Menuju konten utama

Bertaruh Hidup dari Segelas Kopi Jalanan

Di balik segelas kopi yang mereka jual, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan hidup.

Bertaruh Hidup dari Segelas Kopi Jalanan
Fauzan (21) sudah bersiap dengan gerobak miliknya sendiri. Dok/Nanda Aria Tirto.id

tirto.id - Pukul setengah enam pagi, langit Jakarta masih temaram ketika Otong (40) bergegas menuju depot Sejuta Jiwa di Kebayoran, Jakarta Selatan, dari rumahnya di Grogol, Jakarta Barat.

Berbagi jalanan dengan sesaknya para pekerja Ibu Kota lainnya, ia melaju dengan sepeda motornya sembari berharap dapat datang lebih cepat dari pedagang kopi keliling lainnya.

Bagi Otong, datang lebih awal bukan sekadar kebiasaan, melainkan pertaruhan hidup. "Kalau telat dikit, gudang kehabisan cart (gerobak listrik)," ujarnya saat ditemui Tirto di kawasan Senayan, Senin (3/11/2025).

Ia menjelaskan, tak semua gerobak dalam kondisi prima. Kadang, yang tersisa hanyalah unit yang harus digowes karena tuas penggerak tak bisa berfungsi. "Kadang ada yang nggak bisa digas. Kalau telat dikit dapat yang sisa, udah dapet yang digowes," tuturnya.

Perjuangan mendapatkan gerobak layak pakai adalah ritual harian yang menentukan nasibnya sepanjang hari.

Pedagang Kopling

Pedagang Kopi Keliling saat ditemui Tirto di kawasan Senayan, Senin (4/11/2025). tirto.id/Nanda

Sementara di sudut lain Jakarta, Fauzan (21) sudah bersiap dengan gerobak miliknya sendiri. Sebagai mitra reguler Kopi Jago di wilayah Melawai-Blok M, ia tak perlu berebut gerobak seperti Otong.

Namun, perjalanannya tak kalah panjang - dari Ciputat menuju lokasi jualan, mempersiapkan segalanya sebelum pukul delapan pagi. "Yang reguler udah punya cart sendiri, jadi nggak perlu berebut," cerita Fauzan tentang sistem yang lebih teratur dibandingkan yang dialami Otong.

Setelah mendapatkan gerobak, perjalanan jualan Otong dimulai pukul 08.00 pagi. Ia mengendarai gerobak listriknya menuju wilayah Palmerah dan Senayan, Jakarta Selatan, berharap bisa menemukan titik ramai pembeli kopi berbagai varian rasa milik Jiwa Group, perusahaan brand kopi Janji Jiwa, tersebut.

Setiap harinya, ia membawa 85 cup kopi berbagai varian, dengan harga mulai dari Rp8.000 hingga Rp12.000 per cup. Namun, tak selalu semua cup terjual. "Kalau kita bawa 85, itu sisanya dikit, besok ditambah bawa lagi 85 cup," katanya.

Untuk setiap cup yang terjual, Otong hanya mendapatkan komisi Rp1.000. Tak ada gaji bulanan, tak ada jaminan sosial; penghasilannya bergantung pada komisi harian dan insentif dari target mingguan.

Berbeda dengan Otong yang berkeliling, Fauzan memiliki wilayah tetap di kawasan Melawai-Blok M. Sebagai mitra reguler Kopi Jago, ia bekerja 8 jam sehari dengan sistem shift.

"Kalau saya daerah Melawai-Blok M, tetap ngider juga," jelasnya.

Fauzan membawa rata-rata 80 cup per hari, dengan komisi Rp1.050 per cup. Ia juga berkesempatan mendapatkan bonus harian Rp20.000 jika berhasil menjual minimal 68 cup, plus bonus Rp10.000 untuk kerja 8 jam. "Jadi kalau semua tercapai, komisi hariannya Rp120.000," ujarnya.

Matematika Penghasilan yang Tak Pernah Pasti

Target penjualan Otong adalah Rp3,5 juta per minggu. Jika berhasil mencapainya, ia berhak mendapatkan insentif Rp600.000. Namun, impian untuk meraih insentif penuh itu seringkali tak menjadi kenyataan. "Jarang sih," akunya dengan nada pasrah.

Rata-rata, ia hanya dapat menjual berkisar antara Rp400.000 hingga Rp500.000 per harinya, dengan 6 hari kerja dengan jam kerja mana suka. “Yang penting targetnya tercapai Rp3,5 juta seminggu. Terserah kerja jam berapa,” tuturnya.

Tak ada insentif layak yang ia terima jika penjualan melebihi target. Bahkan, jika dalam sebulan total penjualannya mencapai Rp15 juta, ia hanya mendapatkan bonus tambahan Rp100.000. "Penghasilan rata-rata 2 jutaan. Cukup gak cukup," ujarnya lirih.

Gaji Kopi Keliling

Gaji Kopi Keliling.

Fauzan menghadapi sistem yang sedikit berbeda. Sebagai mitra reguler, penghasilannya diakumulasi per bulan. Mirip-mirip komisi yang diterima Otong, Fauzan menerima Rp1.050 per cup. "Penghasilan bisa Rp2,5 juta atau Rp3 juta," katanya.

Namun, ketika penjualan lesu, angka itu bisa merosot hingga Rp1-2 juta. Untuk mencapai penghasilan sebesar itu, ia pun harus menunggu hingga tiga bulan lamanya.

Sistem kenaikan pangkat dari daily ke reguler membutuhkan konsistensi. Jika tidak, mitra Jago harus puas bekerja sebagai mitra daily dengan jam kerja 4 jam dan menggunakan cart mitra reguler yang tak terpakai.

"Saya naik ke regularnya 3 bulan. Baru satu bulan ini ke reguler," kenang Fauzan tentang perjuangannya.

Kini sebagai mitra reguler, ia memiliki akses ke fitur-fitur pendukung seperti aplikasi dan grup WhatsApp untuk melayani pemesanan delivery.

Strategi dan Tantangan di Jalanan

Baik Otong maupun Fauzan mengembangkan strategi masing-masing untuk bertahan. Otong mengandalkan lokasi-lokasi strategis di Palmerah dan Senayan, meski harus bersaing dengan pedagang lain. Sementara Fauzan memanfaatkan teknologi yang disediakan perusahaan.

"Jago ada aplikasinya, bisa pesen dari aplikasi sama dari WhatsApp," jelasnya.

Bahkan ada insentif tambahan Rp3.000 jika berhasil mengantar pesanan dalam waktu kurang dari 15 menit.

Menurutnya, bekerja di jalanan tantangan terbesar justru datang dari pihak berwajib. "Palingnya Satpol PP doang sih. Karena gak boleh ngetem," keluh Fauzan.

Pengalamannya sama dengan banyak pedagang keliling lainnya - terusir dari lokasi strategis, bahkan pernah payungnya diambil. Namun ia bersyukur perusahaan mau mengurus masalah tersebut.

Sementara Otong menghadapi tantangan yang lebih mendasar, persaingan mendapatkan gerobak yang layak setiap pagi.

Di balik segelas kopi yang mereka jual, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan hidup. Otong harus berjauhan dengan keluarga, anak dan istrinya tinggal di Brebes, sementara ia berusaha mengais rezeki di Jakarta. Penghasilan Rp2 jutaan sebulan harus cukup untuk hidup di ibu kota dan mengirim ke keluarga. "Cukup gak cukup," ucapnya singkat.

Fauzan, di usianya yang masih 21 tahun, telah belajar mandiri sepenuhnya. Lulusan SMA yang memilih menjadi pedagang kopi keliling setelah melihat peluang bisnis kopi yang sedang berkembang.

Meski penghasilannya tidak tetap, ia bersyukur bisa memiliki pekerjaan yang memungkinkannya bertahan di Jakarta. "Ya lumayan, penghasilan bisa Rp2,5 juta atau 3 juta tergantung penjualan," katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, memandang bahwa fenomena menjamurnya pedagang kopi keliling tidak terlepas dari meningkatnya pengangguran dan PHK di sektor formal.

"Masalahnya, booming pekerja kopi keliling ini karena meningkatnya PHK, dan sulitnya lapangan kerja formal," jelas Bhima.

Sistem kemitraan yang ditawarkan perusahaan kopi ini dinilai sangat menguntungkan pihak perusahaan karena memindahkan hampir semua risiko bisnis kepada pedagang.

"Sebagai contoh, meski sudah berusaha keras, tapi kondisi hujan atau sepinya pembeli dibebankan ke pekerja. Risiko sangat minim ditanggung perusahaan," papar Bhima.

Situasi ini diperparah dengan lemahnya daya tawar para pekerja. "Akibat pergeseran ke sektor informal yang sifatnya survival mode, karena tidak ada pilihan lain maka daya tawar pekerja dalam sistem kemitraan juga lemah.”

Bhima menekankan pentingnya regulasi untuk melindungi para pedagang seperti Otong dan Fauzan. "Harus ada regulasi yang mengatur, setidaknya negara hadir melindungi dari sisi kewajiban perusahaan menyediakan BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, dan kejelasan aturan kemitraan," tegasnya.

Tanpa regulasi yang jelas, sistem kemitraan ini berpotensi menjadi jebakan kemitraan. “Sama halnya seperti aturan ojol yang abu-abu berkedok gig economy,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait KOPI atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra