Menuju konten utama

Apakah Hantavirus Akan Jadi Pandemi Seperti Covid-19?

Penjelasan soal hantavirus yang merebak dari kapal pesiar MV Hondius. Apakah virus ini berpotensi menyebar jadi pandemi seperti Covid-19?

Apakah Hantavirus Akan Jadi Pandemi Seperti Covid-19?
Seseorang yang mengenakan pakaian pelindung bahan berbahaya (2R) dikawal ke ambulans dari pesawat medis yang diduga membawa beberapa penumpang dari kapal pesiar MV Hondius yang diyakini terinfeksi hantavirus, di bandara Schiphol dekat Amsterdam pada 6 Mei 2026. Sebuah pesawat yang berangkat dari Tanjung Verde setelah evakuasi kapal pesiar yang terkena hantavirus mendarat di Kepulauan Canary Spanyol pada 6 Mei, sementara penerbangan kedua menuju Belanda. AFP/oleh Lina Selg
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Setelah wabah hantavirus terjadi di sebuah kapal pesiar bernama MV Hondius, masyarakat mulai khawatir apakah ini akan menjadi pandemi selanjutnya seperti saat Covid-19? Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan jawaban mereka atas kekhawatiran itu.

Hantavirus menjadi bayang-bayang baru bagi masyarakat saat ini. Setelah berhasil lepas dari pandemi Covid-19, munculnya hantavirus yang menjadi wabah di sebuah kapal pesiar membuat ketakutan akan new pancemic berkembang.

Apalagi dalam klaster kapal MV Hondius, dari delapan kasus yang terdeteksi oleh WHO, 3 di antaranya kehilangan nyawa.

Apakah Hantavirus Akan Jadi Pandemi Seperti Covid-19?

Sadar akan kekhawatiran yang meluas, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa risiko bagi masyarakat umum terhadap hantavirus masih sangat rendah.

Dalam konferensi pers pada Kamis (7/5), Direktur Penanganan Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, secara tegas mengatakan bahwa situasi ini bukan awal dari pandemi baru seperti COVID-19.

Ia menekankan bahwa hantavirus memiliki pola penularan yang sangat berbeda dibandingkan virus pernapasan seperti COVID-19 maupun influenza, sehingga masyarakat tidak perlu panik berlebihan.

"Saya ingin menegaskan di sini. Ini bukan awal dari pandemi COVID," tegas Maria Van Kerkhove seperti dikutip NPR, Kamis (7/5/2026).

"Ini bukan COVID, ini bukan influenza. Penyebarannya sangat, sangat berbeda," lanjutnya.

Menurut data terbaru, hingga saat ini terdapat delapan kasus yang terkait dengan wabah hantavirus di kapal tersebut. Lima kasus telah dipastikan positif melalui pemeriksaan laboratorium, sedangkan tiga lainnya masih dalam status dugaan.

Para ahli meyakini bahwa kasus pertama berasal dari seorang pria yang kemungkinan terpapar virus sebelum naik ke kapal pesiar. Bersama istrinya, pria tersebut diketahui sempat melakukan aktivitas pengamatan burung di area tempat pembuangan sampah dekat Ushuaia, Argentina.

Penjelasan ini disampaikan oleh Jeanne Marrazzo dalam konferensi pers. Menurutnya, lokasi tempat pembuangan sampah tersebut diduga menjadi sumber paparan virus karena area seperti itu sering menjadi habitat tikus liar, meskipun teori tersebut masih belum dapat dipastikan sepenuhnya.

“(Dia dan istrinya) sedang mengamati burung — aktivitas yang biasanya tidak dianggap berbahaya — di sebuah tempat pembuangan sampah di luar kota Ushuaia, Argentina.” kata Dr. Jeanne Marrazzo, CEO dari Infectious Diseases Society of America.

Secara umum, manusia tertular hantavirus melalui partikel virus yang berasal dari urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Virus dapat masuk ke tubuh manusia saat partikel tersebut terhirup melalui udara.

Namun, jenis virus yang terlibat dalam kasus ini adalah Andes virus, salah satu varian hantavirus yang sangat langka karena diketahui mampu menular antar manusia.

Hal ini dijelaskan oleh profesor madya klinis kedokteran di Universitas Michigan, Emily Abdoler, yang menyebutkan bahwa Andes virus merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang sejauh ini terbukti dapat menyebar dari manusia ke manusia. Meski demikian, penularannya tetap jauh lebih sulit dibandingkan penyakit seperti COVID-19.

Apa Saja Gejala Hantavirus?

Mengutip laman resmi badan kesehatan AS (CDC), Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS merupakan penyakit serius dan berpotensi mematikan yang menyerang paru-paru manusia akibat infeksi hantavirus.

Penyakit ini biasanya muncul setelah seseorang melakukan kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi, terutama melalui udara yang tercemar partikel urine, kotoran, atau air liur tikus. Gejala HPS umumnya mulai muncul dalam rentang waktu satu hingga delapan minggu setelah paparan.

Gejala awal Hantavirus antara lain:

  • Kelelahan
  • Demam
  • Nyeri otot, terutama pada kelompok otot besar seperti paha, pinggul, punggung, dan terkadang bahu
  • Sekitar setengah dari semua pasien HPS juga mengalami:
  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Menggigil
  • Masalah perut: seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut
  • Setelah empat hingga sepuluh hari sejak gejala pertama muncul, kondisi pasien dapat berkembang menjadi jauh lebih serius, yakni:
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Sesak dada karena paru-paru terisi cairan.
Tingkat kematian penyakit ini tergolong tinggi. Sekitar 38 persen pasien yang sudah mengalami gangguan pernapasan berat dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi penyakit tersebut. Oleh karena itu, HPS dianggap sebagai salah satu bentuk infeksi hantavirus paling mematikan.

Selain menyerang paru-paru, hantavirus juga dapat menyebabkan penyakit lain yang disebut Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS. Penyakit ini terutama menyerang ginjal dan dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem peredaran darah.

Gejalanya biasanya muncul satu hingga dua minggu setelah paparan virus, meskipun pada beberapa kasus bisa memerlukan waktu hingga delapan minggu. HFRS dimulai secara tiba-tiba dengan gejala seperti sakit kepala hebat, nyeri punggung dan perut, demam tinggi, menggigil, mual, serta penglihatan kabur. Sebagian pasien juga mengalami kemerahan pada wajah, iritasi mata, atau ruam pada kulit.

Ketika penyakit berkembang, pasien HFRS dapat mengalami tekanan darah rendah, syok akibat gangguan aliran darah, perdarahan internal, hingga gagal ginjal akut yang menyebabkan penumpukan cairan berlebihan dalam tubuh.

Bagaimana Pencegahan Hantavirus?

Untuk mengurangi risiko terpapar hantavirus, langkah paling penting adalah menghindari kontak dengan hewan pengerat. Rumah, tempat kerja, gudang, atau area perkemahan perlu dijaga agar tidak menjadi sarang tikus.

Lubang dan celah di rumah atau garasi sebaiknya ditutup untuk mencegah tikus masuk. Penggunaan perangkap tikus dan menjaga kebersihan lingkungan juga sangat dianjurkan, terutama dengan menghilangkan sumber makanan yang dapat menarik tikus.

Karena gejala awal hantavirus sangat mirip dengan flu biasa, diagnosis dini sering kali sulit dilakukan. Bahkan, pemeriksaan laboratorium pada 72 jam pertama setelah infeksi terkadang belum mampu mendeteksi virus secara akurat sehingga tes ulang sering diperlukan.

Oleh sebab itu, siapa pun yang mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan kelelahan setelah kemungkinan terpapar tikus atau lingkungan yang tercemar hewan pengerat disarankan segera mencari bantuan medis.

Baca juga artikel terkait HANTAVIRUS atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra