Menuju konten utama

Netflix Mau Akuisisi Warner Bros, Persaingan Streaming Berakhir?

Aksi korporasi ini dinilai sebagai langkah strategis besar, yang diibaratkan sebagai “membunuh tiga nyamuk dalam satu tepukan”.

Netflix Mau Akuisisi Warner Bros, Persaingan Streaming Berakhir?
Netflix vs Iflix [Gambar/Netflix/Iflix]

tirto.id - Rencana akuisisi Warner Bros. Discovery (WBD) oleh Netflix dinilai sebagai manuver yang berpotensi mengakhiri “perang” layanan video streaming berbayar yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Dalam laporan terbarunya, Bank of America (BofA) Global Research menilai aksi korporasi ini sebagai langkah strategis besar yang bahkan diibaratkan sebagai “membunuh tiga nyamuk dalam satu tepukan”.

Sebabnya jelas, selain menguasai WBD sepenuhnya, akuisi tersebut juga akan melemahkan dua kompetitor utama Netflix, yakni Paramount dan NBCUniversal—anak usaha Comcast (CMCSA).

“Meskipun terdapat beberapa skenario untuk masa depan WBD, termasuk akuisisi seluruh perusahaan oleh PSKY atau penggabungan rekayasa struktural oleh CMCSA, BofA menyoroti daya ungkit strategis unik yang diberikan kepada Netflix,” tulis tim analis BofA Global Research yang dipimpin Jessica Reif Ehrlich, sebagaimana dikutip Fortune, Kamis (4/12/2025).

Berbeda dengan skenario akuisisi oleh PSKY atau Comcast, pembelian oleh Netflix—yang disebut-sebut akan banyak menggunakan dana tunai—dinilai paling mungkin mengakhiri persaingan ketat di industri streaming. Sebab, Netflix disebut akan fokus mengakuisisi aset studio film dan TV, serta layanan streaming WBD mulai dari Discovery Channel hingga HBO.

“Fokus Netflix yang dilaporkan secara khusus adalah pada studio dan aset streaming WBD, sebuah kesepakatan yang kemungkinan bernilai lebih dari 70 miliar dolar AS. Bagi Netflix, ini akan menjadi peralihan signifikan dari membangun waralaba orisinal ke mengakuisisi ‘parit waralaba’ yang sudah mapan,” lanjut BoFA Global Research.

Meski memimpin jumlah pelanggan global, menurut BoFA, Netflix memang masih tertinggal dalam hal kekuatan intellectual property (IP) dibanding perusahaan media besar lain yang memiliki merek ikonik yang bisa dikembangkan menjadi gim, taman hiburan, hingga pertunjukan Broadway.

Untuk membangun waralaba sekelas Harry Potter, misalnya, dibutuhkan waktu panjang dan investasi raksasa. Namun, dengan membeli studio dan unit streaming WBD, Netflix bisa langsung mengakses IP besar dengan risiko rendah sekaligus potensi keuntungan besar dari reboot, prekuel, atau perluasan waralaba yang sudah populer

“Pustaka Warner Bros menawarkan kedalaman yang tidak dapat direplikasi Netflix secara organik dalam jangka waktu yang relatif singkat di beberapa IP," tulis BofA.

Tapi, yang lebih penting, akuisisi ini akan menjadi pukulan telak bagi semua pesaing Netflix, mengingat IP dari WBD akan melengkapi persenjataan Netflix. "Jika Netflix mengakuisisi Warner Bros., perang streaming secara efektif berakhir," lanjut BoFA.

Implikasinya pun dinilai akan langsung terasa. Pasalnya, WBD sebagai entitas independen akan hilang dan asetnya dibawa masuk ke platform streaming Netflix, dan berpotensi mendorong perusahaan asal California tersebut memiliki konten unggulan yang membuat platform lain sulit bersaing.

Ini jelas akan menjadi ancaman eksistensial bagi Paramount Skydance maupun NBCUniversal. Ambisi global layanan streaming Paramount Skydance—Paramount+ dan Peacock—akan makin terbatas jika aset WBD jatuh ke tangan Netflix. Posisi Comcast, yang tengah bersiap memisahkan bisnis jaringan kabelnya ke perusahaan baru bernama Versant, akan semakin terjepit karena Peacock tidak punya skala besar di AS dan tidak tersedia di luar negeri.

Data Nielsen saat ini menempatkan Netflix pada sekitar 18 persen pangsa waktu tonton streaming di AS, sementara HBO Max (milik WBD) berada di kisaran 3 persen. Jika digabung, Netflix akan melampaui Disney (11 persen) dan Amazon Prime Video (8 persen), dan menjadikan YouTube (28 persen) sebagai satu-satunya pesaing dengan skala lebih besar.

BofA juga memprediksi Netflix tetap akan merilis film-film Warner Bros melalui jaringan bioskop—isu yang selama ini menjadi perdebatan panjang antara Netflix dan pemilik jaringan teater. Netflix sebelumnya membeli beberapa bioskop seperti Paris Theater di New York dan The Egyptian di Los Angeles, namun menolak rilis luas untuk film-filmnya.

Di samping itu, dorongan menuju model rilis layar lebar diperkirakan akan semakin kuat jika akuisisi WBD terjadi, apalagi jelang peluncuran adaptasi Narnia karya Greta Gerwig yang disebut-sebut sebagai titik balik pendekatan Netflix.

Baca juga artikel terkait NETFLIX atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana