tirto.id - Bank Indonesia (BI) memastikan digitalisasi pembayaran belum dapat menggantikan penggunaan uang tunai karena akses infrastruktur digital belum merata, terutama di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Anwar Bashori, mengatakan uang tunai masih dibutuhkan masyarakat di daerah yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi dan layanan pembayaran digital.
“Di tempat-tempat yang sangat terpencil, yang mungkin tidak ada berbagai jaringan telekomunikasi dan yang lain belum dijangkau oleh QRIS digitalisasi, Rupiah harus ada,” kata Anwar.
Kesenjangan akses tersebut membuat BI tetap harus mendistribusikan uang Rupiah ke pulau-pulau terpencil. BI bekerja sama dengan Angkatan Laut sejak 2012 untuk menjangkau wilayah yang sulit dilalui jalur distribusi biasa.
“Setiap tahun rata-rata kita itu 90 pulau terpencil kita lakukan pengiriman,” ujarnya.
Kebutuhan uang tunai juga tetap muncul ketika bencana mengganggu infrastruktur listrik dan telekomunikasi. Dalam kondisi tersebut, transaksi digital tidak dapat menjadi satu-satunya pilihan pembayaran masyarakat.
“Begitu kita down sarana, Bank Indonesia setempat itu harus hadir karena masyarakat pengennya adalah harus ada uang,” kata Anwar.
Menurut Anwar, peningkatan penggunaan QRIS di sejumlah wilayah tidak menghapus kebutuhan terhadap uang kartal. BI sudah memiliki strategi di masing-masing wilayah.
“Digitalisasi sama cash itu bukan sesuatu yang saling menggantikan, tapi saling melengkapi ke depan dan kita juga sudah punya strategi masing-masing di wilayah masing-masing,” ujar Anwar.
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





































