tirto.id - Bagi masyarakat dataran tinggi Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, kopi bukan hanya sekadar komoditas. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari keseharian: hadir dalam obrolan santai di beranda, hingga menjadi sajian dalam berbagai ritus adat.
Kesan itu saya tangkap usai berkunjung ke sejumlah tempat di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur bersama sejumlah jurnalis, untuk meliput pembangunan fasilitas air bersih, pada pertengahan Maret 2026 lalu.
Kedekatan masyarakat dengan kopi tampak jelas dari apa yang tersaji sepanjang perjalanan. Di hampir setiap sekolah maupun kantor kepala desa yang kami datangi, kopi hitam selalu dihidangkan.
Di Desa Tango Molas, Manggarai Timur, misalnya, kami disuguhi kopi hitam pahit saat bertamu ke rumah kepala desa, Alexandrus atau yang biasa dipanggil Alex.
Baru saja kami duduk di ruang tamu, seorang anak perempuan keluar dari dapur membawa nampan penuh gelas-gelas kopi. Uap dari minuman berwarna pekat itu menguar, menghadirkan aroma khas yang mengundang kami untuk menyesapnya perlahan.
Usai menikmati suguhan, saya berkeliling di sekitar rumah Alex untuk melihat proses kopi tersebut hingga sampai ke gelas kami. Kebetulan cuaca sedang bersahabat hari itu: gerimis hanya turun selintas, menahan terik matahari siang.
Di samping rumah, istri Alex tengah menggiling kopi yang baru saja selesai disangrai. Tanpa mesin khusus, ia menyangrai kopi hanya dengan kuali, lalu menggilingnya dengan penggiling bermotor.
Istri Alex melakukan proses itu tanpa mengukur tingkat kehalusan gilingan ataupun menentukan profil sangrai dari biji kopi. Prosesnya serba kira-kira. Barista andal mungkin akan mengernyit melihatnya. Namun, bagi saya, proses yang tradisional dan sederhana itulah yang membuat kopi tersebut memiliki “bumbu” tambahan sehingga membuatnya terasa lebih enak.

Sebagai dataran tinggi, wilayah tempat tinggal Alex berhawa sejuk: memiliki suhu sekitar 24 derajat Celsius pada siang hari dan turun hingga 18 derajat pada malam hari. Ini tak lepas dari topografi kawasan Poco Ranaka Timur—penghasil kopi paling produktif dibandingkan tujuh kecamatan lain di Kabupaten Manggarai Timur—, yang hampir seluruh desanya bertipe lereng atau perbukitan.
Dalam kondisi geografis seperti itu—ditambah ketinggian lebih dari 1.016 meter di atas permukaan laut—tanaman kopi menemukan habitat ideal untuk tumbuh subur.
Tak heran jika Alex menyebut bahwa mayoritas penduduk, yang jumlahnya sekitar 2.615 orang, di Tango Molas merupakan petani kopi. Pernyataan itu makin dikuatkan dengan pemandangan berbagai kebun kopi milik warga yang kami jumpai sepanjang perjalanan menuju rumah Alex. Bahkan, beberapa tanaman kopi bisa terlihat ditanam di teras-teras rumah. Sayangnya, saat kami datang ke sana, masa panen kopi belum tiba.
“Biasanya mereka panen itu setiap Juni sampai Agustus. Bahkan bisa sampai dapat satu ton setiap panen,” kata Alex saat ditemui di rumahnya.
Saat masa panen tiba, lapangan besar di depan rumah Alex yang biasa dijadikan tempat anak-anak bermain bola, akan disulap menjadi tempat penjemuran biji kopi. Setelahnya, biji itu akan dikemas di dalam karung dan dikirim ke berbagai daerah. Tujuan terdekat adalah Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Meski demikian, kopi dari Manggarai Timur juga telah menembus pasar ekspor, salah satunya Australia.
Menurut Alex, salah satu daya tarik yang membuat kopi-kopi dari Manggarai Timur mampu bersaing di pasar internasional adalah karena kualitasnya yang jempolan. Sebab, sejak dulu, kopi di sana dikembangkan secara alami tanpa menggunakan pupuk kimia. Praktik ini ditopang kondisi tanah yang subur, dengan kandungan bahan organik tinggi serta unsur hara seperti nitrogen dan kalium yang relatif memadai.
Kajian yang dimuat dalam Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Vol. 28 No. 3, Oktober 2016) mencatat, tanah di dataran tinggi Manggarai—yang didominasi jenis aluvial, mediteran, litosol, dan latosol—memiliki karakter lempungan dan cenderung agak masam, kondisi yang cocok bagi pertumbuhan kopi arabika.
Di sisi lain, petani setempat mempertahankan kesuburan tanah melalui praktik sederhana, seperti memanfaatkan seresah tanaman penaung sebagai pupuk alami. Kombinasi faktor alam dan cara budidaya tradisional inilah yang membentuk kualitas khas kopi Manggarai dan memperkuat daya saingnya.
“Ini kami tanam kopi secara natural,” tutur Alex.
Namun, terlepas dari nilai ekonominya, kopi pada akhirnya adalah tentang bagaimana orang Manggarai menjalani kesehariannya. Ia hadir sebagai bagian dari budaya, meski kopi sesungguhnya bukan tanaman asli wilayah tersebut. Hendra, seorang guru asal Desa Tango Molas, mengaku bisa meminum hingga lima gelas kopi dalam sehari.
Semua kopi yang diseduh di Manggarai Timur juga tidak ditambah oleh gula. Menurut Hendra, itu adalah bentuk penghormatan terhadap kopi yang memiliki berbagai kompleksitas rasa. Belakangan, cara ngopi pahit tanpa gula itu juga mulai diikuti oleh orang-orang dari daerah lainnya di sekitar Manggarai Timur.
“[Orang] Manggarai Timur [minum kopi] tanpa gula. Sekarang orang [Kabupaten] Manggarai juga ikut Manggarai Timur,” ujar Hendra.

Sebelum mengenal mesin penggiling, biji kopi diolah secara tradisional dengan cara ditumbuk. Hendra bilang, saat kopi ditumbuk, aromanya menyebar dan tercium oleh siapa pun di sekitarnya. Hampir setiap rumah di desanya, kata dia, memiliki kebun kopi, dengan luas yang bervariasi hingga belasan hektar.
Hendra sendiri telah mulai minum kopi sejak ia kecil. Ia bahkan menyebut ada tradisi mengoleskan bubuk kopi ke bayi yang baru lahir di Manggarai Timur.
Tak hanya itu, kopi juga dipercaya memiliki khasiat serupa “obat” bagi berbagai permasalahan. Untuk mencegah mabuk di perjalanan, misalnya, Hendra terbiasa untuk menenggak satu gelas kopi. Sementara jika memiliki luka ringan, ia akan mengoleskan bubuk kopi ke bagian yang terluka.
Selain kopi, masyarakat Flores juga mengenal moke, minuman tradisional beralkohol hasil penyulingan nira dari pohon lontar atau enau. Dalam beberapa kesempatan, Hendra mengaku pernah disuguhi kopi dan moke sekaligus, bahkan meminumnya bersamaan.
“Serius? Nggak apa-apa itu perutnya?” tanya saya penuh heran. Ia hanya menjawabnya dengan tertawa.
Kopi Gembala Baik
Ironisnya, meski lekat dengan kehidupan masyarakat, kopi di Manggarai sempat dihargai rendah. Beberapa tahun lalu, harga biji kopi hanya sekitar Rp25 ribu per kilogram. Padahal, di kota besar, jumlah itu setara dengan segelas kopi susu gula aren. Dengan hitungan sederhana, satu kilogram biji kopi bisa menghasilkan sekitar 50-55 gelas minuman serupa.
Kondisi ini menggambarkan adanya gap perolehan nilai tambah yang singnifikan antara pemain hulu dan hilir di industri kopi. Jika kedai kopi bisa memperoleh keuntungan hingga jutaan rupiah setiap harinya, para petani kopi di Manggarai justru hanya bisa mendapatkan penghasilan setiap satu tahun sekali—saat musim panen.
Kesenjangan itulah yang menggerakkan hati Natalia Tansil, seorang suster di Kongregasi Gembala Baik, Ruteng, Kabupaten Manggarai, untuk bergerak.
Natalia bercerita, saat tiba di Ruteng pada 2015 silam, perempuan asal Jakarta itu ditugaskan untuk melayani masyarakat sekitar dalam bidang pemberdayaan ekonomi. Banyaknya pohon kopi yang tumbuh di Manggarai membuat ia melirik potensi ekonomi yang bisa dimanfaatkan.

Kala itu, hidup para petani kopi di Ruteng masih belum bisa dibilang sejahtera. Menjelang masa panen datang, para petani biasanya langsung menjual biji-biji kopi ke tengkulak dengan praktik ijon. Tentunya, biji-biji kopi itu dibeli dengan harga yang sangat murah.
Untuk meningkatkan harga jual, Natalia meyakini perlu ada nilai tambah dari produk kopi yang ditawarkan para petani. Menurutnya, biji kopi yang sudah selesai dipanen harus diolah terlebih dahulu, sehingga pendapatan yang diperoleh para petani pun ikut meningkat.
“Saya berpikir gimana caranya tidak mengeluarkan hanya bahan mentah, iya nggak? Kalau bahan jadi, itu kan diolahnya di sini, kan justru membuka lapangan pekerjaan bagi daerah sini, orang-orang di sini,” kata Natalia saat kami berkunjung ke tempat sangrai (roastery) sekaligus kedai Kopi Gembala Baik yang dikelola olehnya dan masyarakat setempat. .
Natalia menegaskan, pilihan Kongregasi Gembala Baik untuk menjual kopi bukanlah demi mencari keuntungan. Baginya, ada misi yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan bisnis. Salah satu tujuannya adalah untuk mencegah praktik perdagangan manusia atau human trafficking.
Saat pertama datang, ia mendapati banyak warga memilih bekerja ke luar negeri sebagai TKI, sebagian melalui jalur ilegal yang berujung eksploitasi. Untuk memutus rantai itu, Natalia mendorong pemberdayaan ekonomi lokal agar masyarakat tidak perlu pergi jauh demi penghidupan.
“Selain kami kasih konseling, ya kita dampingin, lalu kasih kegiatan. Nah kegiatannya apa? Ya ngolah bahan lokal kan,” ucapnya.
Sebagai seorang suster, awalnya Natalia tidak memiliki pengetahuan apapun tentang kopi. Bermodalkan bantuan dari kenalannya yang mengerti soal kopi, perlahan ia mulai menyerap berbagai ilmu untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat di Ruteng.
Tidak hanya soal kopi, ia juga mengajarkan cara pengemasan yang baik, branding yang menarik, sampai melakukan promosi ke khalayak luas.
Alhasil, kini masyarakat setempat sudah semakin tersadarkan akan betapa pentingnya mengelola ekosistem rantai pasok kopi, mulai dari proses tanam, panen, sampai pascapanen. Bahkan, Natalia juga mengajarkan masyarakat cara untuk mengoperasikan mesin roasting hingga mesin espresso.
Natalia menyebut, beberapa masyarakat yang dulu diajarkannya, sekarang bahkan ada yang memutuskan untuk membuka kedai kopi. Hal itu membuatnya bahagia, karena masyarakat akhirnya menjadi berdaya untuk mengolah kopi menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.
“Akhirnya ya gitu, sekarang ada anak-anak mereka sudah bisa mungkin mandiri ya, dia buka kafe, ada beberapa kafe di sana,” terangnya.

Pada 2018 silam, kopi yang diproduksi oleh Kongregasi Gembala Baik bahkan berhasil menorehkan prestasi pada kompetisi kopi di Paris. Setelahnya, semakin banyak pengunjung yang datang untuk melihat proses sangrai kopi, sampai membelinya untuk dijadikan buah tangan.
Natalia menuturkan, salah satu produk kopi unggulan yang dijual adalah kopi jenis juria. Kopi juria memiliki karakteristik batang yang tegak lurus, tinggi berkisar 4-5 meter, dan memiliki daun kecil. Juria diyakini masuk ke kawasan Dataran Tinggi Colol, Manggarai Timur, pada sekitar dekade 1950-an.
Kopi juria dikenal sebagai kopi yang sakral, karena hanya bisa dipanen setiap dua tahun sekali. Menurut Natalia, kopi juria memiliki cita rasa asam yang pekat. Cita rasa itulah yang membuat jenis kopi itu banyak diburu pencinta kopi baik dari dalam maupun luar negeri.
“[Turis dari] Eropa lah, banyaknya Eropa [yang datang]. Lalu kalau yang lokalnya kayak orang Jakarta, Surabaya, kayak gitu, itu [ramainya] kan kayak [waktu] lebaran ya,” ucapnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































