Kopi Susu Kekinian: Di Antara Dana Besar, Modal Ventura, dan Tren

Oleh: Nuran Wibisono - 3 Juli 2019
Dibaca Normal 4 menit
Tren kopi susu kekinian merebak sejak setidaknya dua tahun terakhir. Melibatkan uang besar, namun punya banyak tantangan.
tirto.id - Saat pertama kali menjejakkan kaki di Kemang Timur, Jakarta Selatan, enam tahun silam, tujuan pertama saya adalah Coffeewar. Kafe yang didirikan oleh Sumule bersaudara, Yogi dan Derby, ini sudah ada di Kemang Timur sejak 2009.

Kemang Timur saat itu terasa berbeda dengan kawasan Kemang lain. Masih banyak pepohonan besar di kanan dan kiri jalan. Juga tak banyak kendaraan yang melintas—meski sesekali ada motor dengan knalpot berbunyi nyaring membelah jalan.

Coffeewar saat itu menawarkan suasana kedai kopi rumahan. Kecil, kadang terasa sesak, tapi berhasil menyodorkan suasana intim. Hubungan penjual dan pembeli akrab. Tak jarang antar-pembeli bahkan saling kenal. Coffeewar juga jadi tempat nongkrong bagi banyak sastrawan maupun seniman. Yusi Avianto Pareanom, salah satunya. Penulis novel Raden Mandasia (2016) ini menjadikan Coffeewar sebagai sampul untuk cetakan pertama buku kumpulan cerpennya, Rumah Kopi Singa Tertawa (2011). Coffeewar juga menjadi kawah candradimuka bagi banyak band yang ingin tampil tapi kesusahan tempat manggung.

Suasana ini sedikit banyak bikin saya ingat apa yang ditulis Mark Pendergrast dalam Uncommon Ground (1999). Pada buku yang nyaris lengkap mendedah perjalanan kopi, dari Abyssinia hingga era kopi gelombang ketiga yang bermula pada dekade 1990-an, Pendergrast menulis tentang kemunculan kedai-kedai kopi di Greenwich Village, New York, kawasan berkumpul para seniman.

“Pada pertengahan 50-an,” tulisnya, “kegilaan terhadap espresso telah menyebabkan kebangkitan kedai-kedai kopi kecil terutama di Greenwich Village tempat para bohemian, penyair, seniman, dan beatnik bisa menyesap espresso di Reggio’s, the Limelight, atau di the Peacock.”

Percik kehadiran kedai kopi kecil di New York ini lantas menyebar ke kota lain, termasuk San Francisco. Seperti itu pula Coffeewar di Kemang Timur. Kawasan yang tenang tapi dianggap punya aura seni yang kerap disandingkan dengan Ubud ini lantas menjadi rumah bagi banyak kedai kopi.


Sekarang, enam tahun sejak saya mengobrol dengan Derby, sudah ada setidaknya tiga belas kedai kopi lain di Kemang Timur Raya, yang hanya sepanjang dua kilometer ini. Ya, anda tidak salah baca. Total ada empat belas kedai kopi di jalur yang hanya sepanjang dua kilometer. Ini artinya ada satu kedai kopi setiap 145 meter. Mungkin berlebihan, tapi bisa jadi Kemang Timur adalah kawasan paling padat kedai kopi di seluruh dunia.

Padatnya usaha kedai kopi ini sedikit banyak mengubah konstelasi perkopian di Kemang Timur.

Coffeewar sudah pindah sekitar 300 meter ke arah utara. Tempatnya kini digantikan oleh Sangkala Coffee. Berjarak lima langkah ke kanan dari Sangkala, berdiri Kopi Gelas Kedua. Lalu lima langkah ke arah kiri, ada The Vaperadise—tempat penjualan vape yang lantas menambah gerai penjualan kopi.

Sangkala, Kopi Gelas Kedua, juga The Vaperadise, adalah tiga contoh dari apa yang disebut sebagai kedai kopi kekinian. Sedikit berbeda dengan Coffeewar yang menyajikan kopi dengan sistem penyeduhan manual, kedai kopi kekinian ini menyajikan kopi susu sebagai jualan utama, dengan beberapa varian kopi unggulan masing-masing.

Kopi Gelas Kedua, misalkan, punya menu Black Forrest Coffee, espresso yang dicampur dengan susu dan selai strawberry. Rasanya? Seperti menyantap sepotong kue black forrest—dengan sedikit jejak rum—versi cair.

Selain jenis sajian yang segendang sepenarian, mereka punya ciri lain: kopi disajikan dalam gelas plastik.

“Dulu, indikator untuk melihat kedai kopi serius atau enggak, lihat saja mesinnya. Sekarang, kalau mau lihat indikator kedai kopi kekinian itu, cukup lihat apakah mereka punya plastic cup sealer,” ujar Adi Taroepratjeka dari 5758 Coffee Lab sembari terkekeh.

Berawal dari Tuku

Pada dasarnya, kopi susu bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul. Jika mengesampingkan sejenak budaya latte yang lahir di Italia pada abad 17, orang-orang Indonesia sudah minum kopi susu sejak puluhan tahun lalu. Di pasar, kopi susu disajikan di cangkir atau gelas belimbing. Komposisinya standar: kopi hitam—seringkali yang disangrai bareng beras atau jagung—serta sedikit gula dan susu kental manis.

Tapi tren kopi susu kekinian ini sedikit berbeda. Pertama, dari resep saja sudah tak sama. Kedai kopi kekinian nyaris tidak memakai susu kental manis, melainkan susu UHT. Begitu pula gula, jarang yang pakai gula pasir, melainkan gula aren.

Kemudian, berbeda dengan kedai kopi rakyat yang biasanya tumbuh secara organik dan berada di pusat-pusat keramaian seperti pasar atau terminal, tren kopi susu kekinian lahir berkat momentum.

Setuju atau tidak, suka atau tidak, kedatangan Presiden Jokowi ke Tuku, kedai kopi di Cipete, Jakarta Selatan, bisa dibilang sebagai pemicu menjamurnya kedai kopi serupa. Kedatangan Jokowi ke Tuku pada 2017 bisa dibilang sebagai dukungan terhadap produk lokal berkualitas baik, dan sampai sekarang terbukti tuahnya.

Apalagi, apa pun produk yang dipamerkan oleh Jokowi akan jadi tren. Ini juga didukung oleh viralitas di media sosial, yang membuat Tuku terus berkembang dan mendorong kelahiran produk-produk serupa.


Hanya butuh waktu dua tahun, epigon Tuku bermunculan di sana-sini. Dalam sekelebat, kamu bisa menyebut: Kenangan, Fore, Kulo, Di Bawah Tangga, Makna Coffee, Sejiwa, Janji Jiwa, dan ribuan lain yang mustahil untuk dihapal satu per satu. Mereka semua punya karakter yang mirip-mirip.

Kedai kopi ini umumnya tak menghuni bangunan luas. Seringkali hanya menyediakan beberapa meja dan kursi di luar kedai. Konsep utamanya adalah kopi untuk dibungkus (grab and go): bisa datang sendiri, via aplikasi, atau via ride sharing. Menu pun nyaris serupa: kopi susu dengan gula aren.

Tak ada yang tahu pasti berapa jumlah kedai kopi kekinian. Sudah pasti ribuan. Andi K. Yuwono dari 5758 Coffee Lab pernah menyebut dari survei yang dilakukan secara mandiri, ada sekitar 400 hingga 600 kedai kopi di Bandung.

Infografik HL Indepth Coffee Shop
Infografik HL Indepth Coffee Shop Mau Buka Kafe


Melibatkan Uang Besar

Satu yang pasti, perputaran ekonomi kopi susu ini amat kencang dan melibatkan uang amat besar. Menurut laporan SWA pada Desember 2018, Kopi Kenangan, salah satu pemain utama di kedai kopi kekinian, berhasil menjual sekitar 200 ribu gelas dari 16 gerainya. Jika mengambil patokan harga terendah, Rp18 ribu per gelas, omzet kotornya mencapai Rp4 miliar per bulan. Dengan pertumbuhan kencang ini, target besar mereka canangkan: bisa menjual 1 juta cup per bulan pada 2019.

Begitu juga di Fore Coffee. Meski baru berdiri pada 2018, kedai kopi ini langsung tekan pedal gas dalam-dalam. Menurut Elisa Suteja, pendiri sekaligus Deputy CEO Fore Coffee, mereka berhasil menjual ratusan ribu cup per bulan—diperkirakan sekitar 300 ribu cup—dari 35 gerai. Mereka bahkan tak hanya memosisikan diri sebagai kedai kopi, melainkan perusahaan rintisan. Penjualan terbesarnya bukan dari ride sharing atau pembelian langsung, melainkan dari aplikasi yang kini sudah diunduh lebih dari 500 ribu kali.

“Sekitar 75 persen transaksi kami datang dari aplikasi Fore,” ujar Elisa kepada Tirto.

Kopi Kenangan dan Fore adalah dua jenama kedai kopi yang kemudian mendapat perlakuan seperti perusahaan rintisan: menerima pendanaan dari perusahaan venture capital.


Kopi Kenangan mendapat dua kali pendanaan. Pertama, Rp121 miliar dari Alpha JWC pada 2018. Kemudian, Rp288 miliar dari Sequoia India pada tahun ini. Dengan dana melimpah itu, mereka punya target punya 1.000 gerai pada 2021.

Sedangkan Fore mendapatkan pendanaan sekitar Rp118 miliar dari beberapa investor seperti East Ventures, SMDV, dan Agaeti Venture Capital. Target tahun ini: membuka 100 gerai baru.

Selain itu, tren bisnis kedai kopi ini menguntungkan bagi para pelaku industri perlengkapan kopi. Mereka membuat paket-paket untuk konsumen yang ingin membuka kedai kopi, baik skala kecil maupun besar.

Otten Coffe, misalkan, punya paket bernama Buka Cafe, dengan rentang harga Rp2,9 juta hingga Rp85,5 juta. Begitu pula Coffeeland yang menawarkan paket serupa, dari harga Rp72,5 juta hingga Rp145 juta.

Namun, kabar baik ini juga perlu diwaspadai. Sebab, apa yang hadir dalam jagat kuliner seringkali datang dan pergi. Tren silih berganti. Maka, wajar jika banyak orang bertanya: Apakah kedai kopi kekinian adalah tren semata? Kalau ya, akan bertahan sampai kapan?

Para kaum pesimis akan mengatakan tren kopi kekinian tak akan bertahan lama, sama seperti tren kuliner lain yang pasang dengan cepat serta surut dengan lekas pula (halo, Es Kepal Milo?)

Sedangkan kaum optimis bilang tren boleh berganti, tapi konsumsi kopi di Indonesia akan tetap bertumbuh. Seperti yang dibilang oleh Adi Taroepratjeka, "tren kopi susu kekinian membuka pasar baru. Dari yang tidak pernah minum kopi jadi minum kopi."

Artinya, kedai kopi kekinian masih akan terus ada, tinggal menyesuaikan keinginan pasar.

Tren kopi kekinian memang membuat konsumsi kopi Indonesia terus meningkat. Pranoto Sunarto, Wakil Ketua Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), berkata dulu konsumsi kopi di Indonesia pernah di titik 0,8 kilogram per kapita.

“Tahun 2017 meningkat jadi 1,2 kilogram per kapita. Dan tahun 2018 bisa sampai 1,4 hingga 1,5 kilogram per kapita,” ujarnya kepada Tirto.

Tentu saja pertumbuhan kedai kopi ini bakal melewati banyak aral. Ada banyak isu yang kemudian muncul ke permukaan. Dari rendahnya gaji barista hingga dampak buruk ke lingkungan karena penggunaan plastik.

Namun, sekarang, sepertinya roda kedai kopi kekinian akan terus melaju. Kencang dan akan terus kencang.

Baca juga artikel terkait KEDAI KOPI atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan