Arsip Rahasia AS dan Upaya Membuktikan Spekulasi Pembunuhan Kennedy

Jack Ruby menembak Lee Harvey Oswald menggunakan revolver .38 terkait dengan pembunuhan presiden AS John F Kennedy (24/11/1963). Dallas Times Herald/Bob Jackson
Oleh: Tony Firman - 29 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
2.891 halaman dari dokumen rahasia AS terkait peristiwa pembunuhan Presiden John F. Kennedy dirilis.
Setelah arsip rahasia milik AS seputar pembunuhan massal 1965 di Indonesia dirilis untuk publik dunia pada 17 Oktober kemarin, kini giliran dokumen rahasia soal pembunuhan Presiden John F. Kennedy dibuka untuk umum.

Deklasifikasi dokumen tersebut disambut oleh Presiden Donald Trump lewat akun Twitternya. "Pembeberan yang telah lama dinanti dari #JFKFiles akan dilakukan besok. Sangat menarik!" cuitnya pada Rabu (25/10) kemarin.

Sesuai jadwal, Kamis (26/10) kemarin waktu AS, ribuan dokumen rahasia yang disimpan di Arip Nasional dirilis. Ada 2.891 halaman yang dipublikasikan terkait kasus pembunuhan Presiden AS ke-35 pada November 1963.

Kematian Kennedy 54 tahun silam memang kontroversial. Minat publik AS masih tinggi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan motif besar di balik ditembak pembunuhan veteran Angkatan Laut AS itu.

Baca juga:

Pada 2013 lalu, sebuah jajak pendapat yang diadakan oleh Gallup Poll menunjukkan bahwa tidak kurang dari 61% orang Amerika percaya ada aktor selain Lee Harvey Oswald yang terlibat dalam pembunuhan Kennedy.

Dalam hasil jajak pendapat tersebut, 13% masyarakat Amerika percaya mafia dan pemerintah federal bersekongkol membunuh Kennedy; 7% percaya CIA pelakunya (7%) atau Fidel Castro/Kuba (5%). Lima persen sisanya menyatakan Kennedy dibunuh karena segelintir orang berkepentingan yang merasa terganggu oleh kebijakan Kennedy.

John F. Kennedy dibunuh pada 22 November 1963. Ketika itu, Kennedy beserta istri dan para pengawalnya mengendarai mobil limousine terbuka melintasi Dealey Plaza di Dallas. Tiba-tiba sebutir peluru menghantam lehernya. Beberapa detik kemudian, peluru lain menembus kepala Kennedy dan melukai Gubernur Texas John Connally yang duduk di depannya.

Tak lama berselang, seorang pria bernama Lee Harvey Oswald ditangkap atas tuduhan penembakan. Oswald tidak pernah diadili karena seorang pemilik klub malam bernama Jack Ruby membunuh Oswald dua hari setelah penangkapan.

Baca juga: Arsip Rahasia AS: Ide Membunuh Marsekal Kesayangan Sukarno

FBI dan Komisi Warren yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan Kennedy selama sepuluh bulan berkesimpulan bahwa Oswald merupakan pelaku pembunuh tunggal. Sementara penyelidikan yang diadakan FBI pada 1978-1979 menyimpulkan kemungkinan besar pihak bersenjata lain yang menembak Kennedy.

Dua kesimpulan tersebut saling bersaing. Minimnya transparansi serta fakta bahwa waktu pembunuhan dan penyelidikan bertepatan dengan puncak ketegangan Perang Dingin telah melahirkan beragam teori konspirasi seputar pembunuhan Kennedy, dari yang paling ngawur hingga yang terlihat serius.

ABC News pada 2003 silam pernah merilis hasil jajak pendapat yang menyatakan bahwa 70% masyarakat AS percaya bahwa kematian Kennedy adalah hasil dari konspirasi besar. Arah lintasan peluru dianggap tidak sesuai dengan tempat di mana Oswald bertengger, yakni lantai enam Texas School Book Depository.

Baca juga:

Sebagian besar teori konspirasi pembunuhan JFK berkutat pada gagasan bahwa Oswald tidak bertindak sendiri. Dilansir dari The Week, ketika presiden Kennedy terkena peluru yang membunuhnya, iring-iringan mobil melewati sebuah bukit berumput di sisi utara Elm Street. Surat kabar setempat mencatat bahwa tak lama setelah penembakan tersebut, polisi menangkap tiga orang di belakang bukit. Ciri-ciri rambut cepak dan setelan pakaian rapi memunculkan spekulasi bahwa mereka adalah agen CIA.

Spekulasi lain pun berkembang. Jika Oswald adalah pembunuh bayaran, siapa yang beri perintah dan imbalan?

Para ahli teori konspirasi menyebut CIA punya peran di belakang Oswald dan tiga orang di belakang bukit yang dicurigai kepolisian setempat. Salah satu yang disebut adalah Howard Hunt, mantan agen CIA yang terlibat dalam operasi Teluk Babi ke Kuba guna menggulingkan Fidel Castro.

Kelompok mafia juga masuk kandidat para penyokong kematian Kennedy. Di masa kepemimpinannya, Robert Kennedy selaku Jaksa Agung AS saat itu tengah perang melawan para mafia. Jumlah tokoh mafia senior yang ditangkap membludak.

Menurut Scientia Press, Soviet memiliki motif yang jelas dan kuat untuk membunuh JFK. Ini dilakukan merespons situasi krisis rudal Kuba pada 1962. Melalui Oswald yang lebih condong ke Soviet, KGB (Komite Keamanan Negara Soviet) memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi dengannya.

Baca juga: Penyakit-Penyakit di Gedung Putih

Seseorang misterius yang memegang payung hitam meski hari cerah saat iring-iringan mobil Kennedy melaju turut dicurigai sebagai pelaku. “Satu-satunya orang yang membawa payung di Dallas berdiri tepat di tempat tembakan masuk ke limusin. Ada yang bisa menjelaskannya dengan ini?” tanya Josiah Thompson, salah seorang anggota penyidik pembunuhan JFK.

Analisis lain terkait kebijakan luar negeri AS juga menyeret nama Indonesia dan Sukarno dalam pusara andil ditembak matinya Kennedy. Dalam buku Greg Poulgrain berjudul The Incubus of Intervention: Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles, Sukarno menjadi pusat konflik antara Kennedy dan Allan Dulles selaku direktur CIA. Menurut Poulgrain, Dulles memiliki tujuan untuk mencopot Sukarno dari kekuasaannya di Indonesia sejak Kennedy belum menjadi presiden AS.

Baca juga: Freeport di Papua ialah Warisan Daripada Soeharto

Ada harapan bahwa deklasifikasi dokumen rahasia AS seputar peristiwa pembunuhan Kennedy bisa menjelaskan, membantah, atau mungkin mengkonfimasi berbagai analisis yang selama ini beredar.

Meski begitu, beberapa dokumen masih ditahan lantaran Donald Trump mendapat desakan dari CIA dan FBI dengan alasan keamanan nasional, serta hal-hal terkait penegakan hukum dan hubungan luar negeri. Trump kemudian memerintahkan agen federal untuk meninjau kembali sisa arsip tersebut dengan diberi tenggat waktu 180 hari.



Salah satu dokumen menarik yang pertama digali adalah tentang sebuah memo yang ditulis oleh direktur sekaligus pendiri FBI, J. Edgar Hoover yang mengatakan bahwa FBI telah memperingatkan ancaman pembunuhan terhadap Lee Harvey Oswald yang saat itu berada dalam tahanan polisi.

"Tidak ada yang tahu lebih jauh mengenai kasus Oswald kecuali bahwa dia sudah meninggal," tulis Hoover pada 24 November 1963 silam. "Semalam kami menerima telepon di kantor kami di Dallas dari seorang pria. Bicaranya pelan dan tenang. Dia bilang dia anggota kelompok yang dibentuk untuk membunuh Oswald.”

Hoover juga mengaku tidak punya informasi lengkap tentang sosok Jack Ruby, orang yang kemudian menembak mati Oswald. Namun, Hoover mengetahui nama asli Ruby adalah Rubenstein dan mencatat rumor soal aktivitas gelap yang dilakukan Ruby selama ini.

Dokumen tersebut juga mengungkapkan bahwa para pejabat Soviet khawatir ada sebuah konspirasi di balik pembunuhan presiden yang mungkin dilancarkan oleh kelompok sayap kanan atau bahkan pengganti Kennedy, Wakil Presiden Lyndon Johnson.

Soviet pun mengkhawatirkan bakal terjadi perang setelah kematian Kennedy. "Sumber kami lebih lanjut menyatakan bahwa para pejabat Soviet gelisah apabila kosongnya kepemimpinan bisa memicu jenderal-jenderal petualang AS meluncurkan rudal ke Uni Soviet." tulis memo tersebut.

Baca juga:

Para pemimpin Soviet menganggap Oswald sebagai “orang yang tidak setia kepada negaranya sendiri”, tulis memo FBI yang merekam reaksi Uni Soviet atas pembunuhan tersebut.

Masa kepemimpinan Kennedy memang dilalui oleh eskalasi Perang Dingin. Sejumlah peristiwa penting seperti Invasi Teluk Babi yang dilancarkan AS untuk menggulingkan Fidel Castro, Perang Vietnam, dan Krisis Rudal Kuba terjadi ketika Kennedy berkuasa.

Tentu saja sisa-sisa dokumen lainnya masih akan terus menarik bagi para peneliti yang mencoba menghubungkan titik-titik misterius seputar kematian John F. Kennedy.

Baca juga artikel terkait JOHN F KENNEDY atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight