17 Juli 1918

Kaum Bolshevik Mengeksekusi Pengkhianat Rakyat, Tsar Nicholas II

Oleh: Francesco Hugo - 17 Juli 2021
Dibaca Normal 6 menit
Tsar Nicholas II dieksekusi oleh Bolshevik, hari ini 103 tahun yang lalu. Kerangkanya baru ditemukan puluhan tahun kemudian.
tirto.id - Musim semi 1979, Alexander Nikolayevich Avdonin, seorang arkeolog Uni Soviet, menemukan tumpukan tulang belulang di Yekaterinburg atau yang kini bernama Sverdlovsk. Ketika itu ia tak melakukan apa pun selain menguburkannya kembali sembari berdoa dan memberikan tanda, bahkan tidak menceritakan ke siapa pun hingga bertahun-tahun kemudian. Pada 1998, ekskavasi lanjutan baru dilakukan dan pengujian DNA membuktikan bahwa itu bukan kerangka biasa. Tulang belulang itulah yang tersisa dari Keluarga Romanov, penguasa Rusia yang bertekuk lutut di hadapan Revolusi 1917.

Kekuasaan Keluarga Romanov dimulai ketika smutnoe vremya atau krisis ekonomi-politik merebak pada 1598 akibat wafatnya sang penguasa Dinasti Rurik terakhir, Tsar Fyodor I, yang tak memiliki penerus. Pengangkatan Michael I yang masih berusia 16 tahun menjadi penutup babak kekacauan tersebut. Ia diangkat Sebagai tsar (raja) pertama dari Keluarga Romanov pada 21 Februari 1613. Keturunannya kelak membangun dinasti yang bertahan lebih dari tiga abad.

Beberapa dari mereka yang tercatat baik dalam sejarah adalah Peter I yang Agung (1672-1725), yang memasukkan peradaban modern ke Rusia lewat revolusi kebudayaan; Catherine II yang Agung (1729-1796), sang penerus Peter I yang membawa zaman keemasan bagi Rusia; dan Alexander I (1777-1825) yang memukul mundur Napoleon Bonaparte pada 1821. Nicholas II (1868-1918), sang Romanov terakhir, menjadi bab penutup sejarah kekaisaran.

Sebagian dari kita mungkin mengenal Tsar Nicholas II dari film animasi drama musikal Anastasia yang diproduksi 20th Century Fox pada 1997. Film tersebut menceritakan Anastasia, putri bungsu Nicholas, yang berusaha mencari kerabatnya di Eropa. Meski hanya legenda, cerita ini mengingatkan kembali sebuah babak yang terlupakan dalam sejarah Rusia, yaitu tentang apa yang terjadi kepada Tsar Nicholas II dan keluarganya hari ini 103 tahun yang lalu.

Revolusi Februari

Pecahnya Perang Dunia Pertama Juli 1914 membawa kerajaan-kerajaan di Eropa tak hanya ke dalam pergolakan, namun juga kemelaratan. Tak terkecuali Kekaisaran Rusia yang bergabung dalam Triple Entente bersama Republik Ketiga Prancis dan Kerajaan Britania Raya.

Tsar yang ikut ke medan tempur sejak September 1915--dengan maksud menyemangati moral prajurit--memercayakan negara kepada sang permaisuri, Alexandra Feodorovna. Tsarina, yang kurang populer di mata publik, kebingungan menghadapi kemiskinan dan kelaparan. Ia pun menunjuk seorang rahib bernama Grigori Rasputin sebagai pemimpin pemerintahan hanya karena dianggap orang suci yang dapat mengendalikan haemophilia yang diderita Alexei sang putra mahkota.

Kondisi ekonomi tak juga membaik, ditambah perang berlarut yang mengorbankan 1,7 juta jiwa dan menghabiskan banyak sumber daya. Pada 1916, Rasputin dibunuh oleh para bangsawan yang resah akan tindak tanduknya.


Pada 8 Maret 1917, dalam momen Hari Perempuan Internasional, ribuan pekerja perempuan St. Petersburg turun ke jalan memprotes jatah makanan ke Duma (semacam dewan legislatif, dibentuk pada 1905). Menjelang tengah hari, para prajurit Rusia dan sebagian besar warga pun ikut turun memprotes Sang Tsar. Protes yang berakhir menjadi kerusuhan ini dikenal sebagai Revolusi Februari (penamaan berdasarkan kalender Julian yang berjarak 13 hari dengan kalender Gregorian). Inilah gejolak pertama dari serangkaian revolusi yang berlangsung tahun itu.

Kekuasaan baru Pemerintah Provisional, yang dipegang oleh kekuatan ganda antara Duma dan Soviet (dewan pekerja), menyerukan Tsar, yang masih berada di perbatasan, untuk mundur. Karena khawatir perang sipil pecah, berbaliknya para perwira menentang dirinya, ditambah keluarga tercinta yang ditahan membuat Nicholas tak memiliki pilihan lain selain melepaskan mahkotanya. Ia sempat menunjuk putranya Alexei dan adiknya Grand Duke Michael sebagai penerus. Selain adiknya menolak, anaknya pun tak mungkin memimpin karena sakit.

Dengan demikian, pada 15 Maret 1917, berakhirlah tiga ratus tahun lebih kekuasaan Dinasti Romanov.

Liburan Keluarga yang Terakhir

Setelah turun takhta, Tsar Nicholas II beserta Tsarina Alexandra dan lima anaknya: Olga, Tatiana, Maria, Anastasia, dan Alexei berencana dipindahkan ke Inggris. Namun, King George V, sepupu Tsar, mengurungkan niat tersebut karena menilai bahwa itu akan mengundang kegaduhan. Akhirnya, pada 20 Maret 1917, Pemerintah Provisional memutuskan Keluarga Romanov menjadi tahanan rumah di Istana Alexander Tsarskoye Selo di bawah pengawasan Kolonel Eugene Kobylinsky.

Tsar dan keluarganya kemudian dipindahkan ke Tobolsk, Siberia Barat menggunakan kereta api dengan alasan keamanan oleh Perdana Menteri yang baru, Alexander Kerensky. Mereka tiba di sana pada 19 Agustus 1917 dan menempati rumah mewah bekas gubernur setempat. Bagaikan liburan keluarga, kala itu mereka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang seperti berolahraga, bermain bersama, membaca buku, dan lain-lainnya.

Revolusi pecah lagi pada Oktober, ditandai dengan Bolshevik dan pemimpinnya Vladimir Lenin yang berhasil merebut kekuasaan dari tangan Pemerintahan Provisial. Negara kelas pekerja pertama di dunia resmi berdiri di atas puing-puing pemerintahan monarki. Seketika kebijakan terhadap pengasingan Tsar beserta keluarganya pun berubah. Waktu rekreasi di luar rumah mulai dibatasi, mereka dilarang pergi ke gereja dan berinteraksi dengan warga setempat.

Kekacauan mulai muncul akibat prajurit yang tak disiplin dan Dewan Komisariat Rakyat atau Sovnarkom mengangkat Vasily Yakovlev, seorang veteran Boshevik, untuk memegang kendali Tobolsk. Yakovlev memerintahkan Keluarga Romanov dipindahkan ke Yekaterinburg dengan tujuan keamanan dan segera membawa mereka untuk pengadilan di ibu kota yang baru, Moskow. Tsar, istri, dan anaknya Maria tiba lebih dulu pada 30 April 1918 dan sisanya baru tiba di Rumah Ipatiev sekitar 23 Mei 1918 dikarenakan Alexei yang masih sakit.

Awal Juni 1918, angkatan bersenjata sukarela bernama Legiun Cekoslovakia yang didukung gerakan anti komunis atau Tentara Putih memberontak di beberapa daerah, termasuk Siberia, akibat kekecewaan terhadap Perjanjian Brest-Litovsk 3 Maret 1918. Meski Sovnarkom berharap Romanov dapat lekas diadili, namun kondisi perang sipil yang memburuk membuat para pimpinan seperti Leon Trotsky dan Yakov Sverdlov memutuskan untuk mengambil sikap tegas terhadap sang kaisar terakhir Rusia ini.


Kematian yang Terlupakan

Sementara regu Cheka atau polisi rahasia Bolshevik yang dipimpin oleh Yakov Yurovsky menyiapkan pasukan, sepucuk surat--yang sampai hari ini keberadaannya diragukan--yang memutuskan nasib Keluarga Romanov muncul.

Sejarawan Wendy Slater dalam buku The Many Death of Tsar Nicholas II (2007) menceritakan secara detail kejadian tersebut. Dini hari 17 Juli 1918, Tsar beserta keluarga, dokter pribadi, dan para pembantunya dibangunkan lalu diminta menuju ke ruang bawah tanah dengan alasan keamanan. Baru saja ada serangan penembakan di kota malam itu.

Setelah berkemas cukup lama, pukul dua pagi mereka sudah berkumpul di ruang bawah tanah yang remang. Tsar meminta dua kursi untuk putranya dan Tsarina. Mereka berdua duduk bersebelahan, Alexei di kiri dan Tsarina di kanan, sedangkan Tsar berdiri di depan putranya. Ketiga putrinya berdiri mengitari di belakang sang ibu. Di belakang Alexei berdiri tiga orang pembantu setia dan dokter pribadi Tsar. 11 orang di dalam ruangan yang luasnya kurang lebih dari 50 meter persegi membuat malam musim panas di Ural semakin gerah.

Regu Cheka berbaris menghadap para tawanan ketika sang komandan maju membacakan sepucuk surat misterius dari Moskow tersebut.

Yurovsky membacakan akhir surat tersebut dengan tegas: “Perwakilan Komite Eksekutif Soviet Ural dari pekerja, petani, dan tentara telah memutuskan bahwa Anda akan dihukum mati.” Tsar dengan kebingungan setengah tak percaya pun berkata, “Apa?” Lalu bertanya lagi, “Apa yang kau katakan?” Lalu ia berbalik arah ke keluarga sementara Yurovsky mengulangi kata-katanya.

Tanpa banyak bicara lagi, para prajurit membidik lalu memuntahkan timah panas dari Nagant dan Mauser yang meluncur cepat menembus tubuh Tsar. Ia jatuh. Eksekusi dilanjutkan ke sang pengawal pribadi, lalu Tsarina.

Di tengah kepulan asap dan remang satu lampu kecil, menurut kesaksian para algojo yang dicatat oleh Wendy Slater, kondisi menjadi semakin parah. Anak anak Tsar sempat berteriak sambil berusaha melarikan diri, sementara sang pangeran hanya bisa terduduk menangis. Setelah sang komandan memerintahkan berhenti menembak, para algojo menusuk tubuh tubuh yang masih hidup dengan bayonet.

Hanya anjing peliharaan keluarga saja yang selamat dari eksekusi tersebut.


Jasad yang tertutup terpal dikumpulkan di atas truk untuk dibawa ke hutan terdekat. Para algojo membawa mayat menggunakan gerobak ke sebuah bekas tambang tembaga yang terbengkalai.

Fajar mulai menyingsing ketika baju mewah Keluarga Romanov dilucuti dan para algojo menemukan banyak sekali perhiasan yang disimpan di balik pakaian mereka. Mereka menyadari inilah alasan mengapa anak-anak Tsar tidak langsung tewas ketika ditembak di badan. Perhiasan tersebut dikumpulkan tapi tak dijarah.

Tubuh mereka ditumpuk dalam lubang bekas tambang yang tak terlalu dalam sehingga masih dapat terlihat gundukannya. Konon, karena khawatir mudah ditemukan Tentara Putih, jasad Keluarga Romanov dipindahkan ke lubang yang lebih dalam. Untuk menghilangkan jejak, Cheka mengebumikan mereka dalam lubang seluas empat meter sedalam 60 sentimeter, lalu membakar jasad setelah menyiramnya terlebih dulu dengan asam sulfur.

Sang komandan lantas mengumpulkan para anggota dan memperingatkan mereka agar sisa sisa jasad Keluarga Romanov jangan pernah sampai ditemukan. Mereka juga diminta untuk melupakan dan tak lagi membahas pembantaian.

Infografik Mozaik Tsar Nicholas II
Infografik Mozaik Tsar Nicholas II. tirto.id/Sabit


'Kembalinya' Romanov

Kekhawatiran bahwa pembantaian diketahui benar-benar terjadi ketika Tentara Putih merebut Yekaterinburg pada akhir Juli 1918. Lewat tim investigasi, meski tak menemukan jasad, mereka menemukan beberapa benda penting.

Peristiwa ini sempat ditutupi dan disangkal oleh politbiro semasa Uni Soviet berjaya. Baru pada masa Mikhail Gorbachev-lah penemuan Avdonin beserta rekannya Geli Ryabov, sang pembuat film, diterbitkan di The Moscow News pada 10 April 1989. Setelah investigasi bertahun-tahun dan pengujian DNA, Keluarga Romanov akhirnya 'berkumpul' kembali di Katedral St. Peter & Paul di St. Petersburg 17 Juli 1998.

Acara besar-besaran ini dihadiri oleh Presiden Boris Yeltsin. Dalam acara itu ia berkata, “Hari ini adalah hari bersejarah bagi Rusia. Bertahun-tahun kita diam tentang kekejaman ini, tapi hari ini kenyataan itu mesti diungkap.” Sementara pada 1981, Gereja Katolik Ortodoks Rusia yang berada di luar Rusia menganggap Tsar Nicholas II dan keluarganya sebagai martir dan orang kudus. Mereka disejajarkan dengan Yesus Kristus yang bersabar ketika menghadapi kematian. Pengangkatan ini tentu saja memicu kontroversi.


Wendy Slater mengatakan bahwa romantisasi, legenda, dan mistisisme yang menyelimuti Keluarga Romanov yang beredar sampai hari ini adalah akibat dari ulah Bolshevik yang mengeksekusi mereka secara diam-diam. Ini pula mengapa Lenin kecewa terhadap para algojo Cheka ketika kabar eksekusi dibacakan dalam Dewan Komisariat Rakyat, Juli 1918. Menurut Lenin, nasib Keluarga Romanov semestinya sama seperti Louis XVI dari Prancis dan Charles I dari Inggris yang dihukum mati oleh pengadilan. Dengan diputuskan oleh pengadilan, semuanya dapat menjadi jelas sekaligus tidak memberikan nama yang buruk bagi Soviet sendiri.

Revolusi memang selalu tampil dalam dua sisi, terang dan gelap, sebagaimana juga terjadi di Indonesia. Dan ia tak melulu dapat dikontrol oleh mereka yang disebut sebagai pemimpin revolusi.

Meski eksekusi Tsar dan keluarganya keji, kita tentu tak dapat melihatnya hanya dari satu sisi. Kematian mereka merupakan akumulasi kemarahan rakyat. Tsar Nicholas II menuai benih yang ia tabur sendiri. Selain membiarkan rakyat berada dalam kemiskinan serta pengekangan di bawah pemerintahan otokrasi absolut, ia pun seakan membiarkan kerusuhan anti-Yahudi yang konon direncanakan pemerintahaannya sendiri di awal abad ke-20 hingga pembantaian tentara terhadap para demonstran yang kelaparan di depan Istana Musim Dingin St. Petersburg pada 22 Januari 1905, yang dikenal sebagai peristiwa Minggu Berdarah.

Andaikan Tsar lebih mau memahami apa yang sesungguhnya diinginkan rakyat, barangkali kematiannya tak perlu terjadi dan Keluarga Romanov masih ada hari ini. Namun sejarah berjalan berbeda. Tanpanya tak mungkin terjadi revolusi yang mengubah sejarah. Pun tanpanya tak ada Rusia yang seperti hari ini. Tsar Nicholas menjadi contoh terbaik dan terburuk, pelajaran paling berharga bagi para pemimpin yang melupakan tanggung jawabnya.

Baca juga artikel terkait REVOLUSI RUSIA atau tulisan menarik lainnya Francesco Hugo
(tirto.id - Politik)

Penulis: Francesco Hugo
Editor: Rio Apinino
DarkLight