Pilpres 2019

Perang Hoaks di Grup WhatsApp Pendukung Jokowi & Prabowo

Oleh: Mawa Kresna - 4 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Hoaks, fitnah, dan glorifikasi menyebar di antara grup-grup WhatsApp pendukung kedua kandidat pada Pilpres 2019.
tirto.id - 14 September 2018. Saya diundang ke dalam grup WhatsApp pendukung kandidat Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Grup itu diberi nama “BAMBU APUS 100” yang merujuk pada alamat rumah Djoko Santoso, Ketua Tim Sukses Prabowo-Sandi, di Jakarta Timur. Grup itu dibuat oleh Masir Marja, orang dekat Djoko Santoso. Nama terakhir adalah Panglima TNI di masa Susilo Bambang Yudhoyono.

Grup ini berisi para ibu-ibu—atau kini istilah populernya "emak-emak". Salah satu yang turut diundang dalam grup itu adalah Nanik S. Deyang, wakil ketua Tim Sukses Prabowo-Sandi.


Pada hari pertama grup itu dibuat, sudah ada tiga informasi ngawur bin hoaks yang dibagikan oleh anggota grup.

Informasi pertama adalah berita berjudul "Djoko Santoso Sarankan 7 langkah Selamatkan Indonesia". Pada bagian akhir berita diberi keterangan sumber CNN, merujuk portal berita Indonesia milik Trans Media dan Turner International.

Namun, setelah mengecek dengan mengetik judul berita tersebut di Google, sumber berita itu bukanlah CNN, melainkan dari Islampos.com, portal berita yang beralamat di Purwakarta, Jawa Barat, menurut sumber situs web tersebut.

Kabar bohong kedua adalah video demonstrasi mahasiswa dipukuli polisi dan demonstrasi di depan Mahkamah Konstitusi yang diklaim video baru. Video ini direspons oleh beberapa anggota grup; sebagian menulis doa agar mahasiswa selamat dari "kebiadaban" polisi.

Video itu sebetulnya merujuk demonstrasi mahasiswa tahun 2016. Sayangnya, tak ada satu pun anggota yang mengklarifikasi kesahihan video itu dalam grup tersebut.

Hoaks ketiga adalah kabar tentang "konspirasi Jokowi" sebagai "antek China". Ma'ruf Amin disebut sudah diperalat oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang mengusung pasangan Jokowi-Ma'ruf sebagai capres-cawapres 2019, dengan "mahar yang sangat besar".

Skenarionya, demikian isi pesan WhatsApp tersebut, setelah pasangan ini menang, Jokowi akan mengganti Ma'ruf dengan Ahok—nama populer mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dipenjara dan kolega politik Jokowi. Sumber hoaks ini berasal dari akun Facebook Khalid bin Walid, yang dibuat pada 11 September dan meraup 700-an jempol suka, 200-an ragam emotikon, seribuan komentar, dan duaribuan akun membagikannya.

Akun dengan nama Khalid ini dibuat pada 2016 dengan foto profil anonim dan mayoritas unggahannya adalah memainkan persepsi audiens, menyebarkan disinformasi soal politik Indonesia terutama buat menyerang pemerintahan Joko Widodo.


Penyebaran hoaks, propaganda, disinformasi tak hanya saya dapatkan dari grup “BAMBU APUS 100”. Ada sejumlah grup WhatsApp lain, baik dari grup pendukung Prabowo-Sandi maupun dari grup pendukung Jokowi-Ma'ruf.

Misalnya, di grup WhatsApp “PRABOWO & SANDIAGA UNO”, Isbandi, salah satu anggora grup, menyebar informasi tentang latar belakang Jokowi sebagai "orang Kristen-Tionghoa dengan nama "Herbertus Handoko Joko Widodo bin Oey Hong Liong."

Sementara di grup WhatsApp pendukung Jokowi-Ma'ruf bernama “2019 JKW – MA DKI Jakarta”, mayoritas isinya adalah glorifikasi kinerja Jokowi selama menjadi presiden sejak 2014. Pada grup WhatsApp “JOKOWI 2 PERIODE”, ada anggota yang menyebar tautan video yang menyebut Prabowo "tidak bisa salat."


Dalih Penyebar Hoaks: 'Saya Hanya Meneruskan'

Anggota grup WhatsApp pendukung capres-cawapres ini menyebarkan hoaks dengan alasan mereka "hanya meneruskan."

Ade Kartasasmita, anggota grup "BAMBU APUS 100", pernah menyebar video orang yang dipukuli. Pesan lanjutan yang ia kirim untuk video itu bahwa orang yang dipukul tersebut adalah "anggota TNI Angkatan Udara" dan pemukulnya adalah "preman Tionghoa". Pesan dia dibumbui sentimen bahwa "TNI tidak lagi dihargai sekarang ini."

Faktanya, video tersebut bukan terjadi di Indonesia, melainkan di Sarawak, Malaysia, pada 2016. Pemukulan itu bukan pula aksi penganiayaan terhadap anggota TNI AU, melainkan pencuri yang tertangkap di pertokoan.

Selain itu, Ade pernah menyebar informasi hoaks soal Ketua Komisi Pemilihan Umum Arief Budiman adalah "tim ahli pemenangan Jokowi" tahun 2014, yang sudah berganti nama menjadi Arief Budimanta. Pada bagian akhir pesan itu, Ade menulis: “Info dari sebelah A1 Valid”. Faktanya, Arief Budiman dan Arief Budimanta adalah dua orang berbeda: Budiman adalah Ketua KPU Pusat 2017-2022, sementara Budimanta adalah politikus PDIP.

Saat saya bertanya kepada Ade mengapa ia menyebarkan pesan itu, ia berkata tidak mengetahui bahwa informasi tersebut adalah hoaks. “Info itu dari tempat lain, kok, bukan dari saya," katanya. "Saya forward saja. Tapi, saya tidak tahu itu dari siapa karena masuk ke tempat (WhatsApp) saya."


Alasan senada bahwa penyebar hoaks hanya meneruskan diungkapkan oleh Isbandi, anggota grup “PRABOWO & SANDIAGA UNO”. Isbandi inilah yang meneruskan pesan bahwa Jokowi adalah "orang Kristen-Tionghoa', sebuah isi pesan bohong yang sebenarnya tidak baru-baru amat karena isu yang sama pernah diembuskan pada Pilpres 2014.

“Wah, saya banyak grup WhatsApp. Grup saya ada 12. Jadi, saya dapat dari grup itu, saya sebarkan lagi,” dalih Isbandi.

Sama seperti Ade Kartasasmita, Isbandi mengaku tidak tahu bila informasi yang ia bagikan itu adalah kabar bohong. Ia berkata ia menyebarkan itu cuma "gambling", informasinya bisa benar bisa salah. “Kalau itu betul, supaya [orang lain] tahu saja. Kalau salah, ya saya mohon maaf, gitu,” katanya.

Pola yang sama dilakukan pada grup Whatsap pendukung Jokowi-Ma'ruf. Eben Ezer Pandjaitan, anggota grup "2019 JKW – MA DKI Jakarta" meneruskan puja-puji pencapaian pemerintahan Jokowi. Begitu pula dengan Doni, anggota grup "JOKOWI 2 PERIODE", yang menyebarkan tautan video fitnah bahwa "Prabowo tidak bisa salat".

“Ya cuma forward," kata Doni. "Kalau salah kan bisa dikoreksi bersama."


Infografik HL Indepth Hoaks

'Kalau Ada yang Sebar Hoaks, Kami Tegur, Kami Keluarkan'

Nanik S. Deyang, Wakil Ketua Tim Sukses Prabowo-Sandi yang tergabung dalam grup WhatsaApp "BAMBU APUS 100", berkata "tidak mengetahui" perihal video hoaks yang menyebar itu.

“Yang mana, ya? Video yang di Medan itu memang benar anggota TNI AU yang dipukuli, kan?” kata Nanik.

Sementara hoaks soal Arief Budiman, Ketua KPU, disebut Nanik bahwa memang pesan tersebut salah. "Kami paham benar siapa Arief Budiman dan Arief Budimanta. Beda itu,” ujarnya.

Meski tahu bahwa pesan itu hoaks, tapi Nanik berkata sulit membendung badai kabar bohong macam ini di era media sosial dan pesan instan. “Saya di-invite banyak grup WhatsApp, sehari bisa sepuluh sampai dua puluh. Saya juga enggak ngerti. Anda sebut 'Bambu Apus', itu grup apa?"

"Nanti saya cek lagi. Kalau memang ya [saya ada di situ], nanti saya keluar dari situ,” kata Nanik.

Meski berkata kepada saya ia tidak tahu mengenai salah satu grup pendukung Prabowo-Sandi tersebut, tapi beberapa kali Nanik mengirim pesan dalam grup itu. Pesan terakhir yang ia kirim adalah video lagu kampanye Prabowo-Sandi. Tak lama setelah saya mengonfirmasi soal grup itu, Nanik kemudian meninggalkan grup WhatsApp "BAMBU APUS 100."


Masir Marja, admin sekaligus pembuat grup 'BAMBU APU 100", berkata pesan-pesan hoaks semacam itu beredar karena penyebar hanya "baca judulnya kemudian langsung dibagikan".

"Ada satu misalnya soal berita Pak Ma'ruf Amin sakit tahun 2016, kemudian dibagikan setelah Pak Ma'ruf jadi cawapres,” lanjut Masir.

Dedy Suryadi, admin dan pembuat grup WhatsApp "PRABOWO & SANDIAGA UNO", mengatakan urusan hoaks sudah diatur bersama para admin. Mereka tak segan mengeluarkan anggota yang menyebar hoaks.

“Di antara admin, kami saling komunikasi. Kalau ada yang share adu domba, kami tegur, terus kami ingatkan," katanya.

Grup yang dibikin Dedy ini terbentuk saat "Aksi 212" dan mendukung Anies Baswedan pada Pilkada Jakarta 2017. Namun, usai Pilkada, grup digunakan untuk menggalang dukungan bagi Prabowo. Dedy tak hanya mengikuti satu grup. Ia menyebut ia mengikuti 200-an grup WhatsApp lain. Kebanyakan grup WhatsApp inilah, ujar Dedy, yang membuatnya kurang memperhatikan setiap konten yang beredar dan ia hanya membacanya sekilas.

Namun, Dedy mengaku bisa membedakan mana konten hoaks dan bukan. Misalnya, konten foto Megawati yang dibubuhi informasi bahwa PDIP akan menutup pesantren, ia memastikan itu hoaks.

“Cuma, kan, kalau untuk itu dikonfirmasi dulu dengan yang mengirimkan,” katanya. "Banyak yang sudah kami keluarkan dari grup. Apalagi kalau cebong-cebong."


Maksud Dedy merujuk sebutan merendahkan terhadap pendukung Jokowi—cebongers. Sebaliknya, pendukung Jokowi menyebut istilah merendahkan pendukung Prabowo sebagai "kampret". Sebutan-sebutan mengejek ini lahir sejak 2014 dan bertahan sampai kini mengikuti politik elite Indonesia yang masih terpolarisasi dalam kedua kubu.

Muhammad Junaidi, admin grup WhatsApp "2019 JKW – MA DKI Jakarta", mengklaim kepada saya bahwa grup yang ia kelola itu tidak terlalu aktif. Ia juga tidak terlalu aktif karena tidak berada di Indonesia, katanya. Semula ia anggota grup, tapi karena adminnya pergi, ia ditunjuk sebagai admin pengganti.

Terkait dengan persebaran hoaks di grup itu, Junaidi berkata "tidak terlalu paham." Kendati demikian, ia akan memberikan teguran bagi siapa saja yang menyebarkan hoaks.

“Kebanyakan informasi dalam grup soal hasil kerja Jokowi. Kami ini, kan, relawan saja, bukan tim sukses. Jadi, kadang juga informasi itu—maksudnya hoaks—tidak terlalu kami perhatikan,” klaim Junaidi.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight