5 Maret 1953

Menghapus Bayang-Bayang Stalin

Oleh: Rio Apinino - 5 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Baja mencagak.
Darah peluh menjejak
di getir gulag.
tirto.id - Meninggal dalam sunyi. Demikian nasib Joseph Stalin pada 5 Maret 1953, tepat hari ini 65 tahun lalu. Terlahir dengan nama Iosif Vissarionovich Dzhugashvili, ia mengembuskan napas terakhir di salah satu kamar di Kuntsevo Dacha, Moskow, rumah karya arsitek Miron Merzhanov yang sudah ditinggalinya selama 20 tahun terakhir tanpa ada satu pun orang di sampingnya.

Joseph Stalin punya riwayat kesehatan yang buruk. Ia mulai mengalami sakit kepala akut pada 1922 atau ketika menginjak usia 44. Dan ini hanya permulan dari rentetan penyakit lain: 1934 divonis punya tekanan darah tinggi; 1937 mengalami stroke ringan; 1945 serangan jantung; dan akhinya meninggal karena pembuluh darah di otak pecah—dalam dunia medis disebut stroke hemoragik.

Dalam “The Strokes That Killed Churchill, Roosevelt, and Stalin” (2016), Rohaid Ali dan kawan-kawan menyebutkan Stalin secara resmi meninggal pada pukul 21.50.


Deputi Komandan Kuntsevo Dacha Peter Lozgachev, serta petugas jaga M. Starostin dan Tukov adalah tiga orang saksi utama kematian Stalin. Berdasarkan keterangan ketiganya, Edvard Radzinsky menggambarkan detik-detik kematian seorang tokoh yang pemikiran dan praktik politiknya dibakukan sebagai Stalinisme ini dalam Stalin: The First In-Depth Biography (1995).

Setelah kamerad-kameradnya pergi, Stalin memerintahkan Starostin dan Tukov—yang berjaga di pintu kamar—untuk tidur. “Saya mau tidur [...] kalian juga sebaiknya demikian,” ucap Tukov mengulang ucapan Stalin.

Menurut Tukov ini adalah perintah paling aneh yang pernah ia dengar sepanjang berkarier sebagai petugas jaga. Stalin yang obsesif dengan keselamatan dirinya sendiri untuk pertama kalinya memerintahkan pengawal untuk tidur alih-alih bertugas. Kejadian itu berlangsung pada sore hari.

"Pukul 19.00 kesunyian di kamar Stalin membuat kami khawatir. Kami [Starostin dan Tukov] sama-sama takut masuk tanpa dipanggil," aku keduanya.

Starostin dan Tukov pun memanggil Komandan Lozgachev. Pintu diketuk, tetapi tak ada jawaban. Lozgachev akhirnya membuka paksa pintu kamar sekitar pukul 22.00. Di sana mereka menemukan Stalin tergeletak di lantai dekat meja.

Keterangan para pengawal Stalin berbeda dengan penggambaran pada The Death of Stalin (2017). Dalam film drama-komedi yang diadaptasi dari komik berjudul sama karya Fabien Nury dan Thierry Robin ini, Stalin baru ditemukan sehari setelah meninggal oleh pelayan rumah yang hendak mengantarkan sarapan. Malam hari sebelum ditemukan tewas, suara roboh muncul dari dalam kamar. Namun dua penjaga yang bertugas di pintu kamar tidak berani masuk.

Dari Perampok Bank ke Suksesor Lenin

Stalin lahir pada 18 Desember 1878 di Gori, Georgia. Ia mulai menjadi anggota Bolshevik—faksi dalam Partai Sosial Demokrat Rusia, cikal bakal Partai Komunis Uni Soviet (PKUS)—pada 1913, atau empat tahun sebelum Revolusi Oktober yang berhasil menggulingkan pemerintahan provisional, menghabisi kekuasaan Tsar, dan mendirikan negara buruh pertama di dunia. Satu tahun setelah bergabung, dalam Konferensi Praha, Stalin ditetapkan menjadi salah satu anggota Komite Sentral—lembaga tertinggi kedua dalam partai setelah Kongres.

Setelah Revolusi Oktober, Stalin diangkat menjadi ketua Komisar Rakyat untuk Kebangsaan. Dalam jabatan yang setara menteri ini, salah satu kebijakan yang diambil Stalin adalah membuat dekrit tentang kebangsaan yang berisi hak-hak kaum minoritas Uni Soviet.

Stalin hanya butuh waktu lima tahun untuk menduduki jabatan puncak PKUS. Pada 1922, ia terpilih sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKUS dengan suara terbanyak, menggantikan Lenin yang sudah sakit-sakitan dan meninggal dua tahun setelahnya karena stroke. Dalam struktur PKUS, Sekretaris Jenderal secara otomatis menjabat sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara.

Laki-laki yang pada masa mudanya pernah merampok bank untuk mendanai aktivitas-aktivitas gerakan ini cepat naik jabatan dalam partai karena, menurut Leon Trotsky, sejumlah "manuver birokratik" yang tidak sehat. Stalin memang memperoleh banyak simpati, namun sekaligus menyingkirkan siapapun yang dianggap lawan.

Pada 1927, anggota Oposisi Kiri pimpinan Trotsky "dikeluarkan dari partai dan dideportasi besar-besaran." Antara 1934-1939, Stalin memerintahkan eksekusi terhadap pendukung Trotsky. Bahkan akhirnya Trotsky sendiri. Pendiri Tentara Merah ini meninggal di Meksiko dengan kapak es menancap di kepalanya pada 21 Agustus 1940 di tangan algojo suruhan Stalin, Ramón Mercader.


Tiga tahun sebelum dibunuh, Trotsky menerbitkan buku The Revolution Betrayed yang ditulis sebagai kritik menyeluruh terhadap Stalin. Salah satu pokoknya adalah kritik atas birokratisme, sebuah tendensi yang dilahirkan oleh Stalin dan membuatnya jadi diktator.

Lenin sebetulnya sadar bahwa manuver Stalin berbahaya baik bagi partai maupun negara. Usaha terakhir Lenin membendung dominasi Stalin adalah mengusulkan perubahan struktur Komite Sentral partai dengan harapan agar terjadi keseimbangan kekuatan. Lenin ingin jumlah anggota Komite Sentral ditambah jadi 100 dari yang tadinya 50. Ia bahkan merekomendasikan agar Stalin dicopot dari jabatan barunya itu.

Usulan ini dikenal sebagai “Lenin's Last Testament” yang dibuat pada Desember 1922—ketika Stalin baru berkuasa beberapa bulan.

De-stalinisasi

Setelah Stalin mangkat, elit-elit partai komunis segera melakukan konsolidasi. Dibentuklah triumvirat—semacam kepemimpinan kolektif—yang terdiri dari Georgy Malenkov, Nikita Khrushchev, dan Lavrenty Beria. Malenkov yang sebelumnya adalah orang kedua setelah Stalin, menjadi Perdana Menteri; Beria, algojo polisi rahasia Uni Soviet, menjabat Menteri Dalam Negeri; dan terakhir Khrushchev menduduki posisi Sekretaris Jenderal PKUS.

Dalam Soviet Workers and De-Stalinization: The Consolidation of the Modern System of Soviet Production Relations 1953–1964 (1992), Donald Flitzer menulis, "ketika Stalin mati pada Maret 1953, dia meninggalkan negara dalam keadaan krisis yang parah."

Flitzer mencatat bahwa pertanian yang kurang terindustrialisasi hanya mampu menyediakan bahan pangan paling dasar. Begitu pula dengan industri di kawasan perkotaan yang menurutnya "tertinggal jauh dari Barat."

Triumvirat membawa misi khusus: mengoreksi semua kebijakan Stalin.

Dalam “The Politics of Soviet De-Stalinization” (1957), Robert C. Tucker menjelaskan bahwa mengaitkan antara kematian Stalin dengan de-stalinisasi adalah hal yang mudah. Sistem triumvirat adalah antitesis dari autokrasi Stalin. Nama Khrushchev bahkan jadi sinonim dengan istilah de-stalinisasi—meski istilah tersebut tidak pernah secara resmi dipakai pada masa itu.

"Kematian [Stalin] merombak situasi politik internal di Moskow dalam semalam," tulis Tucker. Bisa dibilang, apa yang hendak dicapai dari de-stalinisasi ini adalah reformasi politik.



Infografik Mozaik Stalin


Pada momen ini, salah satu kebijakan penting yang diteken adalah mengubah peran polisi yang pada zaman Stalin bertindak dengan kewenangan ala Oprichnina, aparat hukum era Ivan the Terrible yang yang bisa melakukan hampir apapun, termasuk "mengeksekusi" oposisi.

Masa-masa awal de-stalinisasi juga ditandai dengan pelonggaran sensor terhadap media massa dan pembebasan tahanan politik dari kamp kerja paksa Gulag. Kamp penuh kekejaman ini—yang pernah memenjara sastrawan Rusia peraih nobel Alexander Solzhenitsyn—secara resmi dihapus Kementerian Urusan Dalam Negeri Rusia (Ministerstvo Vnutrennikh Del, MVD) pada 25 Januari 1960.

Upaya de-stalinisasi terus berlanjut hingga tampuk kepemimpinan berpindah. Masha Lipman, Ketua Carnegie Moscow Center's Society and Regions Program dalam “The Third Wave of Russian De-Stalinization”, mengatakan bahwa di era de-stalinisasi pemerintah fokus berkampanye soal keburukan Stalin. Bahkan ada wacana untuk menghukum Stalin atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

Mikhail Gorbachev, Sekretaris Jenderal PKUS sejak Maret 1985 hingga Agustus 1991 sekaligus Presiden Uni Soviet dari Maret 1990 hingga Desember 1991, melakukan hal serupa lewat paket kebijakan politik yang dikenal dengan Perestroika.


Begitu pula Boris Yeltsin, Presiden Federasi Rusia pertama setelah Uni Soviet runtuh. Yeltsin, yang membenci komunisme, semakin memperkuat narasi sejarah resmi dengan retorika anti-komunis, terutama pendangkalan terhadap sosok Stalin.

Meski kampanye de-stalinisasi berlangsung hingga puluhan tahun, Stalin tetap populer di Rusia. Tak sedikit warga Rusia yang bahkan terus mengidolakannya. Survei bertajuk “Name of Russia” yang diselenggarakan saluran televisi negara Rossiya pada 2008 menyebut Stalin “tokoh populer ketiga Rusia sepanjang masa”.

Baca juga artikel terkait KOMUNISME atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Politik)

Reporter: Rio Apinino
Penulis: Rio Apinino
Editor: Windu Jusuf