Belajar Berdamai dengan Sejarah Kelam

Oleh: Petrik Matanasi - 20 April 2017
Dibaca Normal 4 menit
Bagi banyak orang Indonesia, pihak Belanda itu jahat dan pihak Indonesia itu benar, saat masa revolusi. Sebaliknya, pembunuhan orang-orang sipil Belanda atau tawanan Jepang dan Inggris, tanpa proses pengadilan seakan ditutupi.
tirto.id - Saat film dokumenter Hoe Nederland Met Zijn Geschiedenis Omgaat (1995) diputar, banyak peserta diskusi nampak tersenyum senang. Film itu kebetulan menggambarkan desertir tentara Belanda bernama HJC Princen yang berpihak ke Republik hingga beristri Indonesia.

Princen berperang melawan tentara Belanda, yang merupakan kawan-kawannya. Film ini menggambarkan bagaimana orang-orang Belanda sadar sejarah mengakui tentara Belanda melakukan pelanggaran HAM selama kurun waktu 1945 hingga 1949.

Film ini juga membandingkan para tentara Belanda membantai warga sipil di Desa Galung-galung pada 1 Februari 1947 dalam “kampanye pasifikasi” ala Westerling. Ini tak jauh beda dengan apa yang dilakukan tentara Jerman pada 1 Oktober 1944 saat Perang Dunia II terhadap orang-orang Belanda di Desa Putten, Negeri Belanda.

Bagi Belanda, peristiwa kelam 70 tahun silam mereka coba tanamkan untuk generasi mereka. Pada 1990-an, pembelajaran sejarah kepada siswa di sekolah Belanda membandingkan kasus pembantaian di desa Putten itu dengan pembantaian di My Lai, Vietnam, oleh tentara Amerika pada 1968.

Permintaan Maaf Belanda


Seorang veteran Tentara Belanda, bernama Maarten Schaafsma, yang dulu ikut memerangi Indonesia sebagai komandan pasukan, mengaku: setelah pertempuran sengit dalam pengepungan sebuah kampung, dia pernah menyuruh seorang penerjemah untuk memeriksa tawanan perangnya, karena tak berseragam militer.

“Introgasi orang ini!” perintah Maarten kepada si penerjemah kala itu.

Si penerjemah menyandang senapan mesin ringan jenis Thompson alias Tommy Gun. Maarten sendiri tidak yakin tawanannya.

“Penerjemah itu bicara padanya. Saya tidak bisa mengerti karena dalam bahasa Jawa. Kemudian dia (si penerjemah) membanting dia ke tanah dan menodongkan senjata Tommy-nya dan menembak mati dia (si tawanan),” kata Maarten yang mengaku kaget dan tak bisa lupa dengan kelakuan si penerjemah.

Maarten yang saudara-saudaranya dibantai Serdadu NAZI Jerman di masa perang dunia II, mengaku “mungkin saudara-saudara saya juga dibunuh seperti itu.”

Mantan veteran Joop Hueting juga melihat hal yang sama ketika dia baru dua hari terjun dalam peperangan di Indonesia. Dia melihat seorang tawanan yang masih muda, yang dalam hati Joop disebutnya: Pejuang Kemerdekaan Sejati.

Joop melihat sang pemuda itu tetap memilih tak mau beri informasi apapun pada tentara Belanda. Si pemuda hingga ditendangi dan dipukuli, lalu digantung tubuhnya dalam posisi terbalik, lalu kepalanya dibenturkan hingga pecah.
Ketika itu, Joop yang masih muda tak bisa berbuat apa-apa karena dia berseragam tentara Belanda seperti juga Maarten. Ini karena saat mereka diberangkatkan ke Indonesia, mereka didoktrin bahwa mereka berperang melawan para bandit, tapi di mata Republik Indonesia disebut sebagai pejuang.

Simbol kekejaman tentara Belanda adalah Westerling. Sosok bernama lengkap Raymond Westerling yang terlibat dalam pembantaian ribuan nyawa di Sulawesi Selatan. Bahkan pihak Indonesia menyebut 40.000 orang terbunuh dalam waktu 3 bulan oleh aksi Westerling. Jumlah 40.000 korban bila dibagi 90 hari, maka setiap hari tentara Belanda membantai 444 orang.

Menurut catatan Alex Kawilarang dalam auotobiografinya yang ditulis Ramadhan KH, AE Kawilarang Untuk Sang Merah Putih (1989), “Penelitian yang kami (pihak AD) adakan pada 1951 di Makassar menyatakan jumlah korban di pihak Indonesia akibat operasi Tentara Belanda adalah kurang lebih 1.700 orang. Hampir seluruhnya terjadi antara pertengahan 1946 hingga pertengahan 1947, dan dari angka itu kurang lebih 700 adalah korban Depot Speciale Troepen (DST) dengan Barisan Penjaga Kampung.”

Tentu saja, kebanyakan orang Indonesia lebih percaya angka 40.000 korban dan menolak angka yang dalam kisaran seribuan saja. Namun, berapapun jumlahnya, pembunuhan tanpa pengadilan adalah kejahatan yang harus ditindak.
Selain kasus Westerling di Sulawesi, masyarakat Indonesia juga ingat dengan peristiwa pembantaian Rawagede di Karawang. Sebanyak 431 orang terbunuh. Terkait peristiwa ini Pemerintah Belanda memberi kompensasi pada keluarga korban, sesuai putusan pengadilan di Den Haag 14 September 2011.

Pada 2013, pemerintah Belanda melalui Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan meminta maaf terkait pembantaian Westerling (2013) dan Pembantaian Rawagede (2011). Perdana Menteri Mark Rutte pada 2013 juga meminta maaf atas sikap bangsanya. Pemerintah Belanda mengumumkan membayar santunan sebesar 20.000 euro kepada para janda korban.

Infografik Kebrutalan Tahun 1945

Bagaimana dengan Indonesia?


Westerling atau Letnan Tentara Belanda dalam peristiwa Galung-Galung memang tidak pernah dihukum atas kejahatan perang mereka, karena generasi pemerintah Belanda yang lalu punya sikap yang beda. Satu dekade terakhir setidaknya generasi pemerintahan Perdana Menteri Mark Rutte masih mau menerima kenyataan bahwa pada masa lampau negaranya pernah berbuat salah.

Dalam Diskusi Terbatas bertema Konflik Indonesia-Belanda (1945-1949) dalam Pandangan Generasi Terkini di Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jakarta, pada 15 April 2017, di mana film dokumenter Hoe Nederland Met Zijn Geschiedenis Omgaat diputar. Kebanyakan para peserta diskusi tampak kurang ingin mencari tahu apakah ada pelanggaran HAM juga yang dilakukan orang-orang Indonesia terhadap bangsa lain khususnya Belanda.

Dalam diskusi terbatas tersebut, pembicara Marjolein van Pagee bercerita soal kakeknya yang tentara Belanda di Jawa Timur di masa revolusi. Kakeknya tutup mulut akan pengalamannnya di Jawa Timur kepadanya. Dia termasuk segelintir orang yang terbuka menerima kelamnya sejarah Belanda. Saat ini Marjolein adalah jurnalis dan mahasiswa pascasarjana Universitas Leiden, dia berniat menggandeng orang-orang Indonesia-Belanda bersama-sama dalam damai dalam Histori-Bersama.

Menurut Marjolein, “secara umum sejarah kolonial tidak begitu diingat. Ketika kau di jalan dan sekedar bertanya kepada orang, mereka tidak tahu terlalu banyak tentang sejarah Belanda di Indonesia. Mereka tahu Bali, tapi mungkin mereka tidak tahu tentang sejarah kekerasan dalam invasi Belanda ke pulau itu.” Lebih banyak orang tidak tahu soal sejarah hubungan Indonesia Belanda.

Pembicara lain Hendi Jo bercerita pengalaman masa kecilnya bermain perang-perangan, kebanyakan anak-anak kecil usia SD enggan untuk berperan jadi tentara Belanda. Meski senjata dan seragamnya lebih bagus. Kebanyakan hanya mau jadi pejuang Republik.

Dalam imajinasi anak Indonesia, orang-orang Belanda itu jahat. Namun, ketika SMP, Hendi mulai berkenalan dengan tokoh Belanda baik hati yang menolong perjuangan Indonesia. Salah satu adalah Douwes Dekker Danudirja Setiabudi. Hendi juga mulai berkenalan dengan sosok Princen—salah satu pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang sering lebih peka pada derita orang Indonesia terpinggirkan dibanding kebanyakan orang Indonesia.

“Orang Indonesia secara keseluruhan harus mulai belajar memilah Belanda sebagai entitas politik dan Belanda sebagai sekumpulan manusia biasa yang pasti memiliki sisi baik pula, pada dasarnya apa yang terjadi di Indonesia selama 1945 1949 adalah ulah para politisi mereka yang kapitalistik dan masih mempertahankan nafsu imperialismenya,” kata Hendi Jo yang sudah menulis beberapa buku sejarah ini.

Peserta diskusi yang diberi kesempatan untuk bertanya atau berpendapat hanya berputar bicara soal Perang Kemerdekaan secara umum, tanpa mau menggali adakah pelanggaran HAM oleh pihak Indonesia kepada Belanda atau yang lainnya. Sampai muncul pemuda ramping bernama Benny Rusmawan.

“Sudah siapkah kita sebagai bangsa jika jujur pada sejarah, bahwa bukan hanya Belanda yang melakukan tindak kejahatan perang. Tapi juga bangsa kita baik laskar atau TNI?”

Beberapa orang tua yang jadi peserta diskusi juga tampak melotot. Untung hari makin siang dan jelang makan siang pula dan diskusi cepat berakhir adem.

Pemuda sekaligus pemerhati sejarah dari komunitas Front Bekasi ini, juga menyebut soal pembantaian tawanan Jepang yang hendak dipulangkan ke negerinya pada 19 Oktober 1945 dan juga pembunuhan 26 tentara Inggris yang pesawatnya jatuh di Rawa Gatel pada 23 November 1945.

Peristiwa pembantaian tentara Inggris di Bekasi, yang disebut Benny, setidaknya disebut juga dalam buku Citra Daerah Kabupaten Bekasi Dalam Arsip 1900-1945 (2014). Setelah pembantaian itu, Militer Inggris mengamuk. Pada 24 November 1945, Bekasi disatroni tentara Inggris. Pemukiman penduduk sekitar Tambun, Cikarang, Lemah Abang, hingga Karawang pun dibakar.

Tak hanya yang diteliti Benny di sekitar Bekasi. Di Depok pun, ketika periode yang disebut 'Masa Bersiap' terjadi hal serupa. Warga di Bekasi yang jadi korban militer, maka di Depok adalah orang-orang sipil yang dicap Belanda.
Setidaknya, buku Gedoran Depok (2011) yang ditulis Wenri Wanhar, menyebut setelah diserbu orang Indonesia yang 'gelap mata' dan sangat dendam pada Belanda, pada 11 Oktober 1945, orang-orang Depok itu ditawan dan harta benda mereka dirampas. Hal itu dilakukan atas nama revolusi.

Jangankan kepada orang-orang Jepang-Belanda-Inggris yang dicap penjajah, kepada sesama orang Indonesia pun tak kalah kejam. Setidaknya Amir Hamzah terbunuh sebagai korban kegilaan Revolusi Sosial di Sumatera Timur.
Bahkan Otto Iskandardinata juga korban laskar. Kehitaman revolusi Indonesia ini nyaris tak disinggung dalam pelajaran sejarah di sekolah. Pelajaran sejarah di sekolah lebih suka menjadikan Belanda sebagai penjahat. Sudah pasti, jujur pada sejarah adalah barang mewah di Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Suhendra