Berkat Limpahan Bedil dari CIA: PRRI dan Pusaran Anti-Komunis

Oleh: Petrik Matanasi - 18 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
Badan intelijen AS menyalurkan bantuan uang dan senjata kepada PRRI di Sumatera Barat dan gerakan daerah melawan Sukarno pada 1950-an.
tirto.id - Perang Dingin mengharuskan CIA, badan intelijen AS, menempatkan para intelnya di Indonesia. Mereka paham ada perwira-perwira menengah—rata-rata berpangkat kolonel atau letnan kolonel—dan berkuasa di Sumatera yang sedang rongseng dengan pemerintah pusat.

Sejak 1956, di beberapa daerah, terbentuk dewan-dewan daerah. Di Sumatera Utara terbentuk Dewan Gajah dengan dipimpin Kolonel Maludin Simbolon pada 22 Desember 1956. Di Sumatera Selatan, pada 26 Desember 1956, berdiri Dewan Garuda yang dipimpin Letnan Kolonel Barlian. Di Sumatera Barat terbentuk Dewan Banteng pada 20 Desember 1956 yang dipimpin Letnan Kolonel Ahmad Husein. Jauh di Sulawesi Utara ada Dewan Manguni yang berdiri pada 17 Februari 1957, dipimpin Mayor Daniel Julius Somba.

Apa yang dilakukan para kolonel plus para pendukungnya, termasuk para politisi, dinilai sebagai upaya memperoleh otonomi daerah.

Namun, CIA menjadikan para kolonel ini sebagai kolega penting demi usaha memberantas komunisme dari Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca-Pemilu 1955. Seperti usulan Wakil Presiden Richard Nixon, sebagaimana dicatat Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA (2008), “Amerika Serikat harus bekerja melalui organisasi militer Indonesia untuk memobilisasi oposisi terhadap komunisme.”

Maka, para agen CIA mendekati para kolonel ini. CIA yang kaya sumber daya ini mengontak salah satu dari perwira menengah yang berpengaruh di Sumatera. Audrey Kahin dan George McTurnan Kahin dalam Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia (1997) mencatat bahwa “hubungan CIA yang pertama dengan para pembangkang, menurut Joseph Burkholder Smith, dilakukan dengan Kolonel Simbolon pada April 1957, yang tidak lama setelah itu disusul oleh kantor Smith di Washington.”

Agen-agen CIA mengadakan hubungan pula dengan lingkaran orang-orang Letnan Kolonel Ahmad Husein. “Sekitar bulan September 1957, Smith berangkat ke Sumatera Tengah untuk bertemu Ahmad Husein dan Simbolon di Bukittinggi,” tulis Mestika Zed & Hasril Chaniago dalam Ahmad Husein: perlawanan seorang pejuang (2001).


“Para kolonel menjelaskan kepada agen CIA [bahwa] mereka telah membuka rekening bank tersendiri di Singapura dan rekening itu dapat digunakan siapa pun yang bersedia membantu mereka. Mereka memiliki perwakilan di Singapura, termasuk Soemitro,” tulis suami-istri Kahin. Menurut penulis buku itu, Soemitro adalah pencari dana bagi para pemberontak bersama Letkol Herman Nicolas "Ventje" Sumual.

Sumual adalah salah seorang pencetus Perdjuangan Semesta (Permesta) pada 2 Maret 1957. Bersama para pemimpin dari Minahasa, Bugis, Makassar, dan Ambon, Sumual mendeklarasikan ide Permesta di kediaman Andi Pangerang Petta Rani, seorang aristokrat Bugis dan gubernur Sulawesi.

Adapun Soemitro Djojohadikusumo adalah mantan menteri keuangan tahun 1950-an yang pergi ke Padang. Sementara Ahmad Husein adalah komandan militer Sumatera Barat yang mengatur pertemuan di Sungai Dareh, sebuah kota kecil di sebelah timur Padang, untuk membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 15 Februari 1958. Hashim termasuk salah satu yang terlibat dalam PRRI.


“Kami menyembunyikan kenyataan bahwa kami mendukung aspirasi mereka (para kolonel) untuk membentuk pemerintahan sendiri lepas dari pemerintahan Sukarno,” ujar Joseph Burkholder Smith, seperti dikutip dalam Subversi sebagai Politik Luar Negeri (1997).

Sebelum PRRI terancam oleh reaksi pemerintah pusat yang mengirimkan tentara Republik, para kolonel pembangkang dan pengikutnya ini memperkuat diri. Dan CIA adalah penolong mereka, setidaknya dalam pasokan bedil.

"Suplai senjata Amerika Serikat datang secara lambat tapi terus mengalir,” tulis Greg Poulgrain dalam Bayang-Bayang Intervensi: Perang siasat John F kennedy dan Allen Dulles atas Sukarno (2017).

Audrey dan George Kahin mencatat, “Sejak awal Oktober (1957), CIA mulai menyerahkan dana kepada Kolonel Simbolon […] di Bukittinggi, 3 atau 4 Oktober, dan diberi 50 ribu dolar AS.” Uang ini, menurut Simbolon, untuk membeli makanan bagi 300-400 tentara di Medan. Di Singapura, Simbolon pun dapat bantuan lagi, termasuk senjata.

“Selama November dan Desember 1957, cukup banyak persenjataan modern buatan Amerika Serikat yang masuk dan dibiayai oleh Amerika Serikat, diangkut ke pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai pemberontak,” tulis Audrey dan George Kahin. Persenjataan ini diangkut lewat kapal-kapal barang swasta maupun kapal-kapal selam Amerika Serikat.

Infografik HL Indepth PRRI

Bantuan Senjata CIA Memperkuat Perwira Anti-Komunis

Kapal selam Amerika pernah mengirim berton-ton senjata dan amunisi ke Pelabuhan Painan, 35 mil ke arah selatan Padang. Dari Painan, 50 tentara bawahan para kolonel diangkut ke pangkalan-pangkalan militer Amerika di Asia Tenggara untuk dilatih.

Setelah Desember 1957, pengiriman senjata dilakukan secara terbuka. Senjata diangkut pesawat yang diterbangkan dari Filipina, Thailand, Taiwan atau Malaya. Di antara pesawat-pesawat itu ada yang singgah dulu di Lapangan Udara Singapura. Ada juga yang terbang langsung ke wilayah yang dikuasai para kolonel.

Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA mencatat, Kepala Operasi CIA di Timur Jauh, John Mason, bersama jaringan Pentagon mengumpulkan bedil, roket, senapan mesin, mortir, granat tangan, dan amunisi untuk 8 ribu serdadu. Semuanya diberangkatkan dari Subic Bay dengan kapal induk USS Thomaston ke Sumatera pada 8 Januari 1958. Kapal induk itu dibuntuti kapal selam USS Bluegill.

“Kiriman senjata tersebut tiba pekan berikutnya di kota pelabuhan Sumatera bagian utara, Padang, sekitar 225 mil laut arah selatan Singapura. Pembongkaran muatan itu berlangsung terbuka. Peristiwa ini mengundang kerumunan manusia yang luar biasa banyak,” tulis Weiner.

Semula, seperti disinggung John Roosa dalam Dalih Pembuhan Massal (2008), para kolonel ini tidak bermaksud mendongkel pemerintahan Sukarno. “Para kolonel ini karena dibanjiri dolar dan senjata oleh CIA, lalu menjadi lebih ambisius,” tulis Roosa.

Namun, bantuan CIA ini seolah mubazir. Sebab, ambisi pasukan PRRI cepat dipadamkan oleh tentara Republik.

PRRI pun kerap digambarkan sebagai kegagalan CIA. PRRI nyata-nyata tak mampu mendepak Sukarno. PRRI sama gagalnya dengan invasi Teluk Babi, yang berusaha mendongkel Fidel Castro dan konco-konco pemerintahan komunis Kuba. Namun efek kegagalan ini bakal menguatkan peran perwira anti-Komunis.


“Bantuan CIA bagi pemberontak dirancang bukan untuk mendorong Sumatera atau Sulawesi melepaskan diri Jakarta, bukan untuk mendapatkan otonomi lebih luas, melainkan menghasut respons militer dari Jakarta untuk menyatukan tentara Indonesia,” tulis Greg Poulgrain.

Banyak hal terselubung dan sulit dipahami orang awam dalam dunia intelijen. Menurut analisis Poulgrain, Allen Dulles hendak menguatkan militer Indonesia dengan cara terselubung. TNI adalah sarana terbaik menumbangkan PKI lalu mengusir tentara Belanda dari Papua, menurut Poulgrain. Setidaknya, setelah PRRI gagal, TNI mendapatkan persenjataan baru di Sumatera. TNI sendiri akhirnya dipimpin perwira-perwira anti-komunis macam Abdul Haris Nasution dan Ahmad Yani.

Allen Dulles, adik Menteri Luar Negeri AS John Dulles, dianggap berhasil. Menurut Poulgrain, dua bersaudara ini adalah "pembisik yang cukup berpengaruh" terhadap Presiden Dwight Eisenhower, jenderal bintang lima yang memimpin armada sekutu dalam Perang Dunia II, yang sama-sama tak ingin komunis membesar di Indonesia.

“Orang kebanyakan tidak pernah mendengarkan tentang kesuksesan CIA, melainkan hanya kegagalannya saja,” ucap Richard Nixon, seperti dikutip Poulgrain.


Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan