Menuju konten utama

Lika-Liku Sistem Penanggalan Masehi Gregorian

Kalender Gregorian yang kita pakai sebagai standar penanggalan internasional ini tak diterima secara instan. Ada proses panjang. Bahkan, bangsa-bangsa di Barat pun tak semua serta-merta mengadopsinya.

Lika-Liku Sistem Penanggalan Masehi Gregorian
Ilustrasi Kalender Gregorian seperti yang umum digunakan saat ini dengan komposisi angka ganjil genap antara 31 dan 30. Foto/iStockphoto

tirto.id - Jika Anda hidup 246 tahun yang lalu di Inggris dan daerah koloninya, dan tertidur di tanggal 2 September 1752 malam, Anda akan terbangun di pagi hari pada tanggal 14 September 1752. Jenny Cohen menuliskan itu dalam artikelnya soal penanggalan Gregorian di laman History.

Hal itu terjadi karena pemerintah setempat tengah mengganti penanggalan dari sistem Julian ke Gregorian.

Dari sederet ragam penanggalan yang ada di muka bumi, sistem Gregorian-lah yang saat ini paling jamak dipakai, meski eksistensi penanggalan lain berdasarkan tradisi kebudayaan dan keagamaan masih ada. Salah satu yang memakainya, tentu saja Indonesia.

Sistem ini terdiri dari hari yang dimulai Senin hingga Minggu, bulan Januari hingga Desember, dengan komposisi angka ganjil genap antara 31 dan 30. Juga adanya tahun kabisat yang angka tahunnya habis dibagi 4.

Model penanggalan Gregorian sejatinya adalah penyempurnaan dari kalender Julian yang telah lebih dahulu dipakai. Keduanya sama-sama menggunakan perhitungan pergerakan matahari yang menggunakan kelahiran Yesus sebagai penanda dimulainya tahun pertama. Patokan itu umumnya memakai singkatan dalam bahasa latin Anno Domini (AD), Before Christ (BC), Masehi (M). Atau penyebutan lain yang dianggap lebih netral dari sisi religius: Common Era (CE).

Jika sistemnya berdasar pada hal yang sama, mengapa harus diganti? Alasan pembentukan kalender Gregorian dapat dilacak dan erat kaitannya dengan penyesuaian kembali jatuhnya Hari Paskah di musim semi oleh Paus Gregorius XVIII.

Catatan National Geographic terkait sejarah penanggalan ini menyebut kala itu mayoritas Eropa masih menggunakan penanggalan Julian yang diperkenalkan oleh Julio Cesar pada 46 SM dengan perhitungan satu tahun adalah 365,25 hari atau 365 hari dan 6 jam. Akibatnya, ada penambahan hari setiap beberapa tahun untuk mengakumulasi perbedaan 11 menit 14 detik karena perputaran bumi terhadap matahari hanya berlangsung selama 365 hari 5 jam 48 menit dan 46 detik.

Lama-lama, datangnya musim semi di Roma tak bersamaan lagi dengan perayaan Hari Paskah karena perbedaan perhitungan tersebut. Maka, Paus Gregorius XVIII di masa kepemimpinannya memperbaiki penanggalan Julian dengan meluncurkan sistem penanggalan Gregorian yang masih berdasar pada perhitungan Masehi dan nama-nama bulan yang sama.

Adalah Aloysius Lilius, seorang astronom dan dokter dari Ciro yang saat ini masuk dalam bagian negara Italia telah melayangkan proposal penanggalan. Setelah ia meninggal dunia, pekerjaannya dilanjutkan dan disempurnakan oleh ahli matematika dan astronom Christopher Clavius asal Jerman. Hasilnya kemudian menjadi dasar reformasi kalender Gregorian dari tahun 1528, seperti dijelaskan August Ziggelar SJ dalam The Papal Bull of 1582 Promulgating A Reform of The Calendar.

The Papal Bull atau Inter Gravissimas yang memuat maklumat tersebut resmi dikeluarkan pada 24 Februari 1582. Paus memerintahkan para rohaniawan Katolik juga seluruh jajaran tertinggi Gereja Katolik mengadopsi sistem kalender baru tersebut.

Laporan Matt Rosenberg pada situs Geography About menyatakan bawa kabar perubahan kalender ini disebarluaskan di seluruh daratan Eropa. Tapi hanya beberapa negara siap dan bersedia untuk mengubah kalender baru di tahun 1582, yakni Italia, Luksemburg, Portugal, Spanyol, dan Perancis.

Reformasi Gregorius ini tentu paling serius dilakukan di lingkungan Gereja Katolik Roma. Namun, maklumat itu tidak punya kekuatan otoritas di luar Gereja Katolik dan negara-negara Kepausan. Sistem ini tak diakui oleh gereja-gereja Protestan yang juga telah banyak menyebar di berbagai belahan dunia, Gereja Ortodoks, dan lainnya. Akibatnya, hari Paskah dan hari libur yang dirayakan oleh Gereja Kristen menjadi berbeda.

Negara-negara yang kemudian ikut bergabung dengan penanggalan Gregorian adalah Katolik Roma di Jerman, Belgia, dan Belanda pada 1584, lalu Hungaria pada 1587. Denmark dan Gereja Protestan Jerman menyusul pada 1704. Inggris dan berbagai daerah koloninya pada 1752, Swedia 1753. Di Asia, Jepang juga pada akhirnya mengadopsi penanggalan Gregorian pada 1873 sebagai bagian dari Westernisasi Meiji.

Pada 1875, Mesir juga menerapkan penanggalan Gregorian. Albania, Bulgaria, Estonia, Latvia, Lithuania, Rumania, dan Turki menyesuaikan antara 1912 hingga 1917. Uni Soviet pada 1919, Yunani pada 1928. Cina yang notabene memiliki penanggalan sendiri telah mengganti kalendernya ke Gregorian pada tahun 1949.

Yang terbaru di tahun 2016 adalah Arab Saudi. Negara yang tadinya menerapkan kalender Hijriah berdasar perputaran bulan ini secara resmi mengganti penanggalan resminya ke kalender Gregorian yang menggunakan perhitungan putaran matahari. Alasannya: ekonomi.

Infografik Kalender Grecorian

Meski sekarang sudah dianggap sebagai standar, masa-masa perubahan ke kalender Gregorian ternyata tidak selalu dilalui dengan mulus. Di Frankfurt serta London, banyak orang mengamuk karena kehilangan hari-hari penting dalam hidupnya. Penetapan pengenaan pajak, pembayaran, penarikan dana dan lainnya yang berkaitan dengan perjanjian tenggat pun jadi masalah di masa transisi.

Setelah perubahan, orang-orang juga masih menggunakan kalender Julian sebagai solusi masa transisi, sehingga mereka dapat memeriksa catatan yang ada di kalender lama.

Di masa kini, kalender Gregorian berdasar perhitungan matahari yang dikenal juga sebagai kalender Masehi dipakai secara umum di dunia internasional. Sistem penanggalan lainnya adalah kalender yang didasarkan pada pergerakan bulan, yang juga sering dikenal sebagai kalender Hijriah. Di Indonesia, acara-acara ritual berdasar penanggalan Jawa juga mengikuti kalender Hijriah ini.

Ada juga komunitas yang masih memakai kalender Julian, misalnya Gereja Ortodoks Timur. Akibatnya, ada perbedaan tanggal perayaan Natal. Seperti ditulis oleh Fr John Ramzi dalam Coptic Orthodox Church Network, jika umat Kristen pada umumnya yang berpatok pada penanggalan Gregorian merayakan setiap tanggal 25 Desember, mereka yang berdasar penanggalan Julian merayakan Natal pada 7 Januari.

Selain itu, ada juga beberapa komunitas Gereja yang menggunakan kalender Julian namun dengan versi revisi yang pernah dilakukan di awal abad ke-0, sehingga perayaan Natal tetap jatuh pada 25 Desember seperti pada kalender Gregorian.

Baca juga artikel terkait TAHUN BARU atau tulisan lainnya dari Tony Firman

tirto.id - Humaniora
Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Maulida Sri Handayani