Revolusi dan Perubahan Tipe Nama Orang Minangkabau

Oleh: Husein Abdulsalam - 5 November 2017
Dibaca Normal 4 menit
Kepedihan dijalani orang-orang di Sumatera Barat setelah Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia menuai kegagalan.
tirto.id - Sambil tertawa kecil di ujung telepon, Guru Besar Sejarah Universitas Andalas Gusti Asnan menjelaskan makna di balik nama dirinya kepada reporter Tirto. Berdasarkan penuturan orangtuanya, kata 'Gusti' singkatan dari "gus" dan “ti". Suku kata "gus" merujuk pada bulan lahir, yakni Agustus, sementara "ti" diambil dari nama bidan yang membantu proses kelahirannya. Bidan itu bernama "Eti".

“Kata Asnan diambil dari "as" yang berasal dari nama ibu saya, Asyiah, dan "nan" diambil dari nama ayah saya, Syahminan,” ujar Asnan.

“Nama saya itu aneh sekali, kan?” lanjut Asnan, yang lahir di Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, pada 12 Agustus 1962.

Menurut Asnan, usai kegagalan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berbasis di Sumatera Barat, ada kecenderungan orang-orang Minang menamakan anaknya dengan "nama yang aneh," termasuk berbentuk singkatan beberapa kata.

Kala Kelompok Regionalis Menuntut Jakarta

Peristiwa PRRI terjadi kala Indonesia dipimpin Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Juanda. Saat itu, menurut Daniel S. Lev dan Herberth Feith dalam “The End of Indonesian Rebellion”, ada dua kelompok besar bersaing mengklaim kepemimpinan sejak era 1956.

Yang pertama dikenal sebagai kelompok "regionalis". Mereka terdiri petinggi militer di wilayah luar Jawa berikut para pendukungnya, yang sebagian besar anggota partai Masyumi. Kelompok ini menyatakan pemerintah terlalu tersentralisasi, birokratis, korup, dan tidak memerhatikan situasi di luar Jawa.

Sementara yang kedua adalah kelompok yang dipimpin Presiden Sukarno. Kelompok ini, menurut dua Indonesianis dari Australia itu, kekacauan politik berakar pada sistem kepartaian dan demokrasi liberal yang "tak sesuai dengan iklim tradisi" di Indonaesia.

Tahun berikutnya situasi semakin panas. Antara Mei hingga Juli 1956, petinggi militer regionalis di wilayah Sulawesi Utara dan Sumatera Utara menyelundupkan kopra dan karet. Dalihnya, hal ini dilakukan karena Jakarta mengabaikan wilayah dan kesejahteraan tentara.

Kemudian, pada Desember 1956, Letnan Kolonel Ahmad Husein membentuk Dewan Banteng di Sumatera Barat. Sejumlah daerah pun mengikuti langkah ini: ada Dewan Gajah di Sumatera Utara, Dewan Garuda di Sumatra Selatan, dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara.

“Kekacauan yang ada memenuhi jalan buntu sepanjang sisa tahun 1957. Jakarta menolak untuk mengakui dewan regionalis tetapi tetap melakukan negosiasi dengan komandan mereka,” tulis Lev dan Feith.

Semakin lama negosiasi antara Jakarta dan dewan regionalis tak kunjung bersepakat. Pada 10 Februari 1958, Letnan Kolonel Husein memberi ultimatum kepada Kabinet Juanda untuk mengundurkan diri dalam waktu lima hari.

Selain itu mereka juga menuntut agar Mohammad Hatta dan Sultan Hamengkubowono IX dapat membentuk kabinet zaken—kabinet yang terdiri para profesional.

Kabinet Juanda menolak tuntutan tersebut. Tak lama kemudian, pada 15 Februari 1958, kelompok tersebut memproklamasikan PRRI di Padang, Sumatera Barat, dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai perdana menteri. Namun, PRRI cepat takluk setelah diserang oleh Jakarta. Pada 29 Mei 1961, Ahmad Husein menyerahkan diri dan berakhirlah PRRI.


Gusti Asnan, penulis Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat tahun 1950-an (Obor, 2007), menjelaskan setelah PRRI berakhir, nagari-nagari di Sumatera Barat dikuasai tentara dari perpanjangan tangan Jakarta. Walaupun gubernur Sumatera Barat saat itu, Harun Zain Rang Kayo Basa, adalah orang Minangkabau (yang lahir di Jakarta), tetapi secara de facto yang berkuasa adalah militer.

“Kerumunan pejabat dan tentara Jawa tumpah ke sana selama dan sesudah pemberontakan dengan orang Jawa yang menduduki hampir semua pos senior di kantor gubernur, militer, dan kepolisian ... [membuat] orang Sumatera Barat melihat diri mereka sebagai warga negara kelas dua,” tulis laporan Kedutaan Besar Amerika Serikat, sebagaimana dikutip oleh Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan Ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia, 1926-1998 (Obor, 2005).

Akibat kegagalan revolusi dan masuknya militer itu terasa. Kepada Kahin, Harun menyebut bahwa saat kali pertama datang ke Sumatera Barat pada 1961, ia melihat kesedihan di mata para mahasiswa. “Pada 1961, wajah-wajah itu bengong seperti mereka tidak punya masa depan,” ujar Harun.

Hal senada diungkapkan seorang tokoh mahasiswa yang bergabung dengan PRRI, Sofyan Asnawi. Menurutnya, kesadaran yang mereka derita adalah kekalahan hina yang mengarah kepada “sejenis kehancuran mental” yang berlangsung selama tahun 1960-an di antara orang Minangkabau.

Mengubah Nama demi Bertahan Hidup

Gusti Asnan masih mengingat rumah makan Padang di belakang Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat. Nama rumah makan itu ‘Parmanto’. Awalnya, Gusti mengira Parmanto adakah nama Jawa. Namun, ternyata Parmanto adalah seorang Minangkabau.

Parmanto dibentuk dari dua kata, "Parman" dari kata Pariaman dan "To" dari Toboh, nama nagari di Sumatera Barat. Nagari adalah istilah untuk kesatuan administratif setingkat desa sesuai masyarakat hukum adat Minangkabau.

“Saya juga pernah menemui orang bernama Surianto. Nah, itu namanya sangat Jawa sekali. Tetapi 'Surian' itu sebenarnya nama nagari di Solok, Sumatera Barat, sedangkan 'To' dari kata Koto, marga khas Minangkabau,” ujar Asnan.

Asnan mengamati sebagian besar nama orang Minangkabau yang lahir sebelum peristiwa PRRI kental bernuansa Islami. Nama-nama ini semisal Mohammad Hatta, Yamin, Amrullah, Ibrahim Tan Malaka, atau Burhanuddin.


Setelah peristiwa PRRI, ada upaya untuk menutupi identitas yang dinilai sebagai "orang-orang kalah". Menurut Asnan, hal ini bagian dari strategi bertahan hidup. Dalam satu wawancara, Asnan sempat menjelaskan perubahan tipe nama ini berdampak pada munculnya semangat baru dari orang-orang Minangkabau. Mereka seakan mengubah diri, tetapi tidak memutus ikatan dari Minangkabau.

Perubahan tipe nama ini juga mempermudah urusan administrasi. Asnan mencontohkan, ibunya lebih mudah mendapatkan tanda tangan untuk akta kelahiran saat melaporkan kelahiran Asnan ke Wali Nagari Pauh-Lubuak Sikapiang dibanding dengan orang lain yang menamakan anaknya Alamsyah, Burhanuddin, atau Charil Anwar.

Sementara bagi mereka yang merantau ke Jawa, Asnan melacak bahwa mereka lebih mudah diterima ke dalam institusi pemerintahan.

“Waktu itu strateginya mendekatkan diri ke pusat, dengan cara mengganti nama yang ke-Jawa-Jawa-an, atau mengganti nama yang menghilangkan identitas ke-Minang-annya,” ujar Asnan.

Kini, sebagian orangtua masih mewarisi tradisi ini untuk memberikan nama anaknya.

Penulis Edward Samandyo Kennedy yang lahir 1987 menjelaskan bahwa kata Kennedy yang melekat padanya dan adik-adiknya karena ayahnya mengidolakan sosok presiden AS John F. Kennedy. Sementara kata "Samadyo" berarti "sama dengan dio". "Dio" merujuk nama ayah Edward.

Saya juga pernah menjumpai orang asal Sumatera Barat kelahiran 90-an yang memiliki nama Deswandhi ("Desember Waktu Anak Lahir di Hari Ibu") atau Gredinov ("Gerimis di Bulan November').

Namun, menurut Asnan, jumlah ini tidak terlalu banyak karena nama-nama sekarang lebih berkesan Islami, seperti Arif, Habibi, Nuralifah, dan jarang sekali yang berkesan nama Jawa.
Infografik kisah di balik nama

Nama-Nama Revolusioner ala Uni Soviet

Berbeda dengan Sumatera Barat yang revolusinya berujung kegagalan, seratus tahun lalu, kelompok Bolshevik berhasil melancarkan revolusi di Rusia. Diilhami oleh gagasan komunisme yang dituangkan oleh Karl Marx dengan sentuhan aksi massa ala Vladimir Illich Lenin, para kelompok revolusioner berhasil mengakhiri kekuasaan Tsar dan mendirikan Uni Soviet pada Oktober 1917.


Menariknya, semangat revolusi ini merasuk pada penamaan bayi-bayi yang lahir pada masa itu. Richard Stites dalam Revolutionary Dreams (1988) mencatat orang-orang Uni Soviet saat itu menamakan anaknya dengan nama tokoh seperti Marlen (Marx, Lenin), Melor (Marx, Engels, Lenin, October Revolution), Engelina (dari nama Friederich Engels), dan sejumlah nama variasi dari Lenin seperti Vladlen, Ninel, Ilich, dan Illina.

Mereka juga menamakan anak-anaknya dengan nama konsep-konsep kunci revolusi seperti Pravda, Revolyutsiya, Kommunia, dan Proletarii. Bahkan dicatat pula nama-nama berkesan industri dan saintifik seperti Industriya, Dinamo, Idea, Genii (jenius), Radium, serta Elektrifikatsiya.

Menurut Stites, penamaan ini merupakan bentuk ekspresi masyarakat Uni Soviet yang mendambakan penciptaan suatu realitas baru, yakni dunia yang lebih baik yang dihuni orang-orang bernama Joy (kesenangan), Will (kehendak), atau Rebel (pemberontakan), sekaligus monumen hidup yang mengingatkan perjuangan masa lalu. Selain itu, penamaan ini adalah bentuk perlawanan terhadap kebudayaan ortodoks Greko-Russia yang mendominasi Rusia sebelumnya.

Baca juga artikel terkait MINANGKABAU atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Zen RS
Artikel Lanjutan
DarkLight