Menuju konten utama

Kenapa Gereja Ortodoks Merayakan Natal 7 Januari? Cek Sejarahnya

Umat Kristen Ortodoks merayakan Natal pada 7 Januari. Simak sejarah dan tradisi uniknya di sini.

Kenapa Gereja Ortodoks Merayakan Natal 7 Januari? Cek Sejarahnya
Patriarki Ortodoks Yunani dari Yerusalem Metropolitan memimpin upacara "Washing of the Feet" (membasuh kaki) diluar Church of the Holy Sepulchre di Kota Tua Yerusalem, Kamis (5/4/2018). ANTARA FOTO/REUTERS/Ammar Awad

tirto.id - Tidak semua umat Kristen di dunia merayakan Natal pada 25 Desember. Sebagian jemaat Kristen, khususnya dari Gereja Ortodoks, memperingati kelahiran Yesus Kristus pada 7 Januari.

Gereja-gereja Ortodoks di berbagai belahan dunia, seperti Rusia, Georgia, Yerusalem, Serbia, Polandia, biara-biara Athos di Yunani, serta komunitas Katolik Timur, dan Orang-Orang Percaya Lama yang masih mempertahankan tradisi kuno gereja, umumnya merayakan Natal pada tanggal 7 Januari.

Lantas, apa yang melatarbelakangi perbedaan waktu yang hampir dua pekan ini? Bagaimana sejarahnya?

Ethiopia Church

Pemimpin baru gereja ortodoks Ethiopia Abune Matias, 71, tengah, terlihat setelah terpilih di Addis Ababa, Ethiopia, Kamis, 28 Februari 2013. Gereja ortodoks Ethiopia pada hari Kamis memilih Matias sebagai Patriark ke-6 gereja yang secara resmi dikenal sebagai Gereja Tewahedo Ortodoks Ethiopia, sebuah badan yang berpengaruh di negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. (Foto AP)

Sejarah Perayaan Natal Kristen Ortodoks pada 7 Januari

Sejarah penetapan tanggal Natal dalam tradisi Kristen Ortodoks tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kalender dan dinamika gereja sejak masa awal Kekristenan.

Pada abad ke-2 hingga abad ke-4, kelahiran Yesus Kristus belum dirayakan secara terpisah. Saat itu, peristiwa kelahiran dan pembaptisan Yesus diperingati bersamaan dalam satu perayaan yang dikenal sebagai Epifani.

Penetapan ini mengacu pada Kalender Julian, sistem penanggalan yang digunakan secara luas di Kekaisaran Romawi. Namun, memasuki abad ke-4, gereja-gereja di wilayah Barat mulai memisahkan perayaan Natal dan Epifani.

Pemisahan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menggantikan hari-hari raya pagan Romawi, seperti Sol Invictus—perayaan untuk menghormati Matahari yang Tak Terkalahkan—dan Saturnalia, hari besar untuk dewa Saturnus.

Sejak saat itulah, 25 Desember secara resmi ditetapkan sebagai tanggal kelahiran Kristus di gereja Barat. Perkembangan berikutnya terjadi pada 1582, ketika Paus Gregorius XIII memperkenalkan Kalender Gregorian.

Kalender baru ini dirancang untuk memperbaiki ketidaktepatan Kalender Julian dan menetapkan hari-hari raya gerejawi, termasuk Natal 25 Desember, secara lebih akurat dan konsisten.

Namun, pembaruan tersebut tidak diterima oleh semua gereja. Sejumlah Gereja Ortodoks, termasuk Gereja Ortodoks Rusia, menolak penggunaan Kalender Gregorian dan tetap berpegang pada Kalender Julian.

Meski demikian, hingga 1917, Kekaisaran Rusia masih menetapkan 25 dan 26 Desember sebagai hari libur resmi negara.

Perubahan besar terjadi setelah Revolusi Rusia. Pada 26 Januari 1918, Vladimir Lenin menandatangani undang-undang yang menetapkan penggunaan Kalender Gregorian di Rusia untuk keperluan negara.

Sejak saat itu, Gereja Ortodoks Rusia memilih tetap menggunakan Kalender Julian untuk kehidupan liturgi. Akibat selisih 13 hari antara Kalender Julian dan Gregorian, Natal Ortodoks pun jatuh pada 7 Januari.

Dalam periode berikutnya, terutama sejak 1920-an, negara Soviet menghapus perayaan keagamaan dari kalender hari libur dan melancarkan kampanye anti-agama. Kondisi ini bertahan hingga akhir era Soviet.

Baru pada 27 Desember 1990, Natal Ortodoks kembali diakui sebagai hari libur umum, setelah Dewan Tertinggi RSFSR menetapkan 7 Januari sebagai hari libur resmi atas permintaan Patriark Alexy II.

Tidak Semua Gereja Ortokods

Meski Natal 7 Januari identik dengan Gereja Ortodoks, kenyataannya tidak semua gereja dalam tradisi Ortodoks merayakan Natal pada tanggal tersebut. Perbedaan ini kembali berkaitan dengan sistem kalender yang digunakan masing-masing gereja.

Natal pada 7 Januari hanya dirayakan oleh gereja-gereja yang masih berpegang pada Kalender Julian Lama sebagai dasar penentuan hari raya. Gereja Ortodoks Rusia menjadi contoh paling dikenal dari kelompok ini.

Sementara itu, gereja-gereja Ortodoks yang menggunakan Kalender Julian Baru tetap merayakan Natal pada 25 Desember. Hal ini karena perhitungan tanggal 25 Desember dalam Kalender Julian Baru sama dengan Kalender Gregorian yang digunakan secara internasional saat ini.

Beberapa gereja yang mengikuti Kalender Julian Baru antara lain Gereja Ortodoks Konstantinopel, Gereja Ortodoks Alexandria, dan Gereja Ortodoks Antiokhia. Dengan demikian, perbedaan tanggal Natal di kalangan Ortodoks bukanlah soal ajaran, melainkan pilihan tradisi penanggalan.

Ilustrasi dekorasi Natal

Ilustrasi dekorasi Natal. FOTO/iStockphoto

Bagaimana Umat Ortodoks Merayakan Natal

Perayaan Natal bagi umat Ortodoks diawali dengan persiapan rohani yang khusyuk, yakni menjalani masa Puasa Natal selama 40 hari sebelum hari H. Selama berpuasa, umat dilarang mengkonsumsi daging dan produk hewani tertentu.

Dalam periode ini, umat juga dianjurkan untuk memperbanyak doa serta pengendalian diri sebagai persiapan menyambut kelahiran Kristus.

Puncak persiapan adalah pada Malam Natal tanggal 6 Januari. Setelah mengikuti ibadah sore atau malam yang khidmat, keluarga biasanya berkumpul untuk menyantap perjamuan malam istimewa yang menandakan berakhirnya masa puasa.

Dalam tradisi Ortodoks Ukraina dan Rusia, hidangan Malam Natal biasanya terdiri dari 12 jenis makanan, yang melambangkan dua belas rasul Kristus. Menu tersebut dapat berupa sup kubis, apel panggang, sayur rebus, hingga roti tradisional.

Salah satu hidangan yang paling dikenal adalah kutia atau kutya, makanan berbahan gandum utuh yang dicampur madu dan biji poppy. Hidangan ini melambangkan persatuan keluarga serta harapan akan panen dan kehidupan yang baik di tahun mendatang.

Di Ukraina, tradisi Natal juga mencakup menghias rumah dan meja makan dengan ikatan gandum yang disebut didukh. Ikatan gandum ini diambil dari hasil panen musim gugur dan menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur serta doa untuk keberkahan.

Perayaan Natal pada 7 Januari menunjukkan kekayaan tradisi dalam Kekristenan, khususnya di kalangan Gereja Ortofoks. Perbedaan tanggal ini justru memperkaya khazanah kekristenan global, mengingatkan bahwa dalam iman, ada tradisi sejarah panjang dan keteguhan gereja dalam menjaga tradisi liturginya.

Meskipun demikian, di balik perbedaan itu, makna Natal tetap sama yakni merayakan kelahiran Yesus Kristus dengan damai, kasih, dan pengharapan.

Ingin tahu lebih banyak tentang tradisi Kristen dan makna perayaan Natal di berbagai belahan dunia? Baca juga artikel-artikel Kristen dan Natal lainnya untuk menambah wawasan seputar sejarah gereja, tradisi ibadah, hingga kisah inspiratif di balik hari-hari raya umat Kristiani melalui tautan ini:

Tradisi Natal Lainnya

Baca juga artikel terkait KRISTEN ORTODOKS atau tulisan lainnya dari Robiatul Kamelia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Robiatul Kamelia
Penulis: Robiatul Kamelia
Editor: Robiatul Kamelia & Yantina Debora