pengolahan ini merupakan kabar bagus, karena diharapkan memberikan gairah terjadinya reindustrialisasi ke depan," kata Christiantoko.
Terkait PMTB, kata dia, pertumbuhan tersebut dapat terefleksikan dari jenis aset yang diinvestasikan, di mana komponen mesin dan perlengkapan menjadi pemicu utama dengan pertumbuhan 25,30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perkembangan tersebut selaras dengan peningkatan yang cukup impresif di sisi produksi industri mesin dan perlengkapan yang mampu tumbuh 18,75 persen dan menjadi yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir. "Tentu ini kabar baik, karena ekonomi kita didorong tidak hanya oleh konsumsi masyarakat, tetapi juga investasi pada alat produksi," tegas Christiantoko.
Menurut Christiantoko, kinerja investasi tersebut selaras dengan pengumuman BPS sebelumnya, yakni tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2025, yang turun menjadi 4,76 persen dibandingkan Februari 2024 yang sekitar 4,82 persen.
Karena itu, dia mengingatkan agar pemerintah tidak lengah dengan data-data yang dipublikasikan oleh BPS tersebut. "Momentum pertumbuhannya harus dijaga, jangan sampai kendor. Terutama untuk konsumsi rumah tangga dan investasi yang keduanya berkontribusi lebih dari 70 persen terhadap perekonomian nasional," tegasnya.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































