PRRI Memobilisasi Anak Sekolahan untuk Melawan Sukarno

Oleh: Petrik Matanasi - 18 Desember 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sintong Panjaitan, yang kelak menjabat Danjen Kopassus, ikut dilatih pada masa PRRI di Sumatera (1958-1961).
tirto.id - Bedil bukan barang aneh bagi Letnan Jenderal Sintong Panjaitan muda. Sebelum masuk TNI, ia sudah pernah pegang senjata. Ini terjadi sewaktu ia SMA di Tarutung, Sumatera Utara, saat Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) meletus di Sumatera bagian utara.

“Ia dilatih kemiliteran selama tiga bulan oleh anak buah Kolonel [Maludin] Simbolon. Meski demikian, Sintong tidak pernah bertempur di pihak pemberontak,” tulis Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan, perjalanan seorang prajurit para komando (2009). Setidaknya enam kawan SMA-nya terbunuh dalam pertempuran melawan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat, nama saat itu untuk Kopassus, yang kelak menjadi pelabuhan Sintong berkarier sebagai komandan jenderal.

Di Sumatera Barat, ada pemuda yang punya nasib seperti Sintong. Buku Profil Dua Ratus Tokoh Aktivis dan Pemuka Masyarakat Minang (1995) menceritakan kisah Atwir Maalah yang dijadikan tentara PRRI.

“Biar pun tidak lulus SD, ia melanjutkan pelajaran ke SMP Taman Siswa di Kota Batusangkar. Tahun 1958, ia terbawa arus ikut dalam pemberontakan PRRI. Menjelang pemberontakan, para pelajar dilatih kemiliteran selama setengah bulan,” tulis buku itu.

“Waktu itu saya pikir, mau apa saya ini?" ingat Atwir Maalah.

Bahkan Ahmad Syafi'i Ma'arif, salah seorang cendekiawan muslim terhormat di Indonesia yang lahir di Sijunjung pada 1935, dalam autobiografi Titik-titik Kisar di Perjalananku (2009), berkata bahwa "... pada masa itu [aku] pro-PRRI […] belakangan mulai mempertanyakan sikapku itu: apakah sudah benar atau karena larut dalam emosi anti-komunis?”

Kampung halaman Syafi'i, Sumpur Kudus, menjadi pusat PRRI. Saat itu Buya Syafi'i tidak berada di sana. Ketua umum Muhammadiyah ke-13 ini tengah merantau di Jawa demi cita-citanya sekolah tinggi. Namun, beberapa kawan sekampungnya memilih pulang.

Hasril Chaniago & Khairul Jasmi dalam Brigadir Jenderal Polisi Kaharoeddin Datuk Rangkayo Basa: Gubernur di Tengah Pergolakan (1998) menulis “... sekitar 400 mahasiswa dan pelajar Sumatera Barat bergabung bersama PRRI. Mereka sedang kuliah di Jawa." Mereka pulang ke Tanah Minang untuk “menerima pelatihan dasar menggunakan senapan dan senjata api otomatis,” tulis Chaniago dan Jasmi.

“Di daerah mereka bergabung dengan pelajar dan mahasiswa setempat yang telah lebih dulu mendapat latihan dari Dewan Banteng. Selain itu, sejumlah tentara asal Sumatera Barat yang bertugas di Bandung, sekitar bulan April, juga pulang untuk bergabung dengan PRRI,” tambah kedua penulis tersebut. Dewan Banteng dipimpin Letkol Ahmad Husein yang membentuk PRRI pada 1958.

Infografik HL Indepth PRRI


Pemuda-pemuda itu datang dari Jawa tak lama menjelang kedatangan tentara dari Jawa. “Ribuan pemuda dan mahasiswa inilah yang kemudian dikoordinasikan ke dalam barisan tentara pelajar,” demikian Mestika Zed & Hasril Chaniago dalam Ahmad Husein: perlawanan seorang pejuang (2001).

Nama satuan tempur instan itu mirip dengan satuan pelajar dan pemuda dengan nama sama di masa revolusi. Di masa-masa gerilya PRRI, antara 1958 hingga 1961, satuan ini dikenal sebagai Kompi Mawar (untuk para mahasiswa) dan Kompi Melati (untuk para pelajar).

Kekuatan PRRI, menurut Ahmad Husein seperti dicatat Zed & Chaniago, “mendekati 15.000 personel, terdiri tentara reguler, tentera pelajar dan mahasiswa yang dikenal The Second Army, serta para pegawai negeri sipil termasuk guru-guru.”

Senjata pasukan paramiliter PRRI dipasok oleh CIA, badan intelijen AS. Tim Weiner dalam Membongkar Kegagalan CIA (2008) mencatat bahwa Kepala Operasi CIA di Timur Jauh, John Mason, bersama jaringan Pentagon mengumpulkan bedil, roket, senapan mesin, mortir, granat tangan, dan amunisi untuk 8 ribu serdadu.

Sayangnya, senjata-senjata bikinan Amerika itu tak dibarengi kemampuan tempur. Lawan dari tentara-tentara belia itu adalah tentara-tentara berpengalaman. Di antara tentara itu dari Banteng Raider Diponegoro yang terlatih melawan pasukan pemberontak DI/TII. Belum lagi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat.


Soe Hok Gie, meski tak menaruh simpati pada PRRI/Permesta, dalam artikel "Generasi yang Lahir Setelah Empat Lima" dalam Zaman Peralihan (2005), memuji para pemuda-pemuda belia yang seharusnya sekolah ini bergabung sebagai tentara PRRI.

“Pemuda-pemuda tentara pelajar PRRI-Permesta ini percaya bahwa cita-cita perjuangan mereka adalah untuk pembangunan. Dan karena pembangunan dihalangi, kita harus mengangkat senjata melawan Sukarno-PKI. Ribuan dari mereka menghancurkan hidupnya demi cita-cita murni,” tulis Gie, yang memang anti-Sukarno.

Sisa-sisa dari pelajar dan mahasiswa yang terlibat PRRI itu kemudian diampuni pemerintah. Mereka tak berlama-lama ditahan seperti pucuk pimpinan mereka. Ada dari mereka yang kembali sekolah atau bekerja, bahkan ada yang menjadi Danjen Kopassus seperti Sintong Panjaitan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan