tirto.id - Alexander Zverev tak kuasa menahan air mata bahagia usai memenangi gelar US Open 2026 dengan mengalahkan petenis tuan rumah, Ben Shelton. Lelah, senang, dan haru bercampur jadi satu karena ia mampu menaklukkan dua rival: lawan di lapangan dan kadar gula darah di dalam tubuhnya. Ya, Zverev adalah pejuang diabetes.
Di Stadion Arthur Ashe, New York, Amerika Serikat, pada Minggu (13/92026), Alexander Zverev menundukkan Ben Shelton dengan skor ketat 6-3, 7-6, 5-7, dan 6-2. Tak main-main, US Open adalah satu turnamen paling bergengsi dan terbesar di panggung tenis profesional.
US Open 2026 menjadi trofi Grand Slam kedua yang diraih Zverev sepanjang tahun 2026 sejauh ini. Sebelumnya, petenis asal Jerman ini tampil sebagai juara French Open (Roland Garros) 2026 yang merupakan gelar Grand Slam pertama dalam kariernya.

Selama nyaris tiga dekade berjibaku di ranah tenis profesional, Zverev berkali-kali gagal membawa pulang trofi di kasta tertinggi: Grand Slam. Kini tiba saatnya, 2026 menjadi tahun keberkahan bagi petenis berdarah Rusia ini sekaligus mematahkan keraguan banyak orang atas dirinya sebagai pengidap diabetes.
"Kami hampir 30 tahun tanpa memenangkan gelar Grand Slam, dan sekarang, kami telah memenangkan dua gelar dalam rentang waktu tiga bulan," ujar Zverev dalam ucapan kemenangannya di US Open 2026, dilansir Reuters, Senin (14/9/2026).
"Saya pikir Tuhan telah melihat betapa kerasnya kita bekerja, betapa banyak kita menderita, betapa banyak rasa sakit yang kita alami dan saya pikir tahun 2026 adalah hasil dari semua tahun yang terjadi sebelumnya," imbuhnya.
Kencing Manis Tak Halangi Zverev di Ranah Tenis
Alexander Zverev didiagnosis mengidap diabetes tipe 1 sejak usia 4 tahun. Berbeda dengan diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh faktor gaya hidup, diabetes tipe 1 dipicu oleh reaksi autoimun. Penderita diabetes tipe 1 wajib selalu menggunakan insulin, termasuk dari injeksi, untuk mengendalikan kadar gula darah.
Mau tidak mau, Zverev harus berjuang melawan penyakit ini semenjak dini, setiap hari, dan di sepanjang hidupnya, termasuk sejak ia merintis karier sebagai atlet tenis. Jauh sebelum dikenal sebagai petenis top, ia sudah belajar memantau kadar glukosa darah dan menghitung dosis insulin untuk menjaga kondisinya.

Zverev juga belajar beradaptasi dengan berbagai variabel yang menyertai kehidupan dengan penyakitnya itu. Selama bertahun-tahun, ia merahasiakan apa yang dialaminya. Bukan tanpa alasan, Zverev khawatir diabetes akan dianggap sebagai kelemahan dan menjadi penghalang baginya untuk meraih prestasi tertinggi.
Hingga akhirnya, pada 2022 sang petenis secara terbuka mengungkapkan kepada publik bahwa ia adalah penyandang kencing manis sekaligus meluncurkan yayasan Alexander Zverev Foundation sebagai dedikasi untuk mereka yang hidup dengan diabetes tipe 1.
Sejauh ini, Alexander Zverev Foundation sudah menjangkau lebih dari 1.150 anak dan remaja pengidap diabetes tipe 1. Tak hanya itu, organisasi kemanusiaan bentukan Zherev ini telah mengumpulkan donasi lebih dari 1 juta euro.
Dana tersebut dipergunakan untuk berbagai kegiatan pengembangan pribadi, keterampilan atletik, serta gaya hidup sehat dan aktif bagi anak-anak atau remaja pejuang diabetes. Selain itu, Alexander Zverev Foundation juga memberikan dukungan untuk yayasan serupa.
“Saya berada dalam posisi istimewa untuk menjalani kehidupan yang selalu saya impikan. Saya ingin bermain tenis, bepergian ke turnamen di seluruh dunia, dan menjadi salah satu pemain tenis terbaik di dunia," ungkapnya mengenai alasan menggagas Alexander Zverev Foundation.
Dengan kata lain, diabetes bukan menjadi alasan bagi Zverev untuk tidak bisa meraih yang terbaik di kehidupan, termasuk di ranah tenis yang digelutinya. Dukungan keluarga pun sangat berarti bagi Zverev.
"Saya telah mencapai ini terutama berkat orang tua dan saudara laki-laki saya yang selalu mendukung saya tanpa syarat dalam perjalanan saya dan masih melakukannya hingga hari ini," sebut Zverev.
"Saya sangat menyadari bahwa tidak semua anak seberuntung itu, dan oleh karena itu sangat penting bagi saya untuk memberikan sesuatu kembali dan membantu orang lain dalam situasi serupa,” tambahnya.
Zverev Melawan Penyakit yang Tidak Bisa Sembuh
Tenis memang sudah mengalir di nadi keluarga Zverev. Kakaknya yang lahir hampir satu dekade sebelumnya, Mischa, juga merupakan pemain tenis profesional. Perkembangan Alexander Zverev di kancah tenis pun menggembirakan dengan mendominasi level junior sebelum akhirnya naik tingkat ke level pro.
Tak butuh waktu lama, Zverev langsung menggemparkan ATP Challenger Tour dengan memenangkan gelar profesional pertamanya di Braunschweig Challenger 2014 pada usia 17 tahun. Ia pun menjadi salah satu petenis termuda dalam sejarah yang mampu memenangkan gelar juara di level Challenger.
Prestasi Zverev di lapangan tenis membuktikan bahwa diabetes bukan merupakan suatu keterbatasan atau penghalang meskipun saat itu ia belum berani mengungkapkan hal tersebut ke publik.

Sebagai atlet, Zverev dituntut punya kemampuan dan kondisi fisik yang prima. Pertandingan tenis bisa berlangsung selama berjam-jam dalam cuaca yang seringkali panas menyengat.
Atlet tenis harus selalu mempertahankan fokus, daya tahan, dan ketepatan dari poin pertama hingga poin terakhir. Dikutip dari Diabetes Research Connection, setiap lari cepat, servis, dan pergantian posisi dapat memengaruhi kadar glukosa darah.
Kadar gula darah yang rendah bisa memengaruhi waktu reaksi, keseimbangan dan koordinasi, pemikiran kritis, serta konsentrasi. Sementara itu, gula darah tinggi bisa memengaruhi tingkat energi, penglihatan, hidrasi, dan performa.
Oleh karena itu, pemain tenis perlu mengelola variabel-variabel tersebut yang merupakan bagian penting dari setiap pertandingan. Bagi penderita diabetes tipe 1 seperti Zverev yang tidak bisa memproduksi insulin, dia harus menyuntikkan insulin sebelum atau di tengah pertandingannya agar tetap dalam keadaan prima.
Kesalahpahaman pernah terjadi saat French Open 2023. Seorang petugas turnamen mempertanyakan tindakan Zverev ketika ia menyuntikkan sesuatu sebelum pertandingan, itu adalah injeksi insulin.

Sebagian orang yang belum tahu mungkin menganggap bahwa yang disuntikkan Zverev adalah semacam obat untuk meningkatkan stamina atau performa alias doping. Padahal, insulin bukan sesuatu yang ilegal semacam itu.
Bagi pengidap diabetes tipe 1 yang pankreasnya sudah tidak bisa memproduksi insulin, pemberian injeksi insulin sangat penting. Berbeda dengan pasien diabetes tipe 2 yang bisa mengelola gula darah lewat obat maupun perubahan gaya hidup, penderita diabetes tipe 1 tidak bisa bertahan tanpa injeksi insulin.
Demikian pula dengan Zverev yang mutlak harus memakai insulin di sepanjang hidupnya. “Jika saya tidak melakukannya (menyuntikkan insulin), hidup saya dalam bahaya!" tegas Zverev waktu itu.
Dukungan Ibunda dan Mimpi yang Lebih Besar
Dengan diabetes yang terus menyertai hidupnya, Zverev menjalani karier tenisnya dengan mengagumkan. Sebelum akhirnya merengkuh dua gelar Grand Slam di tahun 2026 ini, ia telah mengukir prestasi yang tidak bisa dipandang remeh.
Di nomor tunggal, Zverev telah mengoleksi total 26 trofi juara, termasuk 9 gelar ATP 250, 5 gelar ATP 500, 7 gelar ATP Masters 1000, 2 gelar ATP Finals, medali emas Olimpiade Tokyo 2020, hingga 2 gelar Grand Slam yang direngkuhnya pada 2026 ini.
Zverev juga merengkuh trofi di nomor ganda dan beregu, yakni 2 gelar ATP Tour Ganda yang diraihnya bersama sang kakak Mischa Zverev, serta 1 gelar kejuaraan beregu campuran saat turut membawa Jerman menjuarai United Cup 2024.
Selain itu, Zverev mengoleksi 4 gelar Laver Cup bersama Tim Eropa, namun ajang tersebut merupakan turnamen eksibisi resmi beregu dan tidak masuk dalam hitungan gelar individu ATP Tour.
Alexander Zverev kini menjadi petenis nomor satu Jerman setelah era Boris Becker sekaligus satu-satunya petenis pria Jerman dalam sejarah yang mampu menembus babak final di seluruh 4 turnamen Grand Slam berbeda.

Torehan luar biasa yang diguratkan Alexander Zverev menginspirasi banyak orang, terlebih dalam keadaannya sebagai penderita diabetes tipe 1. Dukungan keluarga sangat penting bagi Alexander Zverev, terutama sang ibu, Irina Zvereva, yang juga mantan petenis pro.
Dalam pidato kemenangannya usai juara US Open 2026, Alexander Zverev berkata, "Saya ingin berterima kasih kepada satu orang yang sebenarnya tidak pernah menonton pertandingan saya, tetapi ia adalah orang paling penting dalam kehidupan tenis saya dan hidup saya."
“Ketika dokter memberi tahu bahwa kehidupan dan olahraga akan sangat terbatas bagi anak Anda, dibutuhkan seorang ibu yang kuat untuk mengatakan: anak saya akan menjadi apa pun yang dia inginkan!" lanjut Zverev mengingat ucapan sang ibunda, dikutip dari akun X resmi The Tennis Letter.
"Ibu saya adalah orang terpenting dan terkuat yang saya kenal. Dibutuhkan wanita yang luar biasa kuat untuk melakukan apa yang telah ia lakukan," tegasnya.

Diabates atau penyakit apapun tidak seharusnya menjadi penghakiman bagi seseorang. Namun, tidak semua anak bisa memiliki dukungan, kesempatan, dan kondisi yang sama untuk bebas mengejar mimpi seperti Zverev.
Oleh karena itu, pada 2022 ia mendirikan Alexander Zverev Foundation yang berbasis di Hamburg, kota kelahirannya di Jerman, untuk mendukung anak-anak dan remaja yang menyandang diabetes.
Selain menyelenggarakan berbagai program kemanusiaan, Alexander Zverev Foundation menyediakan insulin dan obat-obatan penting lainnya. Tak hanya di lingkup negara tertentu, yayasan ini juga menjangkau negara-negara berkembang.
“Saya ingin menunjukkan bahwa Anda bisa berprestasi dengan penyakit ini. Saya ingin menjadi panutan bagi anak-anak yang sudah sakit, tetapi juga menjadi pendukung bagi orang-orang yang masih bisa menghindari perkembangan diabetes tipe 2 melalui gaya hidup aktif dan tindakan pencegahan yang tepat,” tandasnya.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id

































