Sisi Hitam dan Kacaunya Revolusi Indonesia

Oleh: Petrik Matanasi - 19 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
"Kalau badan lagi apes dan kita dicurigai 'andjing NICA' (mata-mata Belanda), nasib kita akan jelek sekali," tulis sebuah kesaksian.
tirto.id - Revolusi Indonesia jelas punya banyak sisi manis. Setidaknya, jika di masa sebelum revolusi kemerdekaan Indonesia, keluarga priayi tak rela anak perempuannya dinikahi laki-laki dari kalangan rakyat jelata; di masa revolusi kemerdekaan, hal itu bukan mustahil. Lihat saja Raden Siti Hartinah dengan pemuda Soeharto.

Revolusi untuk sementara waktu membuat semuanya tampak sejajar. Tak ada lagi diskriminasi rasial. Istilah inlander memuih. Seharusnya, semua yang tinggal dan berbagi di Nusantara disebut orang Indonesia. Tak pandang lagi warna kulit, tak pandang lagi bentuk mata.


Namun, revolusi tak selamanya manis. Meski sulit diterima, kenyataannya ada sisi cela dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Beberapa peristiwa memilukan terjadi.

Di antara pejuang kemerdekaan, yang terlibat pergerakan nasional pada zaman kolonial seperti Amir Hamzah dan Oto Iskandar di Nata, menjadi korban. Dua orang itu terbunuh. Tapi, bukan oleh bayonet Jepang atau bedil NICA-Belanda, melainkan oleh orang-orang Indonesia sendiri.


Biasanya orang-orang ngawur bersenjata golok dan berbedil suka mengincar rumah orang-orang yang dulu dekat dengan Belanda. Setidaknya terhadap keluarga yang bergaya mirip orang Belanda atau Kebelanda-belandaan sebelum Jepang datang.

Jika Amir Hamzah dan Oto Iskandar hilang nyawanya, cerita lain menimpa keluarga dokter F.J. Nainggolan yang kehilangan nyawa istri dan anak-anak perempuannya. Nainggolan, sang nasionalis itu, berhak kecewa atas ngawurnya revolusi sosial pasca-kemerdekaan.


Maka, tak perlu heran jika kemudian dokter Nainggolan bergabung Negara Sumatera Timur. Demikianlah yang dicatat Michael van Langenberg dalam "Sumatera Timur: Mewadahi Bangsa dalam sebuah Keresidenan di Sumatera" dalam Audrey Kahin, Pergolakan Daerah pada Awal Kemerdekaan (1990). Selain dokter Nainggolan, Langenberg mencontohkan "keputusan dokter Mohamad Amir untuk menyeberang sesudah terjadi revolusi sosial."


Di Jawa, serangan atas orang-orang Belanda totok serta Indo-Eropa dan orang-orang Ambon-Minahasa, dikenal dalam satu episode yang disebut Masa Bersiap.

“Masa Bersiap ditandai maraknya tindakan kriminal dan kekerasan dengan sasaran orang Belanda dan Indo-Belanda. Keadaan ini hampir di seluruh Pulau Jawa dan Sumatera,” tulis Tri Wahyuning M. Irsyam dalam Berkembang dalam Bayang-Bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950-1990-an (2017:57).

Kejadian di selatan Jakarta itu mencapai puncaknya pada 11 Oktober 1945, bersamaan serangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terhadap Belanda, tulis Tri Wahyuningsih. Ini dikenal sebagai Peristiwa Gedoran. Sejak 7 Oktober, para pemuda menghalangi pedagang Indonesia yang hendak menjual barang kebutuhan pokok kepada orang Belanda.


Bukan cuma di Depok, kejadian sama menyulut di kota lain. “Baik di stasiun kereta api, di pasar, di kendaraan umum, di mana saja, kalau badan lagi apes dan kita dicurigai sebagai “andjing NICA” (mata-mata Belanda), nasib kita akan jelek sekali. Sudah bagus kalau cuman dihajar dan digebukin saja. Dan cap “andjing NICA” ini tidak pandang bulu, cuma uji nasib,” tulis Kwee Thiam Tjing dalam Indonesia Raya (15-17 Agustus 1972), seperti termuat dalam Menjadi Tjamboek Berdoeri: Memoar Kwee Thiam Tjing (2010: 173).

Kelakuan kucing garong orang-orang yang doyan pekik merdeka itu merugikan pihak Indonesia. Aksi-aksi yang membabi-buta di Masa Bersiap ini nyatanya tak hanya membuat Indonesia terlihat buruk, tapi menambah musuh dan pembenci kaum Republiken.

Mantan Jenderal bernama RHA Saleh dalam Mari Bung Rebut Kembali (2000: 86) menyebut ada satu batalion infanteri KNIL yang memotivasi anggota-anggotanya untuk menumpahkan balas dendam di tengah panggung Masa Bersiap. Itulah "Batalyon Andjing NICA"—alias Batalyon Infanteri V KNIL.


Infografik HL Revolusi

Kacaunya Revolusi Indonesia

Di Keresidenan Pekalongan—yang membawahi Pekalongan, Tegal, dan Brebes—terjadi apa yang dikenal sebagai "Peristiwa Tiga Daerah."

Seorang tukang cukur bernama Kutil mendadak jadi pemimpin berpengaruh yang membersihkan orang-orang yang mereka tuduh sebagai musuh revolusi. Aksinya tak kalah membabi-buta. Kardinah, salah satu adik Raden Ajeng Kartini, menjadi korban. Kardinah, istri pangreh praja (pamong) kolonial, diarak keliling kota meski Kardinah dikenal berjiwa sosial.


Di Banten, gejolak juga terjadi. Seorang bernama Mohamad Mansur, bekas Sekretaris PKI cabang Anyer angkatan 1926, yang dijuluki Ce Mamat, juga jadi pemimpin revolusi. Sebelum Ce Mamat bebas dari penjara Kempeitai, meletus peristiwa di Cinangka pada 16 Agustus 1945.

“Para petani Cinangka mendatangi camat setempat, Tubagus Mohamad Arsad, untuk meminta bahan sandang yang dia kuasai diserahkan kepada mereka,” tulis Michael C. Williams dalam "Banten: Utang Padi Dibayar Padi, Utang Darah Dibayar Darah" dalam Audrey Kahin, Pergolakan Daerah pada Awal Kemerdekaan (1990).

Camat Arsad menolak, dan seketika rumahnya jadi sasaran perampokan. Camat kabur dari amarah massa rakyat yang lapar itu. Berharap bala bantuan mampu menenangkan massa, si camat melapor ke Wedana Anyer, Raden Sukrawardi. Mereka lantas ke di Cinangka, dikawal dua polisi. Sial, camat dan wedana justru terbunuh oleh massa yang lapar itu.


Tak hanya kerusuhan sosial tersebut, kemerdekaan rupanya menjadi sesuatu yang merepotkan bagi Republik Indonesia. Rakyat sipil yang gelap mata sulit dikontrol. Di Sumatera Timur, hal agak unik terjadi. Seperti kemudian diangkat lewat film Nagabonar, seorang bekas copet, yang berjuang melawan Belanda, dengan ngawur mengangkat diri jadi jenderal.

“Timur Pane mengumpulkan beberapa barisan, dan kesatuan yang besar yang diberinya nama Tentara Marsuse. Timur Pane menyatakan diri jenderal mayor dan mengangkat beberapa kolonel dan opsir-opsir menengah lain. Tentera Marsuse, yang dipimpin oleh Jenderal Mayor Timur Pane, menyatakan diri [...] menjadi TNI; pemimpin sampai anak buahnya memakai tanda pangkat militer,” catat buku Republik Indonesia Provinsi Sumatera Utara (1957).


Di Surabaya pun ada kejadian yang tak kalah unik. Banyak yang percaya bahwa Moestopo adalah Menteri Pertahanan ad interim. Sukarno dan Hatta kesal. "Pada pagi hari tanggal 30 Oktober 1945, drg. Moestopo dibawa ke Surabaya, dihadapkan kepada Bung Karno dan Bung Hatta,” tulis buku Pertempuran Surabaya (1998). Dalam pertemuan itu, Hatta berkata, "Ha, ini pemberontaknya?"

“Ya, pemberontak terhadap penjajah,” ujar Moestopo.

Begitulah kacaunya revolusi Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan