tirto.id - Gen Z sering dicap sebagai generasi pecinta kopi. Fenomena tren kopi susu kekinian hingga menjamurnya coffee shop estetik memunculkan anggapan bahwa Gen Z sudah kecanduan kopi. Namun, apakah anggapan tersebut didukung fakta atau stereotipe belaka?
Kopi memang sudah menjadi salah satu jenis minuman yang identik dengan gaya hidup modern. Tidak lagi sekadar penghilang kantuk, kopi kini hadir sebagai bagian dari rutinitas harian, simbol produktivitas, bahkan jadi sarana untuk bersosialisasi.
Di antara berbagai generasi, Generasi Z atau Gen Z menjadi salah satu kelompok yang paling menonjol dalam tren konsumsi kopi. Mereka tidak hanya menikmati kopi dari segi rasa, tapi juga dari pengalaman yang ditawarkan, mulai dari suasana tempat, tampilan minuman, hingga nilai yang dibawa oleh brand.
Kopi pun memiliki peran yang jauh lebih luas, bukan sekadar minuman, tapi juga sebagai bagian dari ekspresi diri dan identitas sosial. Hal ini pula yang mungkin mendorong terjadinya kecanduan kopi di kalangan anak muda sehingga Gen Z dan kopi seolah tak terpisahkan.
Gen Z Cenderung Menyukai Kopi

Gen Z telah menjadi motor utama dalam hal pertumbuhan konsumsi kopi. Data dari National Coffee Data Trends (NCDT) 2021 menunjukkan bahwa 46% Gen Z (usia 18-24 tahun) mengonsumsi kopi setiap hari, dan angka tersebut terus meningkat.
Tren ini juga diikuti peningkatan konsumsi kopi di luar rumah sebesar 16%, baik diminum saat traveling atau dalam perjalanan, diminum di tempat makan/kafe, dan yang paling banyak adalah diminum di tempat kerja.
Lalu, kenapa Gen Z cenderung menyukai kopi? Ada beberapa faktor yang memengaruhi, mulai dari pendapatan hingga tren di media sosial.
Faktor Pendapatan dan Daya Beli

Ketertarikan Generasi Z terhadap kopi tidak lepas dari kekuatan daya beli mereka yang relatif besar. Dikutip dari situs Coffee Intelligence, Gen Z disebut sebagai generasi dengan pendapatan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya di usia yang sama.
Data dari The Economist menunjukkan bahwa Gen Z dengan rata-rata usia 25 tahun memiliki pendapatan di atas $40.000, lebih dari 50% lebih tinggi dibanding Baby Boomers di usia yang sama.
Sementara menurut Bloomberg, dengan jumlah populasi mencapai 30% dari total penduduk dunia, Gen Z diperkirakan memiliki pendapatan siap beli (disposable income) sebesar $360 miliar.
Hal ini membuat Gen Z memiliki kemampuan dan keberanian untuk membelanjakan uang, termasuk untuk produk gaya hidup seperti kopi, terutama di segmen specialty coffee (dibuat dari biji kopi premium dengan kualitas lebih tinggi dari kopi biasa).
Preferensi dan Cara Menikmati Kopi

Pertumbuhan jumlah pencinta kopi di kalangan Gen Z juga dipengaruhi oleh preferensi dan selera. Mereka biasanya menyukai minuman yang lebih variatif dan inovatif, seperti kopi dingin, ready-to-drink, hingga minuman dengan rasa unik yang sulit dibuat di rumah.
Bahkan, menurut data NCDT 2021, konsumsi kopi dingin meningkat hingga 50% sejak 2021. Ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi dari kopi tradisional ke pilihan yang lebih praktis dan modern.
Selain itu, Gen Z memiliki pendekatan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya dalam menikmati kopi. Jika milenial identik dengan “third wave coffee” yang fokus pada kualitas tinggi dan teknik kompleks, Gen Z justru menginginkan kopi yang lebih santai, fun, dan mudah didapat.
Mereka cenderung tertarik pada kemasan yang menarik, rasa yang lebih variatif dan eksploratif, serta pengalaman yang lebih personal.
Pengaruh Lingkungan Sosial

Dalam artikel ilmiah bertajuk Coffee Consumption and Consumer Purchasing Behaviors of Generation Z, lingkungan sosial menjadi salah satu faktor terkuat yang memengaruhi kecintaan Gen Z terhadap kopi.
Generasi ini cenderung menjadikan aktivitas minum kopi sebagai bagian dari interaksi sosial, seperti nongkrong di coffee shop, belajar bersama, hingga bekerja secara santai.
Dalam banyak kasus, keputusan untuk membeli kopi tidak hanya didasarkan pada kebutuhan, tapi juga pada keinginan untuk terhubung dengan teman atau mengikuti kebiasaan kelompok.
Selain itu, Gen Z umumnya lebih peka terhadap tren yang berkembang di lingkaran sosial mereka. Rekomendasi dari teman, kebiasaan komunitas, hingga budaya ngopi bareng turut membentuk preferensi mereka terhadap jenis kopi tertentu.
Pengaruh sosial ini juga diperkuat oleh adanya kebutuhan untuk merasa “included” atau menjadi bagian dari kelompok. Ketika kopi menjadi tren di lingkungan mereka, Gen Z cenderung ikut mengadopsinya agar tetap relevan secara sosial.
Hal ini membuat kopi lebih dari sekadar minuman, tapi juga jadi simbol gaya hidup dan identitas sosial yang ingin mereka tampilkan. Inilah yang akhirnya membuat konsumsi kopi di kalangan Gen Z terus meningkat.
Faktor Media Sosial

Kecanduan kopi yang banyak dialami Ge Z juga bisa dipengaruhi oleh media sosial. Sebagai generasi digital native, Gen Z sangat terpapar berbagai konten visual yang berhubungan degan kopi.
Banyak konten yang menampilkan kopi dengan cara menarik, mulai dari tampilan minuman yag menggugah selera, kemasan estetik, hingga suasana coffee shop yang Instagramable. Hal ini secara tidak langsung mendorong rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba.
Selain itu, kehadiran influencer dan kreator konten juga mendukung tren ini. Banyak Gen Z yang tertarik membeli kopi setelah melihat review, rekomendasi, atau konten viral di platform seperti Instagram, TikTok, hingga YouTube.
Kopi yang unik, rasa yang tidak biasa, atau pengalaman cozy dan menyenangkan yang ditawarkan sebuah coffee shop sering kali lebih cepat populer karena mudah menarik perhatian Gen Z secara visual.
Lebih jauh lagi, media sosial tidak hanya memengaruhi keputusan pembelian, tapi juga membentuk ekspektasi. Gen Z cenderung mencari pengalaman yang tidak hanya enak secara rasa, tapi juga “layak dibagikan” di media sosial.
Efek Kebanyakan Minum Kopi

Banyak Gen Z yang tak bisa lepas dari kopi. Konsumsi minuman berkafein ini pun telah menjadi rutinitas setiap hari. Lantas, adakah dampak negatif dari kebanyakan minum kopi? Dilansir dari Healthline, berikut beberapa efek yang bisa terjadi jika meminum kopi secara berlebihan.
1. Memicu Kecemasan
Kafein bekerja dengan meningkatkan kewaspadaan dengan cara menghambat adenosin (zat kimia otak yang membuat kita mengantuk) sekaligus memicu pelepasan adrenalin. Namun, jika dikonsumsi berlebihan, efek ini bisa menjadi terlalu kuat dan justru menyebabkan rasa cemas, gelisah, hingga jantung berdebar.2. Mengganggu Kualitas Tidur
Salah satu manfaat utama kopi adalah membantu kita tetap terjaga, tapi konsumsi berlebihan justru bisa berdampak sebaliknya. Kafein dapat membuat kita lebih sulit tertidur (insomnia), memperpanjang waktu untuk terlelap, dan mengurangi durasi tidur secara keseluruhan.3. Gangguan Pencernaan
Kopi dikenal dapat merangsang pergerakan usus karena memicu produksi hormon gastrin yang mempercepat aktivitas di usus besar. Jika dikonsumsi terlalu banyak, efek ini bisa berlebihan dan menyebabkan gangguan pencernaan seperti perut mulas, buang air besar lebih sering, bahkan diare.4. Risiko Kerusakan Otot (Rhabdomyolysis)
Meski jarang terjadi, konsumsi kafein berlebihan dapat memicu rhabdomyolysis, yaitu kondisi serius ketika serat otot rusak dan masuk ke aliran darah. Kondisi ini bisa berujung pada gangguan ginjal dan masalah kesehatan lainnya.Meski umumnya disebabkan oleh cedera atau infeksi, ada beberapa laporan yang mengaitkannya dengan asupan kafein yang terlalu tinggi sehingga tetap perlu diwaspadai.
5. Menyebabkan Ketergantungan/Kecanduan Kopi
Kafein memang tidak tergolong zat adiktif seperti narkoba, tapi tetap bisa menimbulkan ketergantungan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan rutin dalam jangka panjang.Salah satu ciri ciri kecanduan kopi adalah sulitnya melewatkan hari tanpa minuman berkafein ini. Ciri lainnya adalah meningkatnya toleransi atau kebutuhan jumlah kafein yang lebih banyak untuk mendapatkan efek yang sama.
Selain itu, seseorang bisa sulit beraktivitas dengan baik tanpa kafein, seolah merasa “tidak hidup” sebelum minum kopi. Dan, ketika mencoba berhenti ngopi, bisa muncul gejala fisik seperti sakit kepala, kelelahan, mudah marah, nyeri otot, hingga mual atau muntah.
6. Meningkatkan Tekanan Darah
Kafein dapat meningkatkan tekanan darah meskipun biasanya bersifat sementara. Pada sebagian orang, terutama yang jarang mengonsumsi kafein, efek ini bisa terasa lebih kuat. Jika terjadi terus-menerus, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti serangan jantung dan stroke.7. Detak Jantung Lebih Cepat
Konsumsi kopi dalam jumlah tinggi dapat merangsang jantung untuk berdetak lebih cepat dari biasanya. Dalam beberapa kasus, bahkan bisa memicu gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrium, terutama jika minum kopi dengan dosis kafein tinggi.8. Kelelahan setelah Efek Kafein Hilang
Meski kopi dikenal bisa meningkatkan energi dan fokus, efek ini tidak selalu bertahan lama. Setelah kafein hilang dari tubuh, beberapa orang justru mengalami rebound fatigue atau rasa lelah yang lebih besar dari sebelumnya.9. Lebih Sering Buang Air Kecil
Kafein memiliki efek diuretik yang dapat merangsang kandung kemih sehingga membuat seseorang lebih sering buang air kecil. Jika dikonsumsi berlebihan, kondisi ini bisa menimbulkan rasa ingin buang air kecil terus-menerus atau urgensi yang mengganggu aktivitas.Manfaat Minum Kopi

Kecanduan kopi memang bisa berdampak negatif bagi kesehatan. Sebaliknya, jika dikonsumsi secara moderat, kopi sebenarnya memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh, berikut di antaranya:
1. Meningkatkan Energi
Kafein membantu memblokir adenosin, zat kimia di otak yang membuat kita merasa lelah, sekaligus meningkatkan dopamin. Oleh karena itu, minum kopi bisa membuat tubuh terasa lebih segar, meningkatkan fokus, dan bahkan membantu meningkatkan performa saat beraktivitas fisik.2. Berpotensi Menurunkan Risiko Diabetes Tipe 2
Jurnal Coffee Consumption and Reduced Risk of Developing Type 2 Diabetes: A Systematic Review with Meta-Analysis menunjukkan bahwa konsumsi kopi dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2. Setiap satu cangkir kopi per hari disebut dapat menurunkan risiko hingga sekitar 6%.3. Mendukung Kesehatan Otak
Kopi berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan otak, terutama dalam mengurangi risiko penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson. Salah satu studi yang mendukung fakta ini adalah jurnal The Effect of Caffeine on the Risk and Progression of Parkinson’s Disease: A Meta-Analysis.4. Membantu Mengelola Berat Badan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kopi dapat membantu dalam manajemen berat badan, salah satunya jurnal Coffee Intake and Obesity: A Meta-Analysis. Studi ini menyimpulkan bahwa konsumsi kopi yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan lemak tubuh.5. Menurunkan Risiko Depresi
Minum kopi juga dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih baik. Hal ini diduga berkaitan dengan efek kafein terhadap zat kimia otak seperti dopamin yang berperan dalam mengatur suasana hati, sehingga membantu menjaga mood tetap stabil.6. Menjaga Kesehatan Hati
Penelitian bertajuk Coffee Consumption Is Associated With Lower Liver Stiffness: A Nationally Representative Study menunjukkan bahwa konsumsi kopi dikaitkan dengan penurunan risiko kekakuan hati yang menjadi indikator fibrosis atau pembentukan jaringan parut di hati.7. Mendukung Kesehatan Jantung
Beberapa riset menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah moderat dapat memberikan manfaat bagi kesehatan jantung, salah satunya dalam jurnal Coffee Consumption and Cardiovascular Disease: A Condensed Review of Epidemiological Evidence and Mechanisms.Dalam studi ini, minum sekitar 3-5 cangkir kopi per hari dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung hingga 15%.
Itu dia penjelasan terkait kecanduan kopi yang banyak dialami Gen Z, mulai dari faktor yang memengaruhi, efek jika kebanyakan minum kopi, hingga manfaatnya bagi tubuh.
Apa pun tujuannya, konsumsi kopi tetap perlu dilakukan secara bijak dan seimbang agar manfaatnya bisa dirasakan tanpa menimbulkan dampak negatif.
Dengan memahami batas aman serta kebutuhan tubuh masing-masing, kopi bisa tetap menjadi bagian dari gaya hidup modern yang menyenangkan sekaligus menyehatkan.
Ingin tahu lebih banyak tentang manfaat kopi atau info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id






































