10 Tahun Kematian Soeharto

Barisan Besan daripada Soeharto

Oleh: Petrik Matanasi - 26 Januari 2018
Dibaca Normal 2 menit
Besan Soeharto: dua diplomat, satu pengusaha, satu bekas menteri, satu tentara, satu ningrat Mangkunegaran, dan satu dalang. Semuanya bukan sekadar rakyat jelata.
tirto.id - Ki Dalang Sugito Purbocarito adalah dalang terkenal dari Purwokerto, Jawa Tengah. Ia mendalang sejak era 1960-an. Putrinya, Mayangsari, tak kalah terkenal. Mayangsari merupakan penyanyi yang cukup populer di era 1990-an.

Berhubung Mayangsari kini berstatus sebagai istri dari Bambang Trihatmodjo, putra kedua mantan Presiden Soeharto, sejak 7 Juli 2000, maka Ki Dalang Sugito juga terhitung sebagai besan Soeharto. Perkawinan Bambang dan Mayangsari itu dianugerahi seorang anak, Khirani Siti Hartina Trihatmodjo. Di antara barisan besan Soeharto, Ki Dalang Sugito adalah satu-satunya besan yang seniman tradisional.

Sebelum dengan Mayangsari, Bambang pernah berumah tangga dengan Halimah Agustina Kamil. Mereka menikah pada 24 Oktober 1981. Perkawinan itu memberi Bambang tiga anak: Gendis Siti Hatmanti, Panji Adhikumoro dan Bambang Aditya Trihatmanto. Halimah adalah putri seorang diplomat berdarah Minangkabau bernama Abdullah Kamil. Ayah Halimah pernah jadi Duta Besar Indonesia untuk Thailand. Ibu Halimah adalah perempuan Thailand bernama Achara.

Menurut Zulhasril Nasir dalam Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau di Indonesia, Malaysia, dan Singapura (2007: 79), Abdullah Kamil “melakukan kegiatan penyelundupan senjata dari Singapura zaman revolusi.” Artinya, ayah Halimah juga pejuang Angkatan 45. Menurut Nasir pula, Abdullah terkait dengan Partai Republik Indonesia (PARI) yang berdiri di Bangkok pada 1927. Partai itu didirikan Tan Malaka.


Dari Diplomat sampai Keturunan Ningrat

Abdullah Kamil bukan satu-satunya besan Soeharto yang berlatar belakang diplomat. Menurut Indonesia Reports, Masalah 36-46 (1989:46), Prayitno Singgih, besan lainnya, adalah seorang diplomat. Putra Prayitno Singgih, yakni Pratikto Prayitno Singgih alias Tito, adalah suami dari putri bungsu Soeharto, Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mamiek Soeharto.

Mereka menikah pada 1990 dan berakhir dengan perceraian, sebelum putra mereka Wiratama Hadi Ramanto jadi pengibar Bendera Pusaka di Istana. Pratikto Singgih terjun ke dunia usaha dan pernah jadi komisaris Petrochemical.

Tak hanya Bambang dan Mamiek yang mengalami perceraian. Dua anak Soeharto lain, Siti Hediati Harijadi alias Titiek dan Hutomo Mandala Putra alias Tommy, juga mengalaminya.

Tommy bercerai dengan Regita Cahyani alias Tata pada 2006. Tata adalah anak dari Raden Mas Bambang Soetjahjo Adji Soerjosoebandoro, keturunan bangsawan Pura Mangkunegaran, seperti halnya Siti Hartinah alias Tien Soeharto. Bambang Soetjahjo pernah menjabat kepala perwakilan perusahaan pelayaran PT Adhika Admiral Line di Singapura.


Dari kalangan pengusaha, Soeharto hanya punya satu besan, yakni Edi Kowara. Anak laki-laki Edi Kowara, Indra Rukmana, menikah dengan Siti Hardijanti Hastuti—anak tertua Soeharto. Edi Kowara memulai bisnis dari level pemborong kecil-kecilan lalu menjadi pengusaha konstruksi raksasa.

Perusahaannya yang bernama PT Tehnik Utama, menurut Joe Studwell dalam Asian Godfathers: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa (2017), adalah "salah satu perusahaan terbesar di Indonesia di bawah Soeharto, yang terlibat dalam konstruksi, teknik, dan perdagangan umum" (hlm. 352).

“Selain PT Tehnik Umum, ia masih memiliki sepuluh perusahaan lagi. Di antaranya pembotolan Coca-Cola untuk Jawa Barat, makanan ternak, asuransi jiwa, suku cadang mesin tekstil, pabrik minyak kelapa, perkebunan karet, pabrik baja. PT Cipta Sarana juga miliknya,” catat buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1984: 393-394).

Pengusaha yang tumbuh besar di Bekasi dan berbisnis sejak remaja ini dikenal sebagai Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) dari 1976 hingga 1983. Dia juga pernah menjabat Wakil Presiden Asosiasi Kontraktor Asia dan Pasifik Barat (IFAWPCA) pada 1975.

Infografik HL Soeharto

Besan yang Jadi Menteri

Satu-satunya besan Soeharto yang pernah jadi menteri adalah Sumitro Djojohadikusumo. Di era Presiden Sukarno, sekitar tahun 1950-an, Sumitro pernah menjadi Menteri Perdagangan dan Perindustrian (1950-1951) dan Menteri Keuangan (1952-1953 dan 1955-1956). Setelah Soeharto jadi presiden, Sumitro jadi menteri lagi. Tahun 1973 hingga 1978, Sumitro adalah Menteri Riset.


Anak laki-laki tertua Sumitro, Prabowo Subianto Djojohadikusumo, yang dari muda berkarier di Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), pernah kawin dengan Siti Hediati Harijadi binti Soeharto pada 1983. Mereka kemudian bercerai pada 1998. Ketika Prabowo berumah tangga dengan perempuan yang kerap disapa Titiek itu, Sumitro tidak sedang jadi menteri.

Setelah tak jadi menteri lagi, Sumitro dijuluki sebagai begawan ekonomi Indonesia. Beberapa bekas mahasiswa Sumitro di Fakultas Ekonomi UI menjadi ekonom dan pejabat era Soeharto—yang kerap dijuluki Mafia Berkeley.


Ketika Soeharto masih jadi presiden, karier militer Prabowo bisa dibilang melesat. Prabowo pernah jadi Komandan pasukan elit Kopassus dan Panglima Kostrad. Namun, ia tak pernah jadi Kepala Staf Angkatan Darat dan Panglima TNI. Karirnya terpeleset setelah Soeharto lengser. Prabowo berpangkat terakhir Letnan Jenderal TNI.

Jika Prabowo satu-satunya mantu dari kalangan TNI, maka di barisan besan hanya satu orang yang berlatar belakang militer. Ia adalah Letnan Kolonel Djufri, yang berasal dari Corps Polisi Militer.

Putri dari Letnan Kolonel CPM Djufri adalah Ilsje Anneke Ratnawati, yang menikah dengan Sigit Harjojudanto bin Soeharto. Ilsje dan Sigit menikah di hari yang bersamaan dengan Siti Hardijanti Hastuti dan Indra Rukmana, pada 23 Januari 1972 di Istana Bogor.

Baca juga artikel terkait KELUARGA CENDANA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Artikel Lanjutan