Menuju konten utama
Edusains

Ketika Manusia Diberi Kekuasaan Tak Terbatas

Ketika diberi kekuasaan, manusia bertendensi kejam dan lebih mementingkan kepentingan pribadi. Beberapa eksperimen dan contoh kasus telah membuktikannya.

Ketika Manusia Diberi Kekuasaan Tak Terbatas
Marina Abramovic dikerubungi banyak orang dalam pertunjukan seni "Rhythm 0", mempersilakan mereka melakukan apa saja terhadap dirinya. FOTO/Marina Abramović Institute (2014)/Milica Zec

tirto.id - Kita sering beranggapan bahwa moralitas adalah sesuatu yang permanen, tertanam kuat dalam diri setiap orang. Namun, sejarah dan sains berulang kali membuktikan bahwa moralitas manusia sangat rapuh dan hanya berfungsi ketika ada konsekuensi.

Begitu konsekuensi itu hilang, dan seseorang diberi kekuasaan mutlak atas orang lain, lapisan moral yang dibentuk oleh peradaban sering kali runtuh dalam waktu singkat.

Enam Jam Menuju Kebinatangan

Warsa 1974, seniman bernama Marina Abramović menggelar karya seni eksperimental bertajuk "Rhythm 0" di Galleria Studio Morra, Napoli, Italia. Seri Rhythm ini merupakan karya kelimanya sejak yang pertama digelar pada 1973 di Edinburgh, Skotlandia.

Abramović sering menekankan, seniman sejati harus menciptakan karya dengan dorongan internal, bukan untuk ketenaran atau kekayaan. Seni, menurutnya, harus seperti bernapas, sesuatu yang harus dilakukan tanpa pilihan lain.

Pandangan itu dilatarbelakangi oleh masa kecilnya yang mengalami kontrol ketat, disiplin ekstrem, dan kekerasan. Ibunya sering mengisolasinya dari anak-anak lain. Dalam kesendirian itu, Abramović mulai menggambar sejak usia 3 tahun.

Suatu hari ia melihat beberapa pesawat terbang melintas di langit dan meninggalkan jejak garis di langit.

“Saya segera pergi ke pangkalan militer dan bertanya kepada teman-teman ayah saya apakah mereka bisa memberi saya dua belas pesawat supersonik untuk membuat gambar di langit. Mereka menelepon ayah saya dan berkata, 'Keluarkan putri Anda dari sini [pangkalan militer]. Dia benar-benar gila!'” tuturnya, dalam sebuah wawancara dengan The Marginalian pada 2015.

Pengalaman itu menginspirasinya untuk menggunakan elemen apa pun, air, api, tanah, angin, bahkan tubuhnya sendiri, sebagai media seni.

Hari itu, di Napoli, Abramović berdiri mematung selama enam jam. Di depannya, tersedia sebanyak 72 objek di atas meja. Puluhan barang itu beragam, mulai dari mawar, parfum, madu, anggur, gunting, pisau, palu, gergaji, sampai pistol terisi peluru.

Sebuah papan bertuliskan: “Saya adalah objek. Anda boleh melakukan apa saja kepada saya selama 6 jam.” Abramović menjamin impunitas total dengan menyatakan bahwa dia bertanggung jawab penuh atas apa pun yang terjadi.

Pada awalnya, penonton masih malu-malu. Mereka memeluknya, mencium pipinya, memberikan bunga. Tapi setelah satu jam, batas "moral" mulai runtuh begitu orang-orang menyadari bahwa kepasifan Abramović adalah total dan tidak ada polisi moral yang mengawasi.

Suasana berubah drastis. Pakaian Abramović disobek dengan gunting. Ada yang menggores kulitnya dengan pisau. Ada yang menuangkan air ke kepalanya. Bahkan, pada jam keempat, seseorang memotong bajunya sampai telanjang. Ada pula momen ketika seseorang mengangkat dan meletakkan tubuh Abramović di atas meja, lalu menusuk pahanya dengan duri mawar.

Puncaknya adalah ketika seseorang meletakkan pistol berisi peluru ke tangan Abramović dan mengarahkan larasnya ke leher seniman itu, memaksa jarinya sendiri menekan pelatuk. Tapi, penonton lain kemudian berebutan dan mengambil senjata itu.

Marina Abramovic

seseorang menodongkan pistol ke leher Marina dalam pertunjukan seni 'Rhythm 0'. FOTO/Marina Abramović Institute (2014)/Milica Zec

Enam jam berlalu. Tepat pukul dua dinihari, Abramović berjalan meninggalkan panggung dengan tubuh berdarah dan mata berkaca-kaca. Saat ia mulai bergerak, para penonton yang tadi begitu berani tiba-tiba menghindar, tak berani menatap matanya. Bahkan ada yang lari dari ruangan.

Menurut artikel Anwitha Kandula yang terbit pada Maret 2024 di Social Science Research Network:

Eksperimen seni Abramović menjadi cermin yang memantulkan sisi gelap manusia ketika diberi kekuasaan tanpa batas. Abramović, yang tak bisa melawan, jadi simbol korban, sementara penonton, orang biasa, berubah jadi algojo.

Kekuasaan tak terbatas bisa mengubah siapa saja jadi monster. Sebab, tanpa pengawasan, batas moral pun lenyap.

Menguji Batas Moral, Eksperimen Manusia, dan Kekuasaan

Fenomena yang dialami Abramović sejalan dengan temuan psikologi sosial. Philip Zimbardo dan Stanley Milgram, setelah melakukan eksperimen kepatuhan pada 1971 dan 1961, mengatakan bahwa manusia patuh secara buta.

Dalam eksperimen Milgram, peserta diminta "mengajar" seseorang dengan klaim tujuan: apakah seorang siswa akan belajar lebih cepat jika ia disengat listrik berkekuatan hingga 450 volt setiap kali memberikan jawaban salah?

Peserta itu tidak tahu bahwa sengatan listriknya adalah palsu. Di sisi lain, seseorang yang disetrum adalah aktor, dan oleh karena itulah bisa menjerit seolah benar-benar kesakitan.

Meski begitu, mayoritas peserta (dua per tiga dari total) melakukan penyiksaan itu sesuai wewenang yang diberikan padanya. Bahkan, ada yang menarik hingga arus terkuat 450 volt.

Dari situlah Milgram menyimpulkan betapa mudahnya manusia menuruti perintah, bahkan jika itu menyakiti orang lain, asal ada kekuasaan di baliknya.

Sepuluh tahun kemudian, Zimbardo melakukan eksperimen psikologi dengan melibatkan 24 peserta laki-laki. Mereka dibagi peran sebagai sipir dan tahanan di penjara buatan. Sipir diberi kekuasaan penuh, tanpa aturan ketat. Selain itu, mereka mendapat bayaran 15 dolar per hari.

Hasilnya, dengan kekuasaan yang diberikan itu, mereka mulai kasar. Bahkan, ada yang memaksa tahanan telanjang, membersihkan toilet dengan tangan kosong, serta mengurung mereka di lemari gelap.

Zimbardo mengatakan, kekuasaan tanpa batas bisa membuat orang biasa jadi sadis.

Namun, eksperimen psikologi itu mengandung kontroversi. Peneliti bernama Gina Perry menemukan, banyak peserta eksperimen Milgram sebenarnya ragu dan menolak, tapi hasilnya dimanipulasi agar tampak lebih dramatis. Begitu juga yang terjadi pada percobaan di Stanford, ketika Zimbardo diduga mendorong sipir untuk bertindak kasar.

Jadi, bukan berarti manusia secara inheren bersifat jahat. Namun, situasilah yang memicu perilaku buruk, terutama ketika ia punya kekuasaan tanpa pengawasan. Kejahatan massal tidak terjadi karena orang sekadar patuh seperti robot, tetapi karena mereka terlibat secara ideologis.

Menurut studi National Library of Medicine (2012):

Kekuasaan menjadi paling mematikan ketika pemimpin berhasil memanipulasi definisi kebaikan, meyakinkan pengikutnya bahwa menyiksa atau menindas orang lain adalah tugas suci demi membela kelompok atau negara.

Kerusakan Otak Akibat Kekuasaan

Jika Abramović menunjukkan gejala luarnya, neurosains modern menyingkap yang terjadi di dalam kepala para penguasa.

Penelitian terkini menunjukkan, kekuasaan tak sekadar mengubah kebiasaan, tetapi secara harfiah mengubah cara otak bekerja, mirip dengan bentuk kerusakan otak fungsional. Salah satu temuan kuncinya berkaitan dengan sistem neuron cermin di otak, bagian yang memungkinkan manusia merasakan empati atau ikut meringis saat melihat orang lain kesakitan.

Penelitian lain yang dipimpin oleh Sukhvinder Obhi, ahli saraf di Universitas Wilfrid Laurier di Ontario, Kanada, pada 2013, menemukan bahwa ketika seseorang merasa berkuasa, aktivitas neuron cermin mereka menurun drastis.

Otak gagal beresonansi dengan emosi orang lain. Inilah alasan para pemimpin tiran atau bos yang kejam sering tampak dingin. Otak mereka telah kehilangan kemampuan fisiologis untuk memproses penderitaan orang lain sebagai data yang penting.

Fenomena tersebut dikuatkan oleh eksperimen yang dilakukan oleh Dacher Keltner dan dua rekannya, terbit dalam artikel “Power, Approach and Inhibition” (2000). Dalam studi ini, tiga orang diminta berdiskusi terkait isu sosial terkini sambil disuguhi piring berisi empat atau lima kue. Salah satu orang di antaranya ada yang diberi kekuasaan dan wewenang mengatur lainnya. Tujuan eksperimennya adalah menilai cara makan dan pembagian kue masing-masing orang. Sebab, secara matematis, pasti tersisa satu kue.

Hasilnya konsisten. Individu yang ditunjuk sebagai pemimpin hampir selalu mengambil kue terakhir itu. Tidak hanya serakah, ia juga memakannya dengan cara menjijikkan: mulut terbuka dan remah-remah berjatuhan di baju, persis seperti karakter Cookie Monster. Perilaku ini menandakan hilangnya rasa malu dan matinya kesadaran diri.

Kekuasaan menciptakan semacam miopia sosial: pemimpin menjadi fokus pada keinginan pribadi dan buta terhadap pandangan orang lain. Ketika itu terjadi pada pemimpin negara dalam jangka panjang, ia bermutasi menjadi gangguan yang disebut oleh Lord David Owen sebagai hubris syndrome.

Berbeda dengan narsisisme bawaan, sindrom ini penyakit yang didapat karena memegang kekuasaan terlalu besar dan terlalu lama. Gejalanya mencakup keyakinan mesianik bahwa mereka tidak bertanggung jawab kepada publik atau hukum, melainkan hanya kepada sejarah atau Tuhan.

Ilustrasi pemimpin otoriter

Ilustrasi pemimpin otoriter. FOTO/iStockphoto

Studi kasus klasik untuk sindrom tersebut adalah Tony Blair dan George W. Bush saat invasi Irak. Keduanya menunjukkan keyakinan pada visi besar Operasi Pembebasan Irak hingga mengabaikan detail intelijen dan realitas lapangan.

“Mereka berencana membangun paradigma baru untuk menggantikan konvensi Jenewa yang tidak boleh diterapkan pada tahanan al-Qaeda atau Taliban, dan mereka mencoba melakukan semua ini sendiri, dengan sedikit atau tanpa konsultasi dengan teman atau sekutu,” tulis Owen dalam kolomnya di The Guardian.

Mereka hidup dalam ruang yang berisi para penjilat, membuat delusinya makin kuat. Owen mencatat, pemimpin yang terkena sindrom ini sering menggunakan kata ganti “kami” (royal we) saat merujuk diri sendiri, tanda bahwa egonya telah melebur dengan negara.

Banyak pemimpin di berbagai belahan dunia menunjukkan gejala serupa. Mereka begitu yakin bahwa dirinya adalah satu-satunya penyelamat bangsa, bahwa hukum hanyalah alat politik, dan bahwa kritik adalah bentuk pengkhianatan.

Hubris syndrome menjadikan kekuasaan sebagai cermin yang memantulkan bayangan diri, bukan realitas rakyat. Ia menutup mata terhadap kompleksitas sosial, mengabaikan suara minoritas, dan pada akhirnya menjerumuskan negara ke dalam krisis yang seharusnya bisa dihindari.

Owen mengingatkan bahwa sindrom tersebut merupakan ancaman nyata bagi demokrasi. Hal itu dapat mengubah kepemimpinan menjadi otoritarianisme terselubung, dan pemimpin merasa dirinya adalah negara itu sendiri.

Dalam konteks modern, ketika media sosial memperkuat kultus individu, risiko sindrom tersebut justru makin besar. Pemimpin yang tidak mampu menjaga jarak dari kekuasaan akan mudah terjebak dalam keyakinan bahwa mereka adalah pusat semesta politik.

Seperti ditunjukkan oleh pengunjung galeri yang lari terbirit-birit saat Marina Abramović mulai bergerak, moralitas manusia sering kali hanyalah topeng, dipakai hanya ketika ada sorotan lampu dan hukum berlaku. Memberi manusia kekuasaan mutlak sama dengan mematikan lampu itu, dan dalam kegelapan itulah sisi terburuknya mengambil alih.

Baca juga artikel terkait PENYALAHGUNAAN KEKUASAAN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin