tirto.id - Berbagai macam gerobak dengan motor listrik telah terlihat di sepanjang gerbang belakang Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) sejak pukul 10.00. Mereka adalah para penjual kopi gerobak keliling yang akhir-akhir ini ramai diminati banyak kalangan, terutama anak muda.
Kepemilikan kopi gerobak tersebut beragam, ada yang milik pribadi si penjual keliling, ada pula yang milik pengusaha kopi--artinya si penjual keliling hanya karyawan--contohnya seperti Kopi Brek.
Kopi Brek baru berjalan kurang lebih 5 bulan. Saat ini, gerobaknya telah tersebar di empat titik di Kota Solo, yakni 2 unit di kawasan gerbang belakang UNS, 1 unit di dekat kantor TATV, dan 1 unit di dekat Taman Jaya Wijaya, Mojosongo.
"Rencana tambah 1 penempatan, tapi untuk tempatnya belum tahu. Itu nanti yang menentukan bosnya," kata Rafi, karyawan Kopi Brek saat ditemui Tirto, Rabu (7/5/25).
Rafi (24) merupakan salah satu karyawan Kopi Brek yang berjualan di gerbang belakang UNS. Ia telah bergabung dengan Kopi Brek sejak berdirinya usaha ini pada Januari 2025. Sebelumnya, ia bekerja di salah satu coffee shop bernama Teman Kopi.
Kemudian ia mendengar terdapat usaha kopi gerobak yang sedang membutuhkan karyawan. Akhirnya Rafi tertarik dan bergabung bersama Kopi Brek hingga saat ini.
Rafi mengungkapkan, dalam sehari ia membawa 100 cup kopi dan dapat menjualnya sekitar 80 cup. Kopi-kopi itu dipersipkan pada malam hari, dan esoknya setiap karyawan membawanya ke beberapa titik penjualan yang telah ditentukan.
Menurut Rafi, Kopi Brek digandrungi berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga masyarakat umum. Kopi gerobak, kata dia, banyak dicari masyarakat di pagi hari.
"Banyak masyarakat kalau pagi sampai sore cari kopi yang keliling. Kalau malam kebanyakan pengennya ke coffee shop. Makanya kami buka dari pagi sampai sore, sekitar pukul 4," terangnya.
Kopi Brek memiliki berbagai menu kopi dan non-kopi dengan rentang harga mulai dari Rp8.000 hingga Rp12.000. Selain minuman, Kopi Brek juga menjual roti sebagai pelengkap dengan harga Rp5.000.
Harga yang terjangkau dan fleksibilitas lokasi kopi gerobak menunjukkan perilaku konsumen yang ingin mendapat kemudahan secara akses, tapi dengan biaya yang murah. Kopi gerobak berpotensi menjangkau segmen pasar yang luas, terutama kelas menengah ke bawah.

Perlu Terobosan Agar Bisa Bertahan
Bisnis kopi gerobak merupakan usaha yang sangat relevan dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Namun, yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan agar tidak menjadi bisnis musiman.
"Ada beberapa produk hanya 2-3 bulan laku, habis itu hilang. Makanya perlu ada optimalisasi inovasi secara profesional," kata Didik Prasetyanto, akademisi Studi Kelayakan Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UNS.
Bisnis kopi gerobak yang mulai bermunculan harus bersaing dengan sesama pengusaha kopi gerobak dan juga coffee shop. Didik melihat ini sebagai tantangan bagi para pelaku bisnis kopi gerobak keliling. Untuk itu, Didik menyebutkan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kopi gerobak dapat bersaing dengan coffee shop dan usaha kopi gerobak lain.
Pertama, kopi gerobak perlu melakukan diferensiasi produk, misalnya varian rasa atau racikan kopi yang bisa menjadi ciri khas kopi gerobak tersebut. Terkait hal ini, Kopi Brek memiliki varian rasa kopi yang beragam, mulai dari americano, avocado latte, butterscotch latte, dan kopi susu gula aren yang jadi primadona. Selain kopi, Kopi Brek juga menyediakan menu non-kopi seperti Thai Tea dan cokelat.
Selanjutnya adalah mengenai citra atau branding. Di tengah persaingan kopi gerobak yang memiliki bentuk serupa, pemilik usaha kopi gerobak perlu menciptakan branding yang berbeda serta unik agar mudah diingat konsumen.
"Saya beli minuman Aqua, tapi ternyata yang dibeli ada Ultra, Le Minerale, dan lain-lain. Branding perlu dibangun, dalam artian gerobak perlu dibangun mungkin gerobaknya yang beda, yang unik," ujar Didik, Rabu (7/5/25).
Ia menambahkan, lokasi atau titik penjualan kopi gerobak juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Pengusaha kopi gerobak perlu memerhatikan lokasi-lokasi mana saja yang sering dilewati oleh banyak orang. Menurut Didik, pengusaha juga bisa melakukan eksperimen sederhana untuk memperkirakan calon konsumen.
Empat titik lokasi penjualan Kopi Brek dianggap telah cukup ideal. Dua gerobak di tempatkan di UNS untuk menggaet pasar mahasiswa. Sedangkan penempatan gerobak di daerah Mojosongo, yakni di dekat kantor TATV dan Taman Jaya Wijaya diharapkan dapat menarik para pekerja atau karyawan kantoran.
Terakhir, yang tak kalah penting menurut Didik adalah soal digitalisasi. Bukan hanya soal pemasaran di media sosial, Didik juga menekankan pentingnya ulasan dari konsumen.
"Bisa mengembangkan di Google Maps, ada review. Ada namanya untuk meningkatkan review. Itu penting untuk memudahkan orang melihat, oh ini bintangnya berapa sih. Itu sangat penting sekali," kata Didik.
Ia menambahkan, jika ulasan-ulasannya bagus, bisnis dapat berkembang bahkan pengusaha bisa memulai membangun kemitraan atau waralaba. Selain itu, pengembangan usaha kopi gerobak juga dapat dimulai lewat kerja sama dengan organisasi kampus dan berpartisipasi dalam acara kampus, hingga menyasar tempat-tempat wisata yang ramai pengunjung.

Berjalan Beriringan
Membandingkan usaha kopi gerobak dan coffee shop mungkin terlihat kurang tepat karena mereka memiliki segmentasi pasar yang berbeda. Biasanya coffee shop memiliki target pasar dari kalangan menengah ke atas, sedangkan kopi gerobak dari menengah ke bawah. Perbedaan lain adalah tentu saja masalah biaya atau modal. Didik menyebut, kopi gerobak cocok bagi pelaku usaha baru dengan modal yang sedikit namun mau menjangkau pasar yang lebih luas.
"Kopi gerobak keliling itu modal rendah, biaya operasional rendah. Lokasi keliling, mobile, jadi lebih cepat kalau mau berpindah. Kalau coffee shop, kan tempatnya di situ. Mereka membangun citra, branding yang kuat," papar Didik.
"Kopi konvensional (coffee shop) modalnya cukup besar, risiko juga besar tapi segmentasi beda-beda," lanjutnya.
Bahkan Didik menyebut bahwa kopi gerobak dan coffee shop dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi.
"Kalau kopi gerobak sudah berhasil dan menjadi besar, bisa mendirikan coffee shop. Bisa juga coffee shop yang besar membuat juga gerobak-gerobak yang kecil," pungkasnya.
Penulis: Adisti Daniella Maheswari
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































