Menuju konten utama

Hasil PCR WNA Kontak Erat Hantavirus Kapal Pesiar: Negatif

Meski sampel serum hingga air liur negatif, otoritas medis tetap pantau intensif kondisi pasien kontak erat Hantavirus kapal pesiar MV Hondius.

Hasil PCR WNA Kontak Erat Hantavirus Kapal Pesiar: Negatif
Pemandangan kapal pesiar MV Hondius dari udara, yang membawa penumpang yang diduga terinfeksi hantavirus, saat bersiap meninggalkan Praia, Tanjung Verde, 6 Mei 2026. REUTERS/Danilson Sequeira/File Photo
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi bahwa seorang warga negara asing (WNA) di Jakarta yang menjadi kontak erat kasus hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius dinyatakan negatif berdasarkan hasil uji laboratorium PCR. Meski sampel serum hingga air liur menunjukkan hasil negatif, pihak otoritas medis tetap melakukan pemantauan intensif di RSPI Sulianti Saroso untuk memastikan kondisi pasien tetap stabil.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan WNA tersebut merupakan kontak erat dari salah satu kasus konfirmasi hantavirus tipe Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) di kapal pesiar MV Hondius.

“Pada tanggal 7 Mei 2026 pukul 21.55 Waktu Indonesia Barat, International Health Regulation (IHR) National Focal Point (NFP) di Inggris menotifikasi ke IHR NFP Indonesia, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) berada di Ditjen P2P, terkait satu orang kontak erat (KE) yang berdomisili di Indonesia,” kata Andi dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara daring, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan kontak erat tersebut merupakan laki-laki warga negara asing berusia 60 tahun yang tinggal di Jakarta Pusat. Orang tersebut sempat melakukan perjalanan bersama salah satu pasien hantavirus dari kapal pesiar itu.

“Kontak erat ini berada dalam satu penerbangan dengan kasus kedua dari Saint Helena ke Johannesburg, Afrika Selatan,” ujar Andi.

Menurut dia, Kemenkes langsung melakukan penyelidikan epidemiologi sehari setelah menerima notifikasi dari otoritas kesehatan Inggris. Andi pun menegaskan hasil pemeriksaan PCR terhadap WNA tersebut menunjukkan hasil negatif hantavirus.

“Pada tanggal 8 Mei (2026) pukul 10.00 WIB berdasarkan notifikasi daripada IHR NFP Inggris tersebut kami Kementerian Kesehatan telah melakukan penyelidikan epidemiologi kepada kontak erat,” katanya.

“Tetapi seperti yang saya sampaikan tadi kita respon cepat, ini hasilnya yang bagus nih kabar baiknya adalah bahwa hasil pemeriksaan PCR tersebut itu negatif hantavirus,” imbuh dia.

Andi mengatakan pemeriksaan dilakukan dengan mengambil lima jenis sampel dari tubuh WNA tersebut, yakni serum darah, urin, air liur, usap tenggorok, serta darah lengkap. Hasil pemeriksaan seluruh sampel itu menunjukkan negatif hantavirus.

Kendati demikian, Kemenkes masih melakukan pemantauan terhadap WNA tersebut di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso. Ia mengatakan kondisi WNA tersebut saat ini dalam keadaan sehat dan tidak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.

“Kondisi pasien sehat, beliau ini kalau kita lihat dari foto-foto yang ada maupun video itu beliau itu bermain HP menggunakan HP dan tidak ada gejala-gejala yang mengkhawatirkan begitu,” kata dia.

Penularan Hantavirus Antarmanusia di Indonesia Belum Terbukti

Dalam kesempatan yang sama, Andi menyatakan hingga kini belum ada bukti penularan antarmanusia untuk kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia. Dia menegaskan jenis hantavirus yang selama ini ditemukan di Indonesia berbeda dengan tipe yang menyebabkan klaster kasus di kapal pesiar MV Hondius.

Andi mengatakan penularan antarmanusia hanya pernah dilaporkan secara terbatas pada tipe HPS di Amerika Selatan. “Kemudian, penularan antar manusia jarang sekali terjadi, dilaporkan terbatas hanya pada tipe HPS di Amerika Selatan, itu pun dalam konteks kontak intens dan jangka panjang,” ucap Andi.

Ia menjelaskan tipe HPS berbeda dengan hantavirus yang selama ini ditemukan di Indonesia. Menurut dia, kasus di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Andi mengatakan penularan antarmanusia pada tipe HPS pernah diteliti dalam kasus Andes virus di Argentina.

“Tipe HPS tersebar di Amerika, terutama Amerika Selatan, dan belum dilaporkan di Indonesia baik pada manusia maupun tikus,” ujarnya.

“Kalau tipe HPS Andes virus yang terjadi di Amerika Selatan, itu ada penelitian oleh Martinez tahun 2005 di Argentina menunjukkan bahwa transmisi antar manusia yang disebabkan oleh Andes virus yang terjadi di kapal pesiar Hondius tersebut disebabkan oleh Andes virus dan dapat terjadi penularan terbatas pada kontak intens dan berkepanjangan,” jelasnya.

Namun, ia menegaskan kondisi tersebut belum pernah ditemukan pada tipe HFRS di Asia maupun Indonesia. Adapun HFRS disebut sudah ada di Indonesia sejak tahun 1991. Ia menjelaskan penularan hantavirus di Indonesia umumnya terjadi melalui kontak dengan tikus atau paparan kotoran dan cairan tubuh hewan tersebut.

“Tetapi saya perlu sampaikan di sini bahwa untuk tipe HFRS yang terjadi di Asia maupun Eropa, termasuk yang sudah ada kasusnya sejak tahun 91 di Indonesia, itu belum ada bukti terjadi penularan antarmanusia,” ucap dia.

Menurut Andi, faktor risiko utama penyakit ini berkaitan dengan lingkungan yang memiliki populasi tikus tinggi, termasuk area banjir, tempat pembuangan sampah, hingga bangunan terbengkalai.

Kemenkes juga mencatat terdapat 23 kasus hantavirus tipe HFRS di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2026. Rinciannya, satu kasus pada 2024, 17 kasus pada 2025, dan lima kasus pada 2026.

Baca juga artikel terkait HANTAVIRUS atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Siti Fatimah